BAB 7

1124 Kata
Masuk café, Caca, Raka dan Santika menyambutku. Caca bahkan memelukku sambil melompat-lompat seperti kelinci. “Selamat datang, Bos.” Raka menepuk pundakku. Lelaki seumuranku ini selalu tahu bagaimana membuatku merasa nyaman, bahkan dengan cara sekecil itu. “Thank you,” ucapku. “Ayo kita kumpulkan uang sebanyak mungkin.” Santika mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Penuh semangat seperti biasanya. “Bantu aku gaes. Tanpa kalian, aku takkan bisa apa-apa.” Suaraku lemah, mataku berkaca-kaca. “Isyana, jangan sedih. Meski tanpa Ibu, kita semua akan terus bersamamu.” Caca mencubit pipiku. "Aku tahu, terima kasih sudah menyemangatiku, Caca."  "Aku pernah merasakan yang kamu rasakan. Maksudku, waktu nenekku meninggal aku juga sangat terpukul. berhari-hari aku tak selera makan sampai mama dan papa khawatir. Tapi waktu akhirnya membuatku sadar kalau aku tak bisa berlarut-larut. Jadi aku taman rekreasi untuk menghibur diriku." Caca menerawang, mengingat masa lalu yang juga menyedihkan. "Kalau kamu mau, aku bisa menemanimu main. Bagaimana kalau ke Bali atau ke Malang deh yang dekat. Kita bisa disana beberapa hari untuk bersenang-senang." Gadis itu tertawa ceria.  Dunia pasti selalu tampak indah untuknya. Selama bekerja di cafe ini, tak pernah sekalipun aku melihatnya bersedih atau susah. Meskipun tinggal di kos sendiri, tapi ia sangat menikmatinya.  Aku memeluknya erat, mencari kenyamanan dari dirinya. Hanya tiga orang ini yang bisa kuharapkan. “Sudah-sudah. Ayo bekerja. Kita besarkan café kita bersama-sama.” Aku mendorong Caca dan menepuk pantatnya. Gadis itu terkekeh sambil mengusap pantatnya yang bulat. *** Café Smile, nama café yang didirikan mama lima tahun yang lalu. Berada di tengah kota, diantara kantor-kantor yang berdiri megah. Membuat banyak pelanggan datang sekedar membeli kopi, cake atau sekedar nongkrong untuk menghabiskan waktu istirahat. Suasana yang cozy dan homey dihadirkan. Tak lupa interior bahkan exterior instagramable yang membuat banyak orang suka memposting foto mereka di social media. Hal ini tentu saja membuat kepercayaan diriku tumbuh. Biarlah harta di rumah hilang, aku bisa mencarinya lagi dari sini. “Ngomong-ngomong, siapa dia?” tanya Caca saat aku duduk di belakang meja kasir. “Dia?” “Cowok yang mengantarmu pakai CBR. Dan kamu ngapain bawa tas segede itu, mau pindahan?” cecarnya. Aku memandang tas besar yang teronggok di bawah meja kasir. Memandang Caca beberapa saat sebelum menceritakan apa yang terjadi padaku beberapa waktu lalu. “Oh Tuhan, bagaimana bisa.” Reaksi itu yang pertama kali muncul. Caca bahkan menangis keras setelah tahu apa yang telah kualami. Tentu saja tak semua kuceritakan padanya. Hanya tentang rumah yang kemalingan yang membuatku tak berani tinggal di rumah sementara waktu. Hanya informasi itu yang bisa kubagi padanya. Sementara tentang Herdy, Tobias dan yang lain, bahkan tentang kecurigaan kematian mama, biarlah untuk sementara menjadi rahasia. “Tenang saja. Kamu bisa tinggal di kosku selama yang kamu mau. Aku malah senang ada teman sekamar.” Caca selalu tahu bagaimana membuatku lega. Pintu terbuka dan Damien masuk café sambil memandangku. Sebuah kejutan yang tak disangka-sangka. “Selamat datang,” sapa Caca dengan ramah. “Hai,” sapaku. “Kopi hitam,” pesannya kepada Caca namun tatapannya tertuju padaku. “Apa kantormu di dekat sini?” tanyaku penasaran. Damien tidak menjawab, ia justru menyerahkan selembar uang lima puluh ribu kepadaku. Lelaki aneh itu membuatku canggung, padahal kupikir hubungan kami lebih baik semalam. Tapi apa yang bisa kuharapkan dari orang baru sepertinya. “Pak Herdy memintamu pulang. Sebaiknya turuti perintahnya. Itu yang terbaik untukmu saat ini,” katanya. Aku mendecih, tak menyangka ia justru membahas hal itu disini. “Ini kembaliannya.” Aku tak ingin pembahasan soal Herdy berlarut-larut. Kuharap Damien segera meninggalkanku dan tak lagi ikut campur urusanku. “Kamu tidak aman sampai orang yang ingin mencelakaimu tertangkap.” “Urusi saja urusanmu,” ketusku. Mulut Damien merapat dan rahangnya mengeras. Tatapannya tajam seolah sedang memarahiku. “Apa kau bisa silat, karate, taekwondo atau satu jenis bela diri lainnya?” Pertanyaan apa itu? Alisku terangkat setelah mendengar pertanyaan yang terlalu random. “Tidak?” terkanya dan memang benar aku tak bisa satu jenis bela diri apapun. “Kenapa?” tanyaku, penasaran apa hubungannya denganku. “Sebaiknya mulai sekarang kamu berlatih. Aku bisa melatihmu kalau kamu mau.” Alisku bertaut, mencoba mencerna maksud dari ucapannya. Aku tahu kondisiku berbahaya dan memang benar ada orang yang mungkin ingin menerorku, tapi aku tak yakin ada orang yang ingin mencoba membunuhku. “Tidak-tidak. Jangan terlalu berlebihan. Maksudku….” “Kamu belum tahu situasimu. Jangan sampai menyesal, Isyana.” Damien berusaha meyakinkanku, membuatku terdiam beberapa saat sebelum berkedip beberapa kali. “Terimakasih, tapi aku tidak butuh bantuanmu.” Kucoba meyakinkannya, membuatku merasa tak enak hati setelah melihat ekspresi kecewa muncul di wajahnya. Damien pun akhirnya pergi dan miss kepo memandangku tanpa berkedip. “Siapa lagi dia?” Caca memandang Damien yang keluar dan berjalan ke arah kiri. “Kenalanku.” Aku bangkit dan meninggalkan Caca yang harus sibuk melayani pelanggan yang baru saja datang. *** Jam sembilan tiga puluh malam, Tobias datang menjemputku. Aku, Raka dan Santika sibuk membereskan café sementara Caca sibuk mencuci gelas di belakang. “Aku pulang jam sepuluh. Kamu terlalu cepat tiga puluh menit,” ucapku kepada Tobias. “Tidak apa-apa. Aku punya banyak waktu,” ucapnya. Tobias mengedarkan pandangan ke seluruh café lalu memutuskan duduk di meja pojok dekat jendela. Santika dan Raka saling berpandangan sebelum akhirnya memandangku seolah sedang menanyakan siapa Tobias. Aku tak peduli dan melanjutkan menumpuk kursi di atas meja. Caca keluar dan seketika mematung setelah melihat Tobias yang kini memandangnya sambil tersenyum. Lelaki itu memiliki charisma tersendiri saat tersenyum apalagi jika satu kakinya menumpang di kaki yang lain seperti sekarang. Perawakannya yang tinggi dan ideal membuatnya tampak seperti model iklan. “Hai, anda…” Tanpa malu-malu Caca mendekati Tobias. “Aku Tobias. Kakaknya.” Tobias menunjukku, membuat Caca menoleh kepadaku. “Aku tidak pernah tahu kalau Isyana punya kakak.” “Kakak tiri, beda ibu.” Tobias terlalu blak-blakan. Caca ber-oh ria. Alisnya bertaut terkesan marah meski senyum masih tampak di wajahnya. Aku tahu ia membutuhkan penjelasan soal ini. *** Jam sepuluh tepat, aku mengunci pintu toko. Berjalan bersama Caca yang siap menerimaku di kamar kosnya yang kecil. Tobias berjalan di sebelahku. Kami bertiga menyusuri trotoar yang mulai sepi. Kos Caca tak jauh dari café, berada di sebuah gang yang tak jauh dari jalan raya. Tobias terpaksa meninggalkan Fortuner di parkiran café karena tak mungkin bisa menembus gang-gang kelinci yang harus kami lewati. “Apa kau yakin tak mau tinggal di rumah Papa?” tanya Tobias membuat Caca menatapku dengan mata terbelalak. “Nanti di kos aku ceritakan semuanya,” ucapku pelan. “Tidak. Aku tidak akan bisa nyaman tinggal disana,” terangku. “Ada aku. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita di kapal yang sama, aku sudah mengatakannya.” Kapal yang sama dengan tujuan yang berbeda. Jangan mudah percaya dengan orang yang tiba-tiba baik tanpa ada imbalan yang mungkin ia harapkan. Beruntung tak lama kemudian kami sudah tiba di kos Caca. Tobias hanya bisa melihatku dan Caca masuk kamar tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku pun meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku tak ingin berlama-lama dengan orang yang berhubungan dengan Herdy. Aku belum siap menghadapi segalanya. *** Tinggal di kos Caca memang ide yang baik, tapi aku tak bisa berlama-lama tinggal disana. Semalaman aku tak bisa tidur, memikirkan langkah apa yang harus kuambil. Aku belum berani tinggal di rumah sendiri apalagi mengingat ucapan Damien soal orang yang mungkin ingin mencelakaiku. Aku juga belum bisa menyewa kamar kos sebelum mendapatkan gajiku bulan depan. Aku juga tidak berani mengacak-acak keuangan café untuk keperluan pribadi. Rumah Herdy sudah jelas tidak akan mungkin. Kehidupanku mengapa semakin lama semakin berat. Apa yang akan terjadi padaku setelah ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN