Malam itu juga aku meminta untuk segera meninggalkan Bali menuju Surabaya. Tak peduli harus berkendara selama berjam-jam, itu lebih baik daripada aku harus tetap bertahan di Bali sampai besok sore. Bu Putu menahan kepergianku karena malam memang sudah sangat larut, tapi aku tak bisa menundanya lagi. Perasaanku menjadi tak enak setelah melihat semuanya. Sepanjang perjalanan, mataku tak bisa terpejam. Pikiranku hanya pada satu orang yang sangat ingin kulindungi. Gawaiku bergetar, membuatku segera mengangkatnya karena kutahu hanya Tobias yang mengetahui nomer ini. Setelah beberapa jam, kami sampai di pelabuhan lalu mobil perlahan naik kapal. Aku dan Caca keluar mobil menuju ruang “Kata Bu Putu kamu pulang sekarang?” tanyanya begitu aku mengangkat telepon. “Aku nggak bisa disana lama-lam

