Sepuluh

1314 Kata
Raihan memang selalu seperti ini! Tanpa dia sadari kepeduliannya pada Raina sering kali melebihi batas dari layaknya rasa peduli antar sahabat. Dan itu harus cepat-cepat ia enyahkan sebelum terlambat.  • • • "Laihan," seorang gadis kecil dengan ciri khas pita merah jambu yang menghiasi rambut lebatnya itu memanggil sahabatnya dengan nada penuh keraguan. "Hm," Anak laki-laki yang namanya dipanggil hanya berdeham acuh karena terlalu sibuk memainkan robot-robotannya. "Kamu main apa? Aina boleh ikut main gak?" Namanya Raina, tapi berhubung dirinya belum mampu melafalkan huruf R dengan jelas, jadi dia menyebut dirinya Aina. Sampai Raihan jadi ikut-ikutan memanggilnya Na atau Aina. "Kamu perempuan mainnya barbie. Bukan robot. Jadi kita gak bisa main bareng." Raihan kecil menyahut cuek. Membuat bibir minimalis Raina mencebik sempurna. Tidak seperti Raina, walaupun mereka seumuran, Raihan sudah lancar mengeja semua huruf. Bahkan sebelum usianya belum genap empat tahun. "Aina pinjam satu dong lobotnya," pinta Raina. "Gak boleh!" seru Raihan tegas. Meskipun mereka berdua akrab dan bisa dibilang bersahabat, tetapi Raihan tidak akan meminjamkan satu pun robot-robotannya pada Raina. Sudah cukup waktu itu Raina rusakkan robot kesayangannya sampai lehernya patah. "Kamu pelit! Aku pinjam sebental." Tangan mungil gadis cilik itu sudah terulur ingin mengambil salah satu robot milik Raihan. Namun cepat-cepat Raihan meraup semua robotnya tanpa sisa, menjauhkannya dari jangkauan tangan Raina. "Aku pinjam," paksa Raina sambil berusaha meraih robot incarannya dari dekapan Raihan. Sampai kemudian siku Raihan tidak sengaja menyenggol sebuah bola yang tadinya dalam keadaan tenang, kini menggelinding semakin jauh. Keduanya seketika saja langsung terfokus pada benda bulat itu yang terus berotasi hingga ke luar pagar rumah Raihan yang saat itu terbuka lebar. Raihan ingin mengejarnya, tetapi dia ragu untuk meninggalkan robot-robotnya bersama Raina. Tiba-tiba saja Raina berdiri sabil berseru semangat, "Aina aja yang ambil!" Anak perempuan itu berlari tanpa peduli keadaan sekitarnya. Karena yang dia pikirkan hanyalah bola milik sahabatnya yang masih saja menghindar darinya. Hingga tepat di tengah-tengah jalan bola itu berhenti. Buru-buru Raina mengambilnya. Akan tetapi, tahu-tahu sebuah sedan hitam melaju dengan kecepatan cukup kencang menghantam tubuh kecil itu sampai bola yang baru saja ia genggam terpental jauh. "BUNDAAA!!!!!" jerit Raihan secara spontan ketika menyaksikan sahabatnya sudah terkulai lemas di aspal yang kasar itu berlumuran darah. Seketika depan rumahnya menjadi ramai orang, berbondong bondong menuntut tanggung jawab pada si pengendara mobil. Seorang wanita yang Raihan kenal dekat sebagai mamanya Raina menangis histeris. Sesegera mungkin Raina dilarikan ke rumah sakit. Nyawanya berhasil tertolong. Tetapi di usianya yang baru menginjak lima tahun, Raina mengalami koma dan menggantungkan hidupnya pada alat bantu napas rumah sakit. Sejak kejadian itu, Raihan kecil jadi sering murung. Menangis tak kenal tempat. Di rumah, di sekolah, di tempat les. Menyesali perbuatannya yang menyebabkan Raina sampai seperti ini. Dan sebagai gantinya, tiap hari bocah laki-laki itu selalu meluangkan waktu untuk menjenguk Raina di rumah sakit. Tapi pernah suatu hari, Raihan tidak diizinkan untuk mengunjungi Raina di rumah sakit oleh mamanya. Membuat bocah cilik itu tak kunjung berhenti merengek. Membujuk mamanya tanpa henti. "Bunda, aku mau ke Aina," rengek Raihan tidak mau mengerti kalau bundanya sedang ada kesibukan lain. "Kemarin kan udah. Besok lagi. Hari ini Bunda lagi banyak kerjaan. Adnan juga lagi rewel terus. Sekarang mending kamu kerjain PR," "PR aku udah selesai, Bun. Aku mau nemenin Aina, kasian dia di rumah sakit sendirian." "Kan udah ada mamanya Raina yang jagain," "Pokoknya aku mau ke Aina!" "Tapi Bunda lagi ada kerjaan," "Yaudah, kalau Bunda gak mau anterin." Anak itu berjalan menghentak-hentakan kakinya. Dengan nekat Raihan pergi ke rumah sakit tempat Raina dirawat, sendirian menaiki sepedanya tanpa sepengetahuan bundanya. *** "Aina, bangun dong. Udahan tidurnya. Biar kita bisa main sama-sama," ucap Raihan pada Raina yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang besi yang tingginya melampaui d**a Raihan. "Tuhan, sembuhkan Aina, aku mohon. Aku janji kalau Aina bangun, aku gak bakal bikin Aina sedih. Gak bakal cuekin Aina. Aku bakal jagain Aina selamanya supaya kejadian ini gak terulang lagi," rangkaian doa beserta janji-janji Raihan panjatkan sembari menangis dengan mata