Delapan

1053 Kata
Gue gak bercanda. Gue suka sama lo! Gue cuma pengen lo tau perasaan gue aja. _____ "Gue curiga, jangan-jangan ini yang buat lo jadi mati rasa sama cewek?" Dirga menyipitkan matanya, menyelidik. "Gue gak mati rasa. Jangan sok tau!" "Ya abis, si Rena yang cantik aja lo cuekin. Padahal dia udah baik banget sama lo. Udah mau dua tahun dia sabar nunggu lo, dari kelas satu, man!" "Udah ah, ngapa jadi ngomongin dia coba." Raihan bukan tipe cowok yang suka dikejar. Jadi kelakuan Rena malah membuatnya makin tidak suka dengan gadis itu. Fyuh Bulu kuduk Raihan mendadak berdiri semua saat merasakan ada seseorang yang meniup tengkuknya. Tetapi ketika ia menoleh, tidak ada siapapun di belakangnya. Suasana kamarnya seketika berubah jadi mencekam. Tambahan, malam ini Adnan bilang akan pulang jam sembilanan. Lantas, ia benar-benar sendirian di rumahnya. Sebisa mungkin Raihan menyingkirkan bayangan-bayangan aneh di kepalanya, dan berusaha untuk memfokuskan pikirannya pada soal-soal yang ada di hadapannya sekarang. Tangannya kembali bergerak, menuliskan susunan jawaban dari soal-soal tersebut. Fyuh Sial. Sekali lagi, dia mengusap tengkuknya. Menengok ke belakang. Lagi-lagi ia tidak mendapati siapapun. Baiklah, mungkin ini hanya perasaannya saja. Cowok itu kembali melanjutkan belajarnya yang sempat tersendat. Cklek Ruangan 10 x 12 itu sedetik kemudian gelap gulita. Raihan berdecak kesal. Kenapa kamarnya jadi horor begini? Jangan-jangan rumah ini dulunya tempat p*********n? Atau ada pembunuhan sekeluarga? Ah, entahlah! Karena lupa di mana ia menaruh ponselnya, terpaksa Raihan harus mencari dengan meraba-raba meja belajarnya seperti orang buta. Saat Raihan berbalik badan, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sosok perempuan yang wajahnya diterangi oleh cahaya senter di bawah dagunya. "Astagfirullah!" Raihan terkejut sambil mengelus-ngelus d**a bidangnya. Kaget. "Lo ngapain, Raina?!" bentaknya spontan. Sejenak cewek mungil itu menyalakan saklar lampu sembari cengengesan. "Kok lo gak takut, sih?" "Setan pendek kayak lo mah apaan yang ditakutin?" Raina mencebikkan mulutnya. Kecewa dengan reaksi Raihan yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. "Lo kapan masuknya? Kok gue gak liat? Dasar demit!" "Gimana mau liat gue, lo aja lagi serius belajar," "Lagian lo ngapain? Pake baju rapi segala," tanyanya aneh. Tidak biasa melihat Raina datang ke rumahnya dengan pakaian rapi. Mengenakan dress merah muda selutut dengan bahu terbuka. Rambutnya diikat setengah, lengkap dengan polesan make up tipis di wajahnya. Cantik. Tanpa sadar Raihan membatin. "Rai, lo ganti baju gih, cepet. Temenin gue," "Ke mana?" "Ke Rainbow Café, tau kan? Yang deket sekolah lo itu," Kening Raihan berkerut, heran. "Jauh amat, ngapain?" "Ra-ha-si-a," sungut Raina terputus-putus. "Yuk, cepet temenin." "Gak mau ah," Raihan kembali duduk seperti semula. Berniat menyelesaikan tugas sekolahnya. "Lho, kenapa?" Gadis itu bertanya seraya duduk di atas meja belajar Raihan. "Pertama, gue ada deadline tugas, kedua gue mesti jagain rumah, ketiga gue mager keluar," tukas Raihan sembari menulis. "Pokoknya lo mesti mau!" "Gak mau!" "Harus mau! Harus mau! Harus mau! Harus mau! Harus mau! Harus mau!" "Ck," decak Raihan merasa terganggu dengan suara cempreng sahabatnya itu yang sukses membuyarkan fokusnya untuk belajar. "Harus mau! Harus mau! Harus m―" Tanpa kompromi dengan gerakan cepat Raihan membekap mulut Raina yang tidak mau diam itu. "Berisik lo. Lagian ngapain sih malem-malem keluyuran gak jelas!" Sekuat tenaga Raina melepaskan bekapan telapak tangan Raihan dari mulutnya. "Malem dari Hongkong! Baru juga jam tujuh. Pokoknya gue gak bakal berhenti maksa lo. Gue sengaja biar lo keberisikan." "Kalau langit udah gelap, berarti udah malem." "Bodo amat! Pokoknya lo harus mau! Harus mau! Harus mau! Harus mau! Harus mau! Harus mau! Harus m―" Raihan membekap mulut Raina lagi. Kali ini ia kerahkan tenaganya agar gadis itu tidak bisa memberontak. Lengkingan suara Raina benar-benar bikin telinganya sakit. Beresiko akan merusak pendengarannya. "Bisa diem gak? Kalau gak bisa gue pulangin lo ke rumah lo!" ancam Raihan. "Aw―" Alih-alih Raina menarik tangan Raihan kuat-kuat, kemudian menggigitnya. Membuat Raihan langsung menjauhkan diri dari Raina. Mengibas-ngibaskan tangannya, kesakitan. Sekilas dia lihat tangannya sampai merah berceplak gigi-gigi Raina. "Gigitan lo rabies, nih," tudingnya. "Siapa suruh bekap-bekap mulut orang? Wlee." Raina menjulurkan lidahnya, meledek. "Ayuklah, cepetan temenin gue. Jangan marah mulu, ntar cepet tua." "Ish," Cowok itu mendesah kesal, membanting bolpoinnya ke atas meja belajarnya. "Yaudah, iya." Akhirnya dia menyerah. Kemenangan mutlak berada pada Raina malam ini. Setelah beberapa menit Raina menunggu di ruang tamu, Raihan keluar dari kamarnya sudah mengenakan pakaian rapi. Dengan kemeja flanel berwarna hijau tua yang digulung sampai siku. Bawahannya celana panjang jeans hitam. Raina melangkah masuk. Alunan lagu Lucky - Jason Mraz terdengar dengan tempo lambat menghiasi suasana Cafe Rainbow yang saat ini cukup ramai pengunjung. Sementara Raihan berjalan cuek di belakangnya dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku jeans-nya. Sudah hampir dua menit, Raihan tidak melakukan apa-apa. Bahkan dia sama sekali tidak berselera melihat hidangan di hadapannya meskipun itu semua dia sendiri yang memesannya. Di sisi lain Raina malah asyik tertawa-tawa sendiri dengan ponselnya. Paling sesekali menyedot jus strawberry kesukaannya. "Kita nunggu siapa, sih?" tanya Raihan yang hampir mati kebosanan. "Hm... sebenernya, gue ngajak lo ke sini karena ada sesuatu yang mau gue omongin." Tiba-tiba mengubah raut wajahnya menjadi serius. Matanya menatap lurus dua manik mata Raihan lurus-lurus. "Tentang apa? Mau ngomong aja pake jauh-jauh segala." "Gue..." Raina diam menunduk ke arah gelas di depannya sambil mengaduk-aduk jusnya pakai sedotan, menggantungkan ucapannya. "gue..." Sikapnya yang seperti ini malah bikin Raihan bingung sekaligus penasaran. "Lo kenapa?" "Gue, gue suka sama lo!" ucapnya tiba-tiba hingga Raihan tekaget-kaget. "Lo salah makan obat?" Cowok itu menyentuh kening Raina untuk memastikan suhu tubuh gadis itu dalam keadaan normal dan baik-baik saja. "Ih." Raina menyingkirkan tangan Raihan dari jidatnya. "Gue gak bercanda. Gue suka sama lo!" tegas Raina sekali lagi. Mendengar apa yang dikatakan Raina barusan, mendadak tenggorokan Raihan seperti tersedak batu kerikil. Matanya membulat tidak percaya. "Gue kira lo sama Aldo―" Belum habis Raihan bicara, Raina memotong, "Iya gue tau ini mendadak banget. Gak ada angin gak ada ujan, tiba-tiba gue bilang suka sama lo. Tapi, gue gak maksa lo buat jadi cowok gue kok. Gue cuma pengen lo tau perasaan gue aja." "Na, lo serius?" "Iya, gue serius. Emang muka gue keliatan lagi main-main?" Raihan menatap wajah Raina lamat-lamat. Bisa dibilang ini kali pertama Raihan melihat raut wajah Raina seserius ini. "Gue ngajak lo ke sini karena gue emang pengen ungkapin ini semua ke elo." Raihan belum sempat menyahut apa-apa, tapi Raina menyerobot lagi. "Lo mau gak jadi cowok gue?" === To be continue... A/n: ikutin terus kisahnya... jangan lupa vomment:)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN