Membuka mata, semuanya terlihat membingungkan. Aku tidur telungkup dengan badan remuk redam. Semua yang kulihat tampak miring dan itu membuat kepalaku pusing. Sebuah infus menancap di punggung tanganku, tapi aku tidak ingat bagaimana aku dibawa kemari dan mengapa sampai bisa di rumah sakit. Aku berusaha mengingatnya tapi hal itu justru membuat kepalaku semakin pusing. Perlahan nyeri di punggung membuatku menahan napas. Semakin lama rasa sakitnya semakin terasa. Aku bahkan mengepalkan tangan dan rahangku mengeras saat rasa itu benar-benar menyiksa. Setiap tarikan napas adalah rasa sakit yang semakin lama semakin menyakitkan. Aku mencoba mengangkat tangan kananku yang berhias jarum infus. Tanganku bergetar hebat dan otot-ototku seakan terpaksa melakukannya. Aku mendesis dan memejamkan ma