terpejam. Tangan mungilnya terus menggenggam tangan Raina yang lebih mungil erat-erat. "Han," Tiba-tiba saja suara seseorang menyadarkan Raihan dari bayang-bayang masa kecilnya. Sampai Raihan agak tersentak dibuatnya. Raihan melirik spion motornya. Dilihatnya pantulan wajah Gabby yang entah sejak kapan gadis memandangi dirinya secara tak langsung. "Eh, ya? Rumah lo di sebelah mananya?" "Tinggal belok kiri sedikit aja kok," Tepat di depan bangunan megah dengan pagar menjulang tinggi, Raihan menghentikan laju motornya. Membiarkan Gabby turun, kemudian Raihan langsung putar balik menuju kafe tadi, tempat dia meninggalkan Raina tadi. Menghiraukan Gabby yang bahkan belum sempat berterima kasih. "Gue punya janji sama Tuhan untuk jagain dia. Harusnya tadi gue gak sekasar itu sama dia!" omel Raihan pada dirinya sendiri. Dengan pandangan tetap lurus pada ruas jalan yang dilewatinya. Belum sampai di Cafe Rainbow, tiba-tiba saja Raihan berhenti sejenak di bahu jalan. Dari jarak yang cukup jauh, Raihan mampu menangkap sosok Raina sedang menaiki ninja besar milik Aldo, yang bisa Raihan pastikan Aldo akan mengantar Raina pulang. Saat itu pula Raihan merutuki dirinya sendiri. Buat apa dia sampai sekhawatir ini kalau nyatanya Raina sudah aman dengan Aldo? Harusnya dia percayakan saja semuanya pada Aldo. Ah, Raihan memang selalu seperti ini! Tanpa dia sadari kepeduliannya pada Raina sering kali melebihi batas dari layaknya rasa peduli antar sahabat. Dan itu harus cepat-cepat ia enyahkan sebelum terlambat. Tanpa pikir panjang Raihan memutuskan untuk langsung pulang. Lagi pula, masih banyak hal yang mesti Raihan kerjakan daripada harus terus-terusan berurusan dengan sahabat kecilnya yang selalu saja menjadi biang masalah dalam hidupnya. *** "Lo ngapain di situ?" tanya Raihan yang baru saja pulang sekolah saat mendapati Raina tengah berjongkok di samping pagar rumahnya memegang sesuatu di tangannya. Cuaca panas terik begini biasanya orang-orang tidak akan betah berlama-lama di luar. Tapi Raina malah seperti orang berjemur sekarang. Sampai sekitaran wajahnya penuh oleh cucuran keringat yang mengalir deras. Ini anak emang demen panas-panasan kali. b**o! desis Raihan dalam hati. Gadis itu mengangkat kepalanya kemudian berdiri menghadap Raihan. "Lo marah ya sama gue soal semalem? Gue call gak diangkat, chat gue juga gak dibales-bales." Raina tidak tahu sama sekali, kalau Raihan telah memblokir dirinya di Line. Tidak ada reaksi apapun yang Raihan berikan. Cowok itu masih diam di pijakannya menunggu kata apa lagi yang akan Raina ucapkan selanjutnya. "Maafin gue. Gue tau gue salah." Raina terus menunduk. Kalau Raihan lagi marah, Raina memang tidak pernah berani menatap Raihan secara langsung. Raihan menghela napas, menatap gadis yang berdiri di hadapannya. Dengan Raina bersikap seperti ini justru membuat Raihan merasa bersalah padanya. Refleks tangannya terangkat mengusap kepala Raina sampai poni gadis itu berantakan. "Lo gak salah. Harusnya gue yang minta maaf. Maafin gue udah kasar sama lo semalem," katanya seraya mengangkat dagu Raina agar tidak lagi menunduk. "Gue beliin ini buat lo." Raina menyodorkan es krim mangkuk itu pada Raihan yang sengaja dia beli sebagai permintaan maafnya. Sembari tersenyum Raihan mengambil menerima yang Raina sodorkan. Tapi tahu-tahu saja tutup mangkuk itu terbuka. Menumpahkan cairan manis dan kental di dalamnya. "Aih!" Dengan spontan Raihan menghindari kucuran tumpahannya. Namun naas, baju seragamnya sudah terlanjur kena kotor oleh noda cokelat tumpahan es krim yang dia pegang sendiri. Seketika cowok itu mengarahkan pandangannya pada Raina yang menunjukan ekspresi super kaget melihat seragam Raihan yang bagian depannya mendadak berubah warna jadi cokelat. Gadis yang memberi es krim tersebut cuma bisa nyengir kuda ketika matanya bertemu dengan dua mata Raihan yang meniliknya tajam. Menuntut penjelasan kenapa bisa sampai seperti ini. Napas Raihan naik turun layaknya roller coaster di Dufan. "Anu, tadi kan panas, ya. Jadi gue cobain dikit es krimnya." Raina mengelak. Sejenak gadis itu memberi jeda pada ucapannya. "Jangan salahin gue, ya. Siapa suruh lu datengnya ngagetin? Jadi kan gue nutupnya gak kenceng. Karena nutupnya gak rapet, cuacanya panas juga, wajar kalau es krimnya mencair." Selesai bicara panjang, gadis itu langsung terbirit kencang jauh-jauh dari sahabatnya. "AINAAA!!! JANGAN KABUR LO, CUCIIN BAJU GUE DULU SINI!!!" === To be continue... A/n: maafin Raina yang polos-polos ngeselin, b**o, dan gak peka, ya, teman-teman;)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN