Sebuah tamparan keras kulayangkan ke pipi Sofia yang mulus. Perempuan itu secara spontan menoleh sambil menyentuh pipinya yang memerah setelah terkena tamparanku. Tatapannya begitu tajam, napasnya memburu hingga terdengar di pendengaranku. Ia melayangkan tangannya, hendak menamparku namun kutahan sambil kembali menamparnya dengan sangat keras. Kekesalanku selama ini akhirnya terbayar sudah. Dulu aku diam saja diperlakukan seperti itu, tapi sekarang tidak lagi. Isyana yang sekarang berbeda dengan Isyana yang dulu. Sofia menjambak rambutku hingga membuatku menengadah untuk mengikuti tarikannya. Damien segera melerai pertengkaran kami. Mencekal tangannya dan berusaha melepaskan genggaman tangannya yang menyakiti kepalaku, seakan segenggam rambut itu tercabut dari akarnya. “Jangan merasa

