Aku didorong masuk mobil seperti barang rongsokan. Didesak dua lelaki besar yang mengapitku, membuat badanku yang memang sakit seperti diringsek dua balok baja raksasa. Aku melihat Tobias berlari ke teras rumah sakit. Napasnya terlihat sangat memburu dan keringat memenuhi dahinya. “TOBIAS!” Aku berusaha keluar dari mobil tapi dua lelaki itu menahan dua lenganku dan memaksaku duduk di tengah mereka. Tiba-tiba aku kesulitan bernapas. Badanku seperti direbus di dalam panci dengan air mendidih. Kepalaku seperti dipukul godam dan otakku serasa keluar dari tempurung dan berceceran di lantai. Bahkan untuk menangis pun aku tak bisa. Mereka bukan orang-orang Damien. Mereka orang suruhan musuh papa. Aku sangat yakin hal itu karena Damien dan anak buahnya tak pernah sekalipun kasar. Mereka hanya

