Tujuh

1014 Kata
Jangan terlalu gampang jatuh cinta, jika tidak ingin terluka. -Raihan Tanujaya Putra- _____ Selepas memakai sepatu, Raihan bergegas ke bawah dengan ransel hitam yang menyangkut di pundak kanannya. Alis Raihan tertaut rapat, heran, dan masih tidak menyangka dengan pemandangan yang ada di depannya pagi ini. "Tumben lo nyetrika? Pasti ntar malem ujan gede, nih!" seru Raihan saat melewati Adnan yang sedang serius menyetrika "Diem lo. Jangan banyak bacot," sahut Adnan sambil terus menggerakkan alat panas itu. Raihan meringis geli. "Kapten tempur bisa nyetrika juga?" Kalau lihat Adnan berantem sampai babak belur sih sudah biasa. Anak itu memang pentolan di sekolahnya. Jangankan siswa SMP, siswa SMA saja sudah sering ia habisi. Tapi kalau lihat yang begini, nih, jarang-jarang terjadi! Nyaris tidak pernah malah. Jadi wajar kalau semua terlihat lucu bagi Raihan sebagai abang yang tau betul bagaimana kelakuan Adnan setiap harinya. "Berisik, jing." Adnan menyentak kesal pada abangnya yang terus saja menggoda. Namun tawa Raihan malah semakin geli. Bahkan ketika mulutnya penuh dengan kunyahan roti selaipun, cowok itu masih meringis. Seperti ada sesuatu yang menggelitik di perutnya. "Nah, udah selesai." Adnan mencabut colokan listriknya, lalu melebarkan sejenak seragam sekolahnya yang sudah rapi dan licin. Suara Adnan yang terlalu bersemangat memancing bola mata Raihan untuk melihat ke arahnya. "Widih! Selain jago bikin ulah, ternyata lo juga jago nyetrika, Nan? Baru tau gue. Kalau gitu, selama Bunda belum pulang, baju gue lo aja yang setrikain, ya?" Seketika Adnan meliriknya sewot. "Yee, ogah amat!" "Halah, pelit lo!" Sesudah melahap habis dua lembar roti beserta olesan selai cokelat, Raihan beranjak untuk ke sekolah. Membiarkan Adnan yang belum apa-apa, sendirian di rumah. "Eh k*****t, jangan jalan dulu. Tungguin, gue sendirian!" ujar Adnan menyergah keberangkatan abangnya. "Ogah, kalau nungguin lo yang ada gue telat!" Adnan itu langganan datang telat ke sekolah. Mustahil kalau Raihan akan menunggunya. Meskipun mereka sekolah di Yayasan yang sama, cuma beda gedung. "Jangan lupa kunci pintu, Nan!" pesan Raihan pada adiknya sebelum jalan. Ketika ingin menyalahkan mesin motornya, sorot mata Raihan mendadak berubah menjadi suram. Matanya beradu tajam dengan mata seseorang yang duduk menunggangi ninja merah terparkir di depan rumah Raina. Suasana mencekam di pagi hari itu akhirnya sirna saat Raina keluar bersama mamanya. "Raihan!" Raina memanggil, kemudian melambaikan tangannya semangat sambil tersenyum riang. Tidak peduli walaupun reaksi Raihan terkesan acuh tak acuh. Kemudian berlalu begitu saja. "Yauda, aku jalan dulu ya, Ma." Raina pamit seraya mencium punggung tangan mamanya. "Assalamualaikum," "Sup, Bro! Suram amat muka lo," Dirga, teman seperjuangan Raihan di sekolah. Tangannya langsung nangkring sok asyik di pundak Raihan. "Pagi Raihan, ini gue bawa cokelat buat lo!" Alih-alih cewek berambut badai itu menghalau jalan Raihan. Menyodorkan sekotak cokelat dengan hiasan pita di atasnya. Karena Raihan tidak bereaksi apa-apa, jadinya malah Dirga yang antusias menerima cokelatnya. "Wah, makasih ya! Pasti Raihan suka deh sama cokelat berian kamu," Cewek itu menoleh ke Raihan. Matanya menyorot penuh harap. Iya, berharap Raihan melihat keberadaannya. Sedetik saja, tidak masalah. Anggaplah sebagai penambah semangatnya dalam upaya menaklukan sikap beku Raihan. Tapi nihil, Raihan muak dikejar-kejar seperti ini. Dia lebih memilih melanjutkan langkahnya sambil terus menatap lurus ke depan. Mengabaikan cewek itu untuk ke sekian kalinya. "Rai, tungguin!" Namanya Renata Adipura. Dia hanya salah satu di antara sekian banyak gadis yang mengejar cinta Raihan. Setiap hari ada saja yang ia berikan pada Raihan. Parahnya, semua beriannya selalu saja ditolak. Kalau tidak ditolak, paling juga Dirga yang menerimanya. Dan pemandangan seperti tadi sudah tidak mengherankan lagi bagi seluruh penghuni SMA Bellrings. Asal kalian tahu, diam-diam Raihan itu cowok populer dan paling diminati di sekolahnya. Bukan cuma karena pintar, tapi sikapnya yang dingin dan jarang bicara pada cewek manapun, justru mampu menarik perhatian mereka dan ingin tau lebih soal Raihan. Tanpa Raina tahu, kalau ramalan yang dia baca waktu itu semuanya memang benar! Ketika jam pelajaran sedang berlangsung, bahkan Raihan tidak bisa konsen. Pikirannya masih berkecamuk soal kedekatan Raina dengan Aldo. Ia takut kalau Aldo sama saja seperti cowok Raina sebelumnya. Hanya bersikap manis di awal. Ujung-ujungnya hanya bisa menyakiti Raina. Mempermainkan perasaannya seenak jidat. Sesaat lamunannya membuyar, ketika Dirga terus-terusan menyikutnya sambil berbisik, "Rai, itu dari tadi Pak Anwar ngeliatin lo." "Eh?" Raihan tersentak. "Raihan, coba kamu kerjakan soal nomor tiga di papan," perintah Pak Anwar-guru matematika dengan ciri khas kumis tebalnya-menyodorkan sebuah spidol padanya. Nomor tiga, soal tentang trigonometri. Ini sih sangat mudah bagi Raihan. Tanpa bersuara sedikitpun, cowok itu mampu menyelesaikannya kurang dari semenit. Dan Pak Anwar-pun puas melihat jawaban Raihan. Kriiinggg Dering bel istirahat mendadak mampu memecah keheningan. "Baik, kita sudahi dulu materi minggu ini." Guru senior itu kemudian merapikan perkakas mengajarnya. Bersiap keluar kelas. "Canggih lo! gue yang daritadi nyimak aja gak paham samsek! Gila gila gila," oceh Dirga heboh sendiri saat Raihan sudah duduk kembali di sebelahnya. "Lo-nya aja yang b**o akut," Raihan menyahut sembari meringis. "Btw, lo kenapa sih bengong mulu?" "Raina," "Oh, sahabat lo yang mungil itu? Kenapa lagi dia?" "Gue kesel, dia orangnya gampang banget bilang suka, cinta, dan semacamnya ke cowok. Padahal terakhir kali dia pacaran, dia nangis-nangis ke gue. Cerita, pacarnya selingkuh. Dan tiga minggu dia galau gak jelas. Mogok makan-lah. Ngurung diri di kamarnya-lah." "Sekarang, dia lagi deket sama anak baru di sekolahnya. Nama cowok itu Aldo," "Orangnya gimana?" tanya Dirga memotong. "Pokoknya tipe-tipe Raina gitu. Cowok basket, romantis, menyek-menyek. Tapi gue takutnya dia sama aja kayak cowok Raina sebelumnya. Gue gak mau liat dia kayak dulu lagi. Asal lo tau, butuh waktu lama buat bikin dia ceria lagi kayak sekarang." Dirga khusyuk mendengarkan cerita Raihan di dalam kelas. Merelakan jam istirahatnya begitu saja. Setelah Raihan selesai bercerita, ia menanyakan sesuatu yang sudah sejak lama ingin ia tanyakan. "Lo suka sama dia?" Raihan menoleh cepat. "Suka? Gila aja gue suka sama sahabat kecil gue sendiri," bantahnya. "gue sayang sama dia... sebagai sahabat." Kalimat yang sama dengan yang ia ucapkan kemarin. Kata 'sahabat' mampu menjadi tameng yang kuat untuk menepis segala macam perasaannya pada Raina selama ini. "Gue curiga, jangan-jangan ini yang buat lo jadi mati rasa sama cewek?" Dirga menyipitkan matanya, menyelidik. === To be continue... a/n: Raihan emg mati rasa. Tapi apa iya semua itu karena Raina? Bonus foto Raihan: 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN