Sembilan

830 Kata
Aku ingin ikut berperan penting dalam kebahagiaanmu Raina Anindya Safira _____ "Gue ngajak lo ke sini karena gue emang pengen ungkapin ini semua ke elo." Raihan belum sempat menyahut apa-apa, tapi Raina menyerobot lagi. "Lo mau gak jadi cowok gue?" Detik itu juga jantung Raihan berdetak cepat seperti habis lari marathon 100 km. Masih belum bisa menerima kenyataan kalau barusan sahabat kecilnya itu menyatakan cinta padanya secara terang-tarangan. "Gue serius mau ngomong begitu ke Aldo. Menurut lo gimana, Rai? Tadi gue latihan dulu. Gue anggap lo itu Aldo, hehe." Di saat seperti ini, bisa-bisanya gadis itu tertawa. Dia sama sekali tidak memikirkan dampak dari leluconnya tadi pada Raihan. "Gak lucu." Baru saja Raihan ingin bangkit dari kursinya, tangan Raina menahan. "Lo mau ke mana? Lo marah?" "Berkali-kali gue bilang ke lo, kalau gak semua hal bisa lo jadiin lelucon!" "Atau jangan-jangan lo baper, ya? Ciyee ciyee," Raina meledek seolah-olah hal yang baru saja dia lakukan pada Raihan bukanlah perkara besar. Kalau bukan sahabat, mungkin Raina sudah dilempar sejauh mungkin oleh Raihan sekarang juga. "Baper? Gak, lah! Gue gak baper, tapi laper." Tau-tau cowok itu malah meraih spaghetti di hadapannya, kemudian ia lahap dengan penuh minat. Demi menutupi salah tingkahnya. Juga mukanya yang nampak merah seperti kepiting rebus. Hal itu membuat Raina tertawa geli, sambil bilang, "Oh, pantesan. Laper galak, ntar kenyang b**o, nih." "Iya, gue laper," katanya dengan mulut penuh dengan kunyahan spaghetti. "Itu dia Aldo dateng!" Seruan Raina kontan membuat Raihan tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. "Maaf telat, tadi macet," ucap Aldo seraya mengambil posisi duduk tepat di sebelah Raina. "Lo ajak dia ke sini? Terus lo ngapain ajak gue juga? Biar jadi obat nyamuk?" tanya Raihan dengan nada ketus. Menunjukkan rasa tidak sukanya atas kehadiran Aldo dengan jelas. Masa bodo kalaupun Aldo tiba-tiba menonjoknya karena merasa tidak dihargai, Raihan akan lawan secara jantan. "Eh tenang-tenang, gue ajak Gabby juga kok. Sebentar lagi dia dateng," Panjang umur, belum ada semenit, sosok Gabby berjalan menghampiri meja mereka. "By, sini!" Raina berseru semangat. "Lo duduk sini aja, gue sama Aldo mau pindah meja." "Lho?" Kebingungan Raihan tidak digubris sedikitpun oleh Raina. Membuat ia merasa seperti boneka hidup yang bisa diatur-atur sesuka hati oleh sahabat kecilnya sendiri. Raihan tidak mengerti lagi maksud Raina. Sebenarnya manusia macam apa sahabatnya ini! Yang Raina lakukan padanya benar-benar di luar nalar manusia dan tidakq akan termaafkan olehnya. Raina dan Aldo pindah ke meja lain yang letaknya tidak terlalu jauh dari meja nomor empat. Meninggalkan Raihan dan Gabby yang tengah dilanda kecanggungan yang dahsyat. Line! Dengan cekatan Raihan mengambil ponselnya dari dalam saku jeans-nya. Ainanana: Jangan cuek sama gabby. Siapa tau dia cinta sejati lo Ainanana has blocked Saking kesalnya, tanpa basa-basi lagi Raihan tidak segan-segan memblokir akun Line milik Raina. Ini semua memang rencana Raina. Sengaja. Dia sangat ingin mendekatkan Raihan dan Gabby bahkan sampai mereka resmi berpacaran. Dengan alasan, Raina ingin dirinya ikut berperan penting dalam kebahagiaan sahabatnya. Tetapi, tanpa Raina tau, nyatanya bukan kebahagiaan yang Raihan dapat. Melainkan penderitaan. Dia tidak mungkin mampu memaksa hatinya sendiri untuk memilih seseorang yang tidak ia cintai. Huft Cowok itu menghembuskan napasnya kasar. Sejujurnya ia lelah. Lelah dengan kemauan-kemauan Raina yang semakin ke sini semakin aneh dan tidak bisa ia tolak. "Lo kenapa?" Gabby memberanikan diri untuk bertanya. Raihan hampir lupa kalau di hadapannya masih ada gadis yang duduk memerhatikan setiap gerak-geriknya. "Ehm? Gak apa-apa, ehe." Raihan berusaha tersenyum walau nampak terpaksa. "Oh," Selama mengobrol dengan Gabby, mata Raihan justru tidak berhenti memerhatikan Raina dan Aldo dari mejanya. Mereka berdua nampak nyaman mengobrol bertukar pikiran. Berbanding jauh dengan dia dan Gabby sekarang. Namun sampai saat Aldo memegang tangan Raina, Raihan mulai gerah sendiri. "Bisa gue anter lo pulang sekarang?" tanya Raihan tiba-tiba. "Eh?" Gabby mengecek jam tangannya. Ternyata baru terhitung sepuluh menit sejak dirinya sampai di kafe ini. Tidak heran kalau minumannya pun belum habis. Masih sisa setengah. "Kenapa cepet banget?" "Soalnya gue masih ada urusan," elak Raihan. Sudah jelas Raihan berbohong. Karena alasan sesungguhnya, dia tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini. Menurutnya ini aneh, berdua bersama seorang perempuan di tempat romantis, dan perempuan itu... bukan Raina. Gabby tidak membantah sama sekali. Dia langsung mengeluarkan dompet untuk membayar semua pesanannya. "Gue yang bayar." Raihan menyungut datar. Meletakkan uangnya di atas meja tanpa meminta uang kembaliannya. Tidak sengaja saat Raina menoleh, dia melihat Raihan bangkit dari duduknya yang kemudian disusul Gabby. "Eh, mereka mau ke mana, tuh?" Raina bertanya pada Aldo yang kemudian Aldo hanya menggedikkan bahunya, lantaran dia memang tidak tahu apa-apa. "Gue ke sana dulu, ya." "Lo mau ke mana?" Hanya Gabby yang memberi respon dengan gelengan kecil. Sedangkan Raihan malah berjalan melewati Raina begitu saja. Mengabaikannya. Padahal sudah jelas-jelas dari sorot matanya, pertanyaan itu Raina tujukan pada Raihan bukan pada Gabby. Raina mengejar. "Rai," teriaknya kemudian. Tangannya berhasil meraih lengan Raihan, namun di saat yang bersamaan Raihan menghempaskannya dengan kasar. Hingga Raina terpaku memandangi punggung Raihan yang semakin menjauh. Lo udah kelewatan, Na. Batin Raihan bergumam, kecewa. === To be continue... A/n: jangan lupa vomment yaa:)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN