BAB 8

1015 Kata
Seminggu berlalu, kupikir semua kembali seperti semula. Bahkan aku sudah memutuskan akan kembali pulang. Meskipun aku tidak tahu apakah penyelidikan sudah selesai atau belum. Damien tak menghubungiku soal itu. Ia bahkan seperti hilang ditelan bumi. Aku tinggal di kos Caca hanya malam itu lalu kuputuskan tinggal di café sementara waktu. Buatku ini lebih nyaman daripada mengganggu privasi orang, meskipun aku yakin tak masalah bagi Caca. Meskipun perasaan kosong itu membuatku tak berdaya, Aku tak punya pilihan. Aku belum terbiasa sendirian mungkin selamanya akan terbiasa.  Malam sudah sangat larut televisi kunyalakan volume suaraku keraskan hanya supaya aku merasa tidak sendirian. Aku bermain handphone hanya supaya waktu terbunuh dengan cepat tapi nyatanya tiap detik terasa lama. Kupikir sudah bermain begitu lama ternyata baru beberapa menit saja. Malam ini dan mungkin malam-malam yang lain akan membuatku aku tidak bisa beristirahat dengan baik. Aku yakin aku butuh waktu lama untuk bisa beradaptasi. Tapi apa boleh buat.  Setelah begitu lama aku menunggu, akhirnya pintu terbuka. Caca dan Santika masuk tak lama kemudian Raka menyusul. Aku bisa bernafas lega. *** “Melamun lagi.” Caca duduk di hadapanku sambil meletakkan kopi latte di depanku. “Apa begitu kelihatan?” tanyaku. “Menurutmu?” Caca mendecak sambil melihat keluar jendela. Tentu saja itu artinya sangat jelas. Aku menutupi perasaan malu dengan menyeruput kopi latte yang masih mengepulkan asap. “Seharusnya kamu pulang ke rumah ayahmu. Dia orang kaya, harusnya kamu bersyukur.” “Orang kaya sombong yang bahkan tidak bertanggung jawab padaku.” “Mungkin dia sombong, tapi dia mau menerimamu setelah mamamu meninggal. Kupikir sejak dulu ia ingin merawatmu hanya saja mungkin dia tipe suami takut istri.” Aku terkekeh mendengar ucapan Caca sambil mengingat seperti apa Herdy kala itu. Lelaki itu bukan tipe lelaki takut istri, aku bahkan tak tahu mengapa ia tak pernah mendatangiku dan menunggu sampai mama meninggal baru berani mendekatiku. “Kamu bisa shopping sepuasnya dan bisa menuntut apapun yang kamu inginkan. Andai aku yang jadi kamu, tentu saja aku akan meminta mobil mewah dan keliling dunia.” Caca mulai halu. Andai bisa semudah itu tentu saja aku senang sekali. Kenyataannya, keluarga Herdy seperti sebuah maze yang bisa membuatmu tersesat. Tidak hanya rumahnya yang besar bak istana, yang bisa membuatmu bingung saat ada di dalamnya. Orang-orangnya pun aneh dan sangat misterius. Mungkin aku terlalu berlebihan tetapi wajah-wajah mereka saat itu masih tergambar jelas. tatapan-tatapan syarat makna yang membuatku bergidik ngeri saat membayangkannya. “Lebih baik seperti ini saja,” gumamku. Aku hanya ingin hidup sederhana seperti sekarang, tanpa beban yang berarti. “Mbak Isyana, ada tamu.” Santika membuatku memandangnya. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri dan Caca sampai aku tak menyadari kehadiran Herdy. Lelaki itu memakai setelan jas tanpa dasi, berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Caca segera berdiri dan meninggalkan kami berdua. Suasana ini tentu saja membuatku canggung. Seperti saat-saat kemarin, saat ini pun aku belum siap berhadapan dengan orang yang seharusnya berarti dalam hidupku. “Kenapa kamu tidak mau pulang.” Itu bukan sebuah pertanyaan tetapi sebuah pernyataan yang membuat emosiku segera melesat naik. “Aku tinggal disini, aku yakin anda mengetahuinya.” Aku masih ingat bagaimana ia memiliki beribu-ribu fotoku. Aku yakin dia juga mengirim orang untuk mengawasiku. Herdy diam, hanya memandangku tanpa ekspresi. Aku membuang muka, tak ingin terlalu lama melihat wajah orang yang tak pernah kuinginkan kehadirannya. “Aku tahu kamu marah. Aku punya alasan kenapa