Berada dalam pesawat untuk kedua kalinya, kecemasanku tak lagi soal ketinggian dan guncangan yang sesekali terasa. Pikiranku terlalu fokus pada harapan kalau memory card itu berisi bukti-bukti kejahatan Ilana. “Kak, bagaimana bisa papamu menyembunyikan kotak itu di rumah? Kalau itu barang penting, kan bisa disimpan di bank atau di tempat lain selain rumah. Apalagi kalau ia tahu musuhnya ada di rumah itu.” Caca mulai melakukan penyelidikan lagi. Sejak aku meminta bantuannya, tak ada yang ia bahas selain kecurigaannya dan Andre tentu saja. “Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, Caca?” tanyaku dengan enggan. “Kurasa bukan papamu yang menyimpan kotak itu. Bisa saja Ilana atau Ronan, secara dia yang menunjukkannya padamu.” Caca mendekatkan mulutnya di telingaku, seakan pembahasan ini ak

