Lima

2157 Kata
Inget, Na, lo punya gue. Gue ada untuk melindungi lo. Jadi gak ada yang perlu lo takuti.  -Raihan Tanujaya Putra- _____ "Capricorn, daya tahan tubuh Capricorn melemah, sangat dianjurkan untuk menjaga pola makan. Tetapi dalam berkarir 99% Capricorn akan berhasil. Jangan khawatir soal percintaan. Capricorn cuma harus lebih peka, karena cinta sejati berada dekat di sekitar anda!" Seketika mata Raina langsung berbinar saat membaca kalimaSenyum itu, seketika mampu melemahkan jantungnya.  ______ "Gabby!" Seseorang di ujung koridor memekik sambil berjalan mendekati cewek yang ia panggil. Gabby membalikkan badannya, disusul oleh Raina yang kebetulan juga sedang berjalan bersamanya. "Siapa, By? tanya Raina diiringi dengan sikutan kecil. "Gak tau." Cewek populer itu memang tidak mengenal seluruh murid di sekolahnya. Tetapi, hampir semua murid di sekolahnya mengenal dia. Saat melihat lamat-lamat orang itu dari dekat, Raina merasa sangat familier dengan pahatan wajahnya. "Itu kan..." Gadis memejamkan matanya rapat-rapat. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk ujung pelipisnya. Berusaha untuk mengingat. "oh, gue inget sekarang! Lo Danu Mahatma, bukan sih?" Raina mengacungkan telunjuknya tepat di depan cowok itu. "Nah, iya." Danu membenarkan ucapan Raina diiringi senyuman puas. "Raina aja inget, masa lo gak inget, Gab?" "Danu?" Gabby mengerutkan dahi. "Temen gue banyak yang namanya Danu." "Itu, lho, Danu yang sering dapet nilai nol dari Bu Susi! Dulu kita pernah sekelas waktu kelas sepuluh!" ucap Raina. Berusaha mengembalikan ingatan Gabby tentang Danu. "Anjir, dapet nol!" kaget Danu. "Oh, iya-iya. Gue inget! Lo kan cowok pertama di sekolah ini yang gue tolak?" Kini Gabby mampu mengingatnya. Danu merupakan cowok pertama yang menyatakan perasaannya pada Gabby, sekaligus cowok pertama juga yang cintanya ditolak mentah-mentah oleh Gabby, dulu. Tepatnya pada Masa Orientasi Sekolah. "Kenapa lo berdua ingetnya yang jelek-jelek, sih?" Danu mendengus kesal. "Yaiyalah, lo kan gak ada bagus-bagusnya, Dan!" "EH, CEWEK! AWAS!!!" Hampir semua orang yang berseragam olahraga, memekik pada perempuan yang tengah asyik tertawa dengan dengan dua temannya sambil berjalan. Salah satu temannya menoleh cepat ketika mendengar pekikan banyak orang dari arah lapangan. Lalu ikut berseru, "Na, awas!!!" Duk! Telat! Bola basket tebal itu sudah terlanjur melambung dan menghantam keras kepala Raina. Selama lima detik gadis itu masih kuat berdiri. Namun pada detik ke enam pandangannya mulai kabur. Satu Dua Tiga Raina terhuyung. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba dengan cekatan Aldo berhasil menangkap tubuh gadis itu sebelum akhirnya jatuh pingsan. Saat sadar, Raina telah mendapati dirinya terkulai lemas di atas ranjang besi berbalut sprei putih. Dia agak kaget ketika tau kalau ternyata dia tidak sendirian di ruang bercat putih itu. Ada seseorang yang menjaganya, duduk di pinggir ranjang besi tersebut. "Aldo, lo ngapain di sini?" tanya Raina bingung dengan suara pelan. "Nungguin lo," sahutnya santai. Sebelum berdiri, Aldo menggenggam punggung tangan Raina sebentar. Lalu berkata, "Tunggu, ya, gue mau buat teh manis dulu buat lo." "Nungguin gue? Emang Gabby mana?" Raina terus menyerang Aldo dengan pertanyaan. "Oh, tadi dia sempet nemenin lo di sini sampe bel istirahat selesai. Tapi abis itu mereka balik ke kelas, katanya mau ulangan matematika." "Allahuakbar!" Tiba-tiba gadis itu berseru kencang. Posisinya yang semula setengah duduk, menjadi benar-benar duduk tegak. Seruan Raina membuat Aldo agak tersentak kaget. "Kenapa?" "Gue lupa ada ulangan! Yaudah, gue mau langsung ke kelas aja, Do. Mumpung masih ada waktu." Raina bangkit dari ranjangnya. Namun seketika kepalanya terasa nyeri lagi. Tubuhnya mendadak oleng. Untuk yang kedua kalinya, berkat Aldo tubuh Raina tidak jadi terhempas di lantai. "Lo masih pusing, mending susulan aja," saran Aldo. "Gak mau, kalau susulan biasanya di ruang guru. Ntar yang ada gue gak bisa nyontek, hehe," elak Raina diiringi sedikit kekehan. "Dasar." Aldo tidak kuat untuk menahan tawanya. Ternyata bukan cuma wajahnya saja yang menggemaskan, tingkahnya juga. Semua yang ada pada diri Raina, begitu menggemaskan bagi Aldo. "Kalau gitu, biar gue anter lo sampe kelas," ucapnya. Aldo melingkarkan lengannya di bahu Raina. Mereka berjalan bersisian. Dari lantai satu, sampai lantai tiga. Helaan napas yang melegakan terdengar dari rongga hidung Raina ketika mengetahui pintu kelasnya belum tertutup sempurna. Pertanda ulangan belum benar-benar dimulai.  Sebelum masuk ke kelasnya, Raina menghentikan langkahnya, lalu berbalik ke arah Aldo. "Thanks ya, Do," "Lo yakin mau ikut ulangan?" tanya Aldo bernada khawatir. "Yakin!" Raina menjawab lantang. Aldo tersenyum. "Ok," katanya. Seteah itu ia berlalu. Sontak, senyuman yang terukir di wajah menawan cowok itu membuat pesona dirinya bertambah seribu kali lipat. Raina masih tidak bergeming memerhatikan punggung Aldo yang kian menjauh sambil tersenyum kasmaran. Senyum itu, seketika mampu melemahkan jantungnya. "Raina! Sedang apa kamu berdiri di situ?!" Seketika, suara ibu yang terdengar tegas itu berhasil buat Raina mematung di depan pintu kelas. Semua bayang-bayang soal Aldo ambyar begitu saja. Pelan-pelan bahunya membalik. Makin kaget ketika tubuh gendut milik Bu Lulu berdiri tegap menghalangi celah pintu. "Eh, Bu Lulu," ucap Raina cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Masuk!" titah Bu Lulu. Guru matematika yang terkenal paling killer. "I... iya, Bu," Raina membalas terbata-bata. Kemudian ia duduk manis di tempat duduknya dan buru-buru mengeluarkan alat-alat tulisnya. "Na, tadi Aldo nungguin lo sampe lo sadar, kan?" bisik Gabby, saat Bu Lulu tengah sibuk membagikan lembar soal ulangan. "Bukan cuma nungguin, tapi dia nganter gue sampe depan kelas tadi. Gila, kan?" "Serius lo?" Gabby bertanya tidak percaya, sampai bola matanya nyaris menggelinding. "Serius!" "Anjir! Jangan-jangan dia suka sama lo?" "Kalau dia suka sama gue, mah, gak mungkin. Kecuali dia sukanya sama lo," "Lah? Kok gue?" tanya Gabby bingung seraya menunjuk dadanya sendiri. "Iya, lo kan cantik, populer, dikenal banyak orang, makanya gue minta lo bantuin gue biar bisa deket sama Aldo." "Tapi, kan, lo duluan yang kenal sama dia? Gue aja baru ngobrol tadi pas lagi nungguin lo di UKS." "Terus-terus lo ngobrolin apa aja?" "Ngobrolin lo, lah. Kan gue inget lo minta gue bantuin lo biar Aldo tertarik hatinya sama lo, kan?" Raina merespon dengan anggukkan semangat. "Gue bilang, kita sahabatan udah dari kelas sepuluh, gue mau sahabatan sama lo karena meskipun iseng dan tukang nyontek, tapi lo anaknya asik. Terus juga--" "Ekhem," Seseorang berdeham keras mengakibatkan tenggorokan Gabby tercekat. "Terus juga? Lanjutin dong," seru Raina memaksa. Kebungkaman Gabby secara tiba-tiba malah bikin Raina gereget. "Kok, diem?" Gabby berusaha memberi isyarat pada Raina agar menengok ke belakang hingga rambut tebalnya bergerak-gerak kecil. Namun, gagal. "Ekhem," Bu Lulu berdeham sekali lagi. Demaham kali ini Raina mampu mendengarnya jelas. "Kayak suara Bu Lulu," ucapnya pada Gabby yang membuat Gabby makin sebal dengan kebodohan gadis itu dan ingin sekali mematahkan lehernya agar menengok ke belakang. "By, terus juga apa?" Raina masih tetap saja menuntut kelanjutan cerita padanya. Seketika gadis itu diam sejenak. "Eh, kok tau-tau gelap, ya?" tanyanya saat menyadari kalau area duduknya yang semula terang benderang mendadak gelap. Akhirnya, Raina menengok ke belakang. Pantas saja gelap! Cahaya matahari yang merambat lurus menembus jendela, sebagian terhalang oleh tubuh besar Bu Lulu. "Oh, ada Bu Lulu," Tiga detik berikutnya, Raina tersadar. Glek Gadis itu meneguk ludahnya yang terasa seperti batu kerikil. Lalu memaparkan senyum termanisnya yang tidak berpengaruh apa-apa pada guru killer itu. "SEKARANG JUGA KAMU KELUAR DARI KELAS SAYA!!!" === To be continue... A/n: Hargai karya seseorang dengan tidak menjadi sider t terakhir pada ramalan zodiak dalam sebuah artikel. "Rai, lo baca, deh." Raina menyodorkan ponselnya dengan semangat pada Raihan. "Menurut ramalan zodiak tahun ini, cinta sejati gue ada di deket gue!" ucapnya kegirangan sendiri membuat Raihan cuma bisa menggelengkan kepala seraya memijat kening. "Pokoknya Rai, lo jangan iri ya, kalau bentar lagi gue punya cowok," kata Raina penuh percaya diri. "Eh, tapi, kalau gue udah punya cowok, gue saranin lo cepet-cepet cari cewek, deh. Biar gak kesepian." Plakk Dengan enteng telapak tangan Raihan mendarat di kepala Raina. "Aw-" Gadis itu mengusap kepalanya. "Kenapa gue digeplak?" tanyanya dengan raut wajah kelewat polos. Membuat Raihan semakin geregat ingin meremas kepalanya. "Otak lo masih berfungsi apa gak, sih?!" Raihan bertanya galak. Kesal dengan kelakuan sahabat kecilnya yang tidak pernah berubah dari dulu. "Masih, lah." "Kalau masih, kenapa lo percaya gitu-gituan?" "Ramalan ini tuh hampir delapan puluh persen bener semua, tau!" bantah Raina. "Coba zodiak lo apa? Gue lupa. Oiya, Taurus. Bentar gue liatin, percintaan lo tahun ini gimana." Raina kembali memfokuskan diri pada layar ponselnya yang berukuran 5 inch di tangannya. Taurus: Seperti tahun-tahun sebelumnya, Taurus paling jago menarik hati para gadis. "Gak mungkin!" Tiba-tiba Raina berseru yakin. "Kalau lo jago narik perhatian cewek, lo gak mungkin jomblo, Rai. Malah harusnya lo cepet dapet pacar. Masa iya ramalannya salah?" Raina bertanya pada dirinya sendiri sambil terus memutar otak. Memikirkan kebenaran pada ramalan zodiak yang biasa dia baca. "Eh, tapi kan ini ramalannya selalu bener! Ah, lo-nya aja kali Rai yang terlalu jutek sama cewek. Makanya―" "Na, idung lo berdarah," ucap Raihan pelan. Raut wajahnya menampakkan kekhawatiran pada gadis di hadapannya. Pernyataan Raihan seketika membuat Raina panik. Tangannya cepat-cepat menutup area lubang hidungnya yang mengeluarkan darah segar. Kelimpungan mencari sesuatu yang menurutnya bisa untuk menahan aliran dara di lubang hidungnya, tetapi tidak ketemu. Ya jelas, itu bukan kamarnya. Tapi tiba-tiba Raihan menyodorkan sekotak tisu. "Lo gak apa-apa?" Raihan benar-benar khawatir. Tangannya memegang lembut bahu Raina. "Gak apa-apa. Paling cuma mimisan biasa," jawab Raina berusaha tenang sambil menyumpal lubang hidungnya dengan beberapa helai tisu. "gue balik, ya." Tiba-tiba gadis itu bergegas dari posisinya, lalu berlari pulang dari rumah Raihan dengan mata berkaca-kaca. Air matanya tumpah begitu saja. Dua lembar tisu di tangannya sudah lepek dengan darah dari hidungnya. Akhir-akhir ini, Raina merasa ada kejanggalan pada kondisi dirinya sendiri. Sebelum orang rumah melihat, Raina buru-buru membasuh hidungnya yang sudah dipenuhi noda merah sambil terus memandangi pantulan dirinya ssendiri pada cermin besar di hadapannya. Dari kecil, Raina itu paling takut darah. Raina selalu menangis setiap melihat darah. Apalagi darah sebanyak ini. Untung saja Raina tidak pingsan sekarang. "Rainaaa!!!" Mendengar teriakkan Clara di tengah rumah memekik namanya, Raina langsung membereskan bekas tisunya, mengelap kering air matanya, kamudian menghampiri kakaknya, sebelum masalah baru tercipta. "Iya, Kak?" "Gue pinjem credit card lo." Gadis dewasa dengan make-up sempurna di wajahnya itu menelentangkan telapak tangannya. Menengadah ke arah adiknya. Alis Raina tertaut rapat, bingung. "Buat apa?" "Heh, lo gak sadar apa? Gara-gara lo, semua aset gue disita Papa, tau gak!" tuduh Clara pada Raina yang berdiri kaku sekitar setengah meter di depannya. Raina kian bingung dengan tuduhan kakaknya. "Lho? Kok, aku? Bukannya karena ulah Kakak sendiri yang sering pulang malem?" "Kalau aja lo gak pecahin gelas malam itu, pasti gue gak mungkin ketauan! Dan kunci mobil, credit card, ATM, semuanya gak bakal disita! Dasar anak pembawa sial yang bisanya cuma cari perhatian!" Clara memaki Raina diiringi sentakkan yang berhasil membuat Raina ketakutan. "Mana credit card lo?! Buruan ambil. Temen gue udah nungguin," Raina tersentak. "Eh, iya Kak." Tanpa menunggu lama, Raina beringsut naik ke kamarnya, dan kembali membawa sekeping credit card. Clara merampasnya kasar. Tatapannya sinis menusuk kornea mata adiknya. Di ambang pintu, saat hendak keluar rumah, ia berpapasan dengan Raihan. Selama beberapa detik, keduanya saling melempar sorotan mata tajam, menusuk. Sejak dulu, Raihan memang tidak suka dengan Clara. Tapi, tentunya Raihan begitu bukan tanpa alasan. Dia tidak suka dengan perlakuan Clara pada Raina, yang menurutnya sudah semena-mena. Mulai dari membentak-bentak Raina, menyuruh Raina ini-itu, memakai barang-barang Raina tanpa izin, bahkan mengasari Raina. Pernah suatu waktu, karena sudah muak dengan Clara, tidak segan-segan cowok itu menampar dan memaki Clara habis-habisan. Hingga sekarang, keduanya tidak pernah lagi saling tegur sapa. Tok tok tok "Na." Raihan mengetuk pintu kamar Raina pelan. Pintu itu terbuka, menampakkan sosok Raina yang tiba-tiba memeluk erat tubuh Raihan. Gadis itu terisak sampai bahunya berguncang kecil. Sementara Raihan hanya bisa membalas pelukan Raina sambil mengusap rambut pajangnya yang masih terikat rapi. Menunggu sampai Raina tenang dulu.  Perlahan Raina merenggangkan pelukannya. Lalu Raihan menggiringnya masuk ke kamar. "Lo sakit?" Cowok itu baru berani bertanya. Setelah Raina duduk tenang di sisi ranjangnya, cowok itu bertanya lagi, "Lo kenapa nangis?" Sambil menunduk, Raina menggelengkan kepalanya. Tangan Raihan terjulur mengangkat dagu Raina. "Terus?" "Emang bener, ya, kalau gue itu anak pembawa sial, yang kerjaannya cuma bisa cari perhatian?" tanya Raina di sela-sela senggukannya. Alis Raihan menaut rapat-rapat. "Kata siapa?! Clara?!" Raina mengangguk, kemudian kembali menunduk. "Ck! Gila, ya, itu orang! Mulut sama kelakuannya makin parah aja!" Raihan berdecak kesal. "Sekarang gue minta, lo jangan pernah dengerin apa yang keluar dari mulut busuk Clara! Kalau dia bersikap seenaknya sama lo, lawan aja. Kalau dia sampe apa-apain lo, bilang gue. Inget, Na, lo punya gue. Gue ada untuk melindungi lo. Jadi gak ada yang perlu lo takuti. Termasuk Clara." Lagi-lagi gadis itu cuma bisa mengangguk. Meskipun isakannya sudah tidak terdengar lagi, tapi air matanya masih mengalir sedikit-sedikit. Raihan berjongkok di hadapan Raina. Memandangi wajah Raina lamat-lamat. Rasanya seperti disayat-sayat ketika melihat gadis yang biasanya ceria itu, kini menitikan air mata. Tangannya menjulur mengangkat dagu Raina, kemudian mengelap bulir air mata yang hinggap di pipi sahabatnya itu. "Udah, jangan nangis lagi! Lo lebih jelek dari monyet kalau lagi nangis," katanya. Kontan, Raina mendaratkan pukulan di d**a Raihan. Bibirnya mencebik. Namun, Raihan malah terkekeh geli. === To be continue... A/n: makasih udah mau baca sampe part 4:) Masih ada yg mau next gak? Kalo masih, komen yaa. Biar lgsg aku next wkwk
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN