bab 6

818 Kata
Di ujung barak kamar pendidikan Brimobku di Pusdik Brimob Watukosek Surabaya sambil mengamati pemandangan sekeliling, sekolahku berada di kaki gunung Penanggungan, sekolah pendidikan militer yang lumayan besar, terhampar rumput yang lumayan luas di beberapa area, pemandangan sawