Enam

1470 Kata
Dia suka sama lo, belum tentu dia cinta sama lo. Dia cinta sama lo, belum tentu sayang sama lo. Itu artinya, dia yang lo anggap suka atau cinta sama lo, belum tentu bisa jagain lo kalau dia gak sayang sama lo. -Raihan Tanujaya Putra- _____ "SEKARANG JUGA KAMU KELUAR DARI KELAS SAYA!!!" Raina melotot sempurna. Kaget bukan main. "Ta... ta... tapi, Bu--" "Tidak ada tapi-tapi!" sambar Bu Lulu. "Bu--" "Sekarang kamu keluar!!! Atau saya jemur di lapangan?!" Wanita berbadan besar itu melayangkan tangannya, menunjuk ke arah pintu kelas yang masih terbuka sedikit. Tanpa berani membantah lagi, Raina menuruti apa kata Bu Lulu. "Tau begini, mending tadi gue di UKS sama Aldo," rutuknya pelan. Huft Gadis itu berjalan gontai melalui koridor. Meski sempat bingung harus ke mana. Hingga akhirnya ia memilih untuk menghabiskan waktunya di kantin sampai jam Bu Lulu selesai, alias pas bel pulang nanti. Area sekolah sudah sepi. Berkat Bu Lulu, sepertinya cewek berambut sebahu itu menjadi siswa terakhir yang meninggalkan sekolah hari ini. Lantaran tadi, ketika siswa lain membubarkan diri dari kelasnya masing-masing, Raina malah diminta untuk ulangan susulan di ruang guru selama satu jam penuh. Baru saja ia ingin memesan gojek, tiba-tiba terdengar suara mesin motor menyala dari jarak yang sangat dekat. "Lo belom balik?" Seseorang bertanya seraya menaikkan kaca helm-nya. Raina mengangkat kepalanya. Dalam waktu sepersekian detik dia mampu mengenali orang itu, Aldo. "Eh? Ini gue lagi pesen gojek," "Rumah lo di mana?" "Ehm," Mendadak gadis itu jadi salah tingkah sendiri. "ehm, rumah gue di Jalan Arjuna, komplek Mega Mendung." Sejenak Aldo bertanya tidak percaya, "Serius?" Raina mengangguk. "Ayuk, gue anter. Kita searah," ucapnya seraya memberikan helm pada Raina. Meskipun matanya sempat mendelik kaget akibat tawaran Aldo, tetapi ujung-ujungnya Raina mengiyakan. Setelah dia duduk nyaman di belakang, motor itu melaju dengan kecepatan sedang. "Pegangan," kata Aldo, sambil terus fokus pada ruas jalan di hadapannya. Suara Aldo yang terkalahkan oleh deru angin membuat Raina tidak mampu mendengarnya dengan jelas. Hingga dia memajukan kepalanya sedikit, kemudian bertanya, "Apa?" Aldo tidak mengulangi ucapannya, tapi dia langsung meraih tangan Raina, lalu ia letakkan di pinggangnya. Diam-diam cowok itu tersenyum kecil, saat merasakan tangan gadis di belakangnya mendingin dan kaku memegangi pinggangnya. Seusai melewati lima belokan dan dua lampu merah, akhirnya mereka melewati portal Komplek Mega Mendung. Pertanda sudah memasuki area perkomplekan rumah Raina. "Rumah lo yang mana?" tanya Aldo seraya memelankan laju motornya. "Itu, tuh, yang pager biru." Raina mengarahkan telunjuknya ke sebuah bangunan bercat biru muda, sama persis seperti warna cat pagarnya. Setibanya di depan rumah Raina, roda ninja merah itu berhenti berputar. Raina turun dari motor Aldo yang joknya terbilang tinggi. Gadis itu membuka helm yang menyelimuti kepalanya. Lalu ia serahkan pada pemiliknya. "Makasih, udah anterin gue, Do." Sambil menerima helm-nya, Aldo tersenyum. "Iya, sama-sama. Oiya, kenapa tadi pas gue pegang tangan lo dingin banget? Kaku, gitu." "Eh? Masa?" Raina mengusap tengkuknya, malu. Sebab tadi itu sebenarnya dia tegang. Tangannya dingin karena detak jantungnya yang tidak beraturan ketika Aldo memegang tangannya. "Manis?" Aldo melambai-lambaikan tangannya tujuh senti di depan wajah Raina. "Eh?" Gadis itu tersentak. "Ditanya malah bengong," "Oh, itu tadi gue emang lagi panas dingin gara-gara abis ulangan di ruang guru," jawabnya bohong dan terbata-bata. Aldo manggut-manggut mengerti. Selang beberapa detik, Raina mendapati Raihan yang juga baru pulang sekolah, tengah memarkirkan motor di halaman rumahnya. Pagar rumahnya terbuka lebar. Otomatis, pandangannya juga bisa menjangkau keberadaan Raina dan Aldo di seberang sana. Alis Aldo mengerut, ia tidak paham dengan raut wajah cowok asing itu yang menurutnya sulit ditebak. Sementara Raina, ia tetap saja menunjukan keceriaan dengan ekspresinya. "Siapa?" Aldo yang masih duduk di motornya, bertanya. "Itu Raihan, sahabat kecil gue. Dia emang agak dingin sama orang asing," sahut Raina menjelaskan tanpa diminta. "Ogitu... Btw, besok gue jemput lo ke sekolah, ya?" "Eh? Hm..." Raina masih menimbang-nimbang pikirannya, tapi Aldo sudah menyahut lagi, "Oke, jam enam lewat lima belas." "Eh? Gue belum jawab, kan?" tanya Raina kebingungan. "Kalau lo gak jawab, itu artinya lo malu buat jawab iya. Yaudah gue balik, ya." Aldo pamit sembari memakai helm-nya. "Gak mampir dulu?" Selepas menyalakan kembali mesin motornya, Aldo menjawab, "Gak, deh, lain kali aja ya, Manis." Ia tersenyum. Ah, detik ini juga rasanya Raina ingin terbang menuju tak terbatas dan melampauinya seperti Buzz Lightyear dalam film Toy Story. Senang sekali! Jadi tidak sabar ingin memberitahu Raihan! Kebiasaan Raina, setiap ada apa-apa, ia selalu ingin buru-buru menceritakan semuanya pada Raihan. Sekarang pun, setelah Aldo berlalu bersama motor besarnya, gadis itu bukannya pulang, malah ngibrit ke rumah Raihan. Ia sama sekali tidak memedulikan dirinya yang masih lengkap dengan atribut sekolahnya. Di rumahnya, Raihan agak heran saat tiba-tiba melihat cewek mungil itu sedang buka sepatu di depan pintu. "Ngapain lo?" Raina yang sedang sibuk dengan tali sepatu, mengangkat kepalanya. Ia mendapati Raihan yang masih mengenakan seragam putih abu-abu, tengah duduk menatapnya dingin di ruang tv. "Mau cerita, hehe," sungut Raina tanpa basa-basi sambil cengengesan. "Orang mah ganti baju dulu, kek. Elap keringet, taruh tas gitu, baru ke sini." Raihan menanggapinya ketus. "Gak, ah, kelamaan! Gue mau cerita tentang--" "Cowok itu?" Raihan selalu bisa menebak apa yang akan Raina katakan. "Iya, benar!!! Seratus buat anda! Horeee!!!" seru gadis itu sembari bertepuk tangan heboh sendiri. Seperti biasa Raina selalu memulai ceritanya dengan 'Tau gak, sih?' dan seperti biasa juga Raihan selalu menceletuk 'Mana gue tau, lo aja belom cerita!'. Oke, balik lagi ke Raina yang masih belum selesai bercerita. "Nih, dengerin. Tadi kan gue pingsan," Raihan tersentak. "Lo pingsan? Kok, bisa? Kenapa? Lo sakit? Apa gimana?" Dasar cowok serius, baru gitu saja langsung panik. Pipi Raina habis digerakkan ke sana ke mari. "Ish," Raina menarik tangan Raihan agar melepaskan pipinya. "gue gak apa-apa. Gue pingsan gara-gara kena bola!" "Oh, baguslah!" Cowok itu seketika kembali cuek. Entah kenapa, paska melihat Aldo tadi, seketika ia tidak mood bicara. Apalagi dengan cewek pecicilan yang duduk di sebelahnya sekarang. Baru saja Raina berniat melanjutkan ceritanya, kedatangan seseorang mampu mengalihkan perhatiannya. Ralat, bukan kedatangannya, melainkan luka memar dan bonyok pada wajah orang itu yang membuat dahi Raina berkerut. "Berantem lagi lo?" tanya Raihan pada orang itu. Namun, dia malah melengos begitu saja mengabaikan pertanyaan Raihan, sembari memegangi ujung bibirnya yang berdarah. "Adnan!!!" bentak Raihan keras, tidak tahan dengan kelakuan adik kandungnya. Cowok tengil itu berhenti melangkah. Sesaat kemudian menjawab dengan gaya songong, "Laki, wajar kalau berantem. Bonyok-bonyok gini doang mah belum seberapa." "Berantem gak bakal menyelesaikan masalah, b**o! Jangan mentang-mentang Bunda lagi di Jakarta, terus lo di Bandung bisa berlaku seenaknya, gitu? Gak bisa, selama ada gue." "Iya, abang gue yang paling ganteng," ucap Adnan, merayu. "Udah ah, gue mau obatin luka gue dulu." Dua kakak beradik itu memang memiliki karakter yang jauh berbeda. Bahkan bisa dibilang sangat bertolak belakang. Selisih usia mereka tiga tahun. Sifat Adnan lebih cenderung sama seperti Raina, banyak omong, punya selera humor yang tinggi, lemah otak, dan masih banyak lagi. Cuma saja, Adnan hobi berantem. Bahkan di sekolahnya, ia dijuluki sebagai pentolan yang paling ditakuti. "Oiya, ceritanya udah sampe mana tadi?" tanya Raina polos, memecah keheningan yang berlangsung selama sekian detik. "Lo pingsan kena bola," Raihan menjawab seadanya. "Nah, terus pas gue kebangun, tau-tau udah ada Aldo duduk di samping gue. Dan dia nungguin gue sampe sadar di UKS!!!" Dengan semangat yang sama seperti sebelumnya, Raina melanjutkan ceritanya kembali. "Gitu aja seneng," tukas Raihan seraya melirik Raina sekilas. "Senenglah! Lo harus tau, waktu di motor, dia ambil tangan gue, terus ditempelin di pinggangnya. Seneng, sih, tapi malu juga. Soalnya dia bilang, tangan gue dingin, kaku! Yaiyalah, cewek mana yang gak keringet dingin kalau digituin! Iya, kan?" "Gue gak tau, gue cowok," "Ih, gue serius! Kayaknya Aldo suka, deh, sama gue." Seketika Raina menampakkan raut wajah serius. "Lo-nya aja yang baperan, kali!" "Susah, sih, kalau ngomong sama orang yang gak pernah jatuh cinta, mah!" Raihan mematikan tv. Tiba-tiba kedua tangannya memegang bahu Raina, menghadapkannya dengan tegas. "Lo tau, kenapa dalam Bahasa Indonesia cuma ada 'kasih sayang'? Bukan 'kasih suka' atau 'kasih cinta'? Padahal kita gampang banget bilang suka atau cinta ke orang lain," Ia bertanya sambil menatap lurus bola mata Raina. Gadis itu menggeleng, sampai ujung rambutnya bergerak ke kanan dan kekiri. "Karena, suka, cinta, sayang, tiga kata itu maknanya beda-beda. Dia suka sama lo, belum tentu dia cinta sama lo. Dia cinta sama lo, belum tentu sayang sama lo. Itu artinya, dia yang lo anggap suka atau cinta sama lo, belum tentu bisa jagain lo kalau dia gak sayang sama lo. Semua gak sesederhana yang ada di pikiran lo, Na." jelas Raihan cukup panjang. Pernyataan Raihan barusan memang tidak terbantahkan lagi oleh siapapun. Termasuk Raina, sang Pendamba Cinta Sejati. "Gue mau, sebelum lo baper lebih jauh, lo pastiin dulu kalau dia bener-bener sayang sama lo. Dan gue harap, rasa sayang dia ke lo itu, melebihi rasa sayang gue ke lo..." Beberapa saat kemudian, Raihan menambahkan, "sebagai sahabat." === To be continue... A/n: Selamat menunggu part selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN