Inget, Na, lo punya gue. Gue ada untuk melindungi lo. Jadi gak ada yang perlu lo takuti.
-Raihan Tanujaya Putra-
_____
"Capricorn, daya tahan tubuh Capricorn melemah, sangat dianjurkan untuk menjaga pola makan. Tetapi dalam berkarir 99% Capricorn akan berhasil. Jangan khawatir soal percintaan. Capricorn cuma harus lebih peka, karena cinta sejati berada dekat di sekitar anda!" Seketika mata Raina langsung berbinar saat membaca kalimat terakhir pada ramalan zodiak dalam sebuah artikel. "Rai, lo baca, deh." Raina menyodorkan ponselnya dengan semangat pada Raihan. "Menurut ramalan zodiak tahun ini, cinta sejati gue ada di deket gue!" ucapnya kegirangan sendiri membuat Raihan cuma bisa menggelengkan kepala seraya memijat kening.
"Pokoknya Rai, lo jangan iri ya, kalau bentar lagi gue punya cowok," kata Raina penuh percaya diri. "Eh, tapi, kalau gue udah punya cowok, gue saranin lo cepet-cepet cari cewek, deh. Biar gak kesepian."
Plakk
Dengan enteng telapak tangan Raihan mendarat di kepala Raina.
"Aw-" Gadis itu mengusap kepalanya. "Kenapa gue digeplak?" tanyanya dengan raut wajah kelewat polos. Membuat Raihan semakin geregat ingin meremas kepalanya.
"Otak lo masih berfungsi apa gak, sih?!" Raihan bertanya galak. Kesal dengan kelakuan sahabat kecilnya yang tidak pernah berubah dari dulu.
"Masih, lah."
"Kalau masih, kenapa lo percaya gitu-gituan?"
"Ramalan ini tuh hampir delapan puluh persen bener semua, tau!" bantah Raina. "Coba zodiak lo apa? Gue lupa. Oiya, Taurus. Bentar gue liatin, percintaan lo tahun ini gimana." Raina kembali memfokuskan diri pada layar ponselnya yang berukuran 5 inch di tangannya.
Taurus: Seperti tahun-tahun sebelumnya, Taurus paling jago menarik hati para gadis.
"Gak mungkin!" Tiba-tiba Raina berseru yakin. "Kalau lo jago narik perhatian cewek, lo gak mungkin jomblo, Rai. Malah harusnya lo cepet dapet pacar. Masa iya ramalannya salah?" Raina bertanya pada dirinya sendiri sambil terus memutar otak. Memikirkan kebenaran pada ramalan zodiak yang biasa dia baca. "Eh, tapi kan ini ramalannya selalu bener! Ah, lo-nya aja kali Rai yang terlalu jutek sama cewek. Makanya―"
"Na, idung lo berdarah," ucap Raihan pelan. Raut wajahnya menampakkan kekhawatiran pada gadis di hadapannya.
Pernyataan Raihan seketika membuat Raina panik. Tangannya cepat-cepat menutup area lubang hidungnya yang mengeluarkan darah segar. Kelimpungan mencari sesuatu yang menurutnya bisa untuk menahan aliran dara di lubang hidungnya, tetapi tidak ketemu. Ya jelas, itu bukan kamarnya.
Tapi tiba-tiba Raihan menyodorkan sekotak tisu. "Lo gak apa-apa?" Raihan benar-benar khawatir. Tangannya memegang lembut bahu Raina.
"Gak apa-apa. Paling cuma mimisan biasa," jawab Raina berusaha tenang sambil menyumpal lubang hidungnya dengan beberapa helai tisu. "gue balik, ya." Tiba-tiba gadis itu bergegas dari posisinya, lalu berlari pulang dari rumah Raihan dengan mata berkaca-kaca. Air matanya tumpah begitu saja. Dua lembar tisu di tangannya sudah lepek dengan darah dari hidungnya. Akhir-akhir ini, Raina merasa ada kejanggalan pada kondisi dirinya sendiri.
Sebelum orang rumah melihat, Raina buru-buru membasuh hidungnya yang sudah dipenuhi noda merah sambil terus memandangi pantulan dirinya ssendiri pada cermin besar di hadapannya. Dari kecil, Raina itu paling takut darah. Raina selalu menangis setiap melihat darah. Apalagi darah sebanyak ini. Untung saja Raina tidak pingsan sekarang.
"Rainaaa!!!" Mendengar teriakkan Clara di tengah rumah memekik namanya, Raina langsung membereskan bekas tisunya, mengelap kering air matanya, kamudian menghampiri kakaknya, sebelum masalah baru tercipta.
"Iya, Kak?"
"Gue pinjem credit card lo." Gadis dewasa dengan make-up sempurna di wajahnya itu menelentangkan telapak tangannya. Menengadah ke arah adiknya.
Alis Raina tertaut rapat, bingung. "Buat apa?"
"Heh, lo gak sadar apa? Gara-gara lo, semua aset gue disita Papa, tau gak!" tuduh Clara pada Raina yang berdiri kaku sekitar setengah meter di depannya.
Raina kian bingung dengan tuduhan kakaknya. "Lho? Kok, aku? Bukannya karena ulah Kakak sendiri yang sering pulang malem?"
"Kalau aja lo gak pecahin gelas malam itu, pasti gue gak mungkin ketauan! Dan kunci mobil, credit card, ATM, semuanya gak bakal disita! Dasar anak pembawa sial yang bisanya cuma cari perhatian!" Clara memaki Raina diiringi sentakkan yang berhasil membuat Raina ketakutan.
"Mana credit card lo?! Buruan ambil. Temen gue udah nungguin,"
Raina tersentak. "Eh, iya Kak." Tanpa menunggu lama, Raina beringsut naik ke kamarnya, dan kembali membawa sekeping credit card.
Clara merampasnya kasar. Tatapannya sinis menusuk kornea mata adiknya. Di ambang pintu, saat hendak keluar rumah, ia berpapasan dengan Raihan. Selama beberapa detik, keduanya saling melempar sorotan mata tajam, menusuk.
Sejak dulu, Raihan memang tidak suka dengan Clara. Tapi, tentunya Raihan begitu bukan tanpa alasan. Dia tidak suka dengan perlakuan Clara pada Raina, yang menurutnya sudah semena-mena. Mulai dari membentak-bentak Raina, menyuruh Raina ini-itu, memakai barang-barang Raina tanpa izin, bahkan mengasari Raina. Pernah suatu waktu, karena sudah muak dengan Clara, tidak segan-segan cowok itu menampar dan memaki Clara habis-habisan. Hingga sekarang, keduanya tidak pernah lagi saling tegur sapa.
Tok tok tok
"Na." Raihan mengetuk pintu kamar Raina pelan.
Pintu itu terbuka, menampakkan sosok Raina yang tiba-tiba memeluk erat tubuh Raihan. Gadis itu terisak sampai bahunya berguncang kecil. Sementara Raihan hanya bisa membalas pelukan Raina sambil mengusap rambut pajangnya yang masih terikat rapi. Menunggu sampai Raina tenang dulu.

Perlahan Raina merenggangkan pelukannya. Lalu Raihan menggiringnya masuk ke kamar. "Lo sakit?" Cowok itu baru berani bertanya.
Setelah Raina duduk tenang di sisi ranjangnya, cowok itu bertanya lagi, "Lo kenapa nangis?"
Sambil menunduk, Raina menggelengkan kepalanya. Tangan Raihan terjulur mengangkat dagu Raina. "Terus?"
"Emang bener, ya, kalau gue itu anak pembawa sial, yang kerjaannya cuma bisa cari perhatian?" tanya Raina di sela-sela senggukannya.
Alis Raihan menaut rapat-rapat. "Kata siapa?! Clara?!"
Raina mengangguk, kemudian kembali menunduk.
"Ck! Gila, ya, itu orang! Mulut sama kelakuannya makin parah aja!" Raihan berdecak kesal. "Sekarang gue minta, lo jangan pernah dengerin apa yang keluar dari mulut busuk Clara! Kalau dia bersikap seenaknya sama lo, lawan aja. Kalau dia sampe apa-apain lo, bilang gue. Inget, Na, lo punya gue. Gue ada untuk melindungi lo. Jadi gak ada yang perlu lo takuti. Termasuk Clara."
Lagi-lagi gadis itu cuma bisa mengangguk. Meskipun isakannya sudah tidak terdengar lagi, tapi air matanya masih mengalir sedikit-sedikit. Raihan berjongkok di hadapan Raina. Memandangi wajah Raina lamat-lamat. Rasanya seperti disayat-sayat ketika melihat gadis yang biasanya ceria itu, kini menitikan air mata. Tangannya menjulur mengangkat dagu Raina, kemudian mengelap bulir air mata yang hinggap di pipi sahabatnya itu.
"Udah, jangan nangis lagi! Lo lebih jelek dari monyet kalau lagi nangis," katanya.
Kontan, Raina mendaratkan pukulan di d**a Raihan. Bibirnya mencebik. Namun, Raihan malah terkekeh geli.
===
To be continue...
A/n: makasih udah mau baca sampe part 4:)
Masih ada yg mau next gak? Kalo masih, komen yaa. Biar lgsg aku next wkwk