Aku pulang bersama Caca. Gadis itu membawa perlengkapannya dalam koper besar berwarna merah muda. Ia memilih duduk di samping Andre ketimbang duduk di sebelahku. Caca pasti sudah gila. Baru bertemu Andre dan dia langsung saja suka. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah konyolnya. Sampai rumah, suasana kelam seakan menyelimuti rumah ini. Caca yang ceria seperti Alice yang tersesat di Wonderland. Berjalan sambil memperhatikan isi rumah, sama seperti yang kulakukan pertama kali. “Wow, wow, wow. Kamu tinggal di rumah seperti ini, Kak?” Caca sangat berwarna, tak sepertiku yang seperti hidup di dunia hitam putih. “Ayo ke kamarku!” Aku menarik tangannya menuju lantai dua. Saat di depan kamar, kami bertemu dengan Ronan yang baru saja menutup pintu kamarnya. “Dia siapa?” tanyanya. “