selama ini aku tidak menemuimu,” ucapannya kali ini membuatku menatapnya. “Ini semua demi keselamatanmu,” ungkapnya. Keselamatan apa yang ia maksud? Siapa dia sampai keselamatanku terancam jika kami bertemu. Ataukah ucapan Caca benar, bahwa Herdy takut istrinya membunuhku. Apakah itu artinya istrinya pembunuh mama. “Aku yakin kamu tidak akan mempercayainya, tapi semua itu benar.” “Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya. Saya bisa menjaga diri saya sendiri,” tukasku dingin. “Isyana, maafkan papa. Selama ini kamu tak pernah tahu seberapa berat papa harus menanggung kesedihan karena merindukanmu.” Aku tidak percaya akhirnya ia mengatakan kata-kata serupa rayuan p****************g. Dimana Herdy yang dua minggu lalu kutemui. Apakah dia memiliki dua karakter berbeda? “Tolong jelaskan sebenarnya apa yang terjadi pada mamaku? Aku tahu kematian mama tidak alami … maksudku, ada orang yang membunuh mama walaupun hasil penyelidikan tidak demikian. Tapi jika berurusan dengan orang seperti anda … saya yakin apapun bisa saja terjadi.” Wajah Herdy seketika menegang dan rahangnya mengeras. Tapi pertanyaan besar itu membutuhkan jawaban. Aku tidak tahu bagaimana cara menyelidiki sesuatu dan bagaimana membaca petunjuk, jadi bertanya pada orang yang berhubungan dengan mama adalah salah satu cara termudah. “Ini semua salah papa,” desahnya. “Jadi benar mamaku dibunuh?” “Tidak … tidak seperti itu. Mamamu kena serangan jantung, persis sama seperti yang diberitahu polisi.” Aku meletakkan punggung di sandaran kursi. Tak mudah mengorek informasi apalagi untuk hal sebesar itu. “Apa yang kamu inginkan dariku?” “Tentu saja menjagamu dan memperbaiki hubungan kita.” Hubungan kita saja tidak pernah ada sebelumnya, jadi apa yang perlu diperbaiki? “Jika anda ingin memperbaiki hubungan kita. Lebih baik kita tidak berhubungan seperti sebelumnya.” Ini lebih baik daripada aku harus dipusingkan dengan orang yang menyebut dirinya papa yang alpa dari tanggung jawabnya. Herdy mendesah, beberapa lama ia memandangku dengan tatapan yang sulit kuterka. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kartu hitam lalu ia letakkan di meja. “Kumohon pertimbangkan keputusanmu. Papa tak bisa membiarkanmu sendirian di luar seperti sekarang. Terlalu berbahaya,” “Bukankah anda mengirim seseorang mengawasi saya. Lakukan saja seperti itu sampai anda merasa tenang. Anda tak perlu membawa gangguan ke rumah anda,” tandasku. Matanya membulat setelah mendengar ucapanku, tapi aku benar adanya. Kehadiranku akan mengganggu kehidupan rumah tangganya. Aku tak ingin itu terjadi, bukan demi kehidupannya tetapi demi ketenanganku sendiri. “Gunakan kartu itu sesukamu. Itu unlimited, tidak ada batasan. Mamamu dulu juga memilikinya, sekarang karena mamamu telah pergi. Kamu bisa membeli semua kebutuhanmu sendiri dengan kartu itu.” Herdy berdiri, beberapa saat mata kami bersibobrok. Ia melangkah pergi dengan langkah gontai. Aku hanya melihat sosoknya sampai akhirnnya menghilang setelah pintu kembali tertutup. Kartu hitam itu ia tinggalkan begitu saja. Kartu unlimited yang hanya dimiliki orang-orang kaya, itu saja aku ketahui dari berita yang pernah kutonton. Aku mengambil kartu itu, membaca namaku ada disana. Apakah ini sebuah petunjuk yang bisa membawaku pada penemuan soal mengapa mama terbunuh? Aku menggenggam kartu itu dan segera mendekati meja kasir. Mengambil tas dan memutuskan untuk mencari tahu. Aku berjalan menyusuri trotoar tanpa tahu kemana aku harus melangkah. Aku terlalu kalut sampai tak bisa berpikir jernih. Aku harus mencari tahu apa saja yang tidak kuketahui selama ini. Itu artinya aku harus menerima tawaran Herdy demi mendapatkan kejelasan atas semuanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN