Aku diseret seperti binatang. Sekuat apapun aku bertahan, badanku tetap terseret dengan cara yang sangat menyakitkan. “LEPASKAN AKU!” Aku berusaha mencekal tangannya, dengan kuku-kuku yang agak panjang, aku mencakarnya. Ia menarik belakang bajuku dan menyeretku melewati jalanan yang terjal dan kerikil yang berserakan. Usahaku tak sia-sia saat bisa terlepas darinya. Tapi tak sampai hitungan detik, dengan mudah ia kembali menangkapku. Ia mencekal kedua tanganku dan menarikku dengan badan telungkup. Setelah bagian belakangku kesakitan, kini badan bagian depan seperti dikelupas pelan-pelan. “BUNUH AKU! BUNUH AKU!” Aku berteriak putus asa. Sungguh ajaib aku bisa tetap hidup dengan rasa sakit seperti ini. Aku menangis lalu tertawa, menertawai takdir yang mempermainkanku sekejam ini. Lel

