Melihat Tobias dengan alat bantu kehidupan, tak ada yang bisa kulakukan selain meneteskan air mata sambil memegang tangannya erat. Perasaan sayang yang besar kini benar-benar terasa saat ia tak berdaya. “Tobias, jangan tinggalkan aku! Jangan pergi dariku! Kumohon!” rintihku dengan suara serak. Kepalanya diperban. Punggung tangan kanan dan tangan kirinya terdapat jarum infus yang terhubung ke tiang. Kantong infus di sebelah kanan dan kantong berisi cairan yang berwarna merah muda. Dokter mengatakan kalau Tobias mengalami pendarahan otak yang parah. Hanya keajaiban yang bisa membuatnya selamat dan bangun dari komanya. Luka yang begitu parah pasti ia dapat setelah berjuang menyelamatkan diri. Seperti aku yang berusaha selamat dari Ginanjar dan orang-orangnya. Aku menggenggam tangannya

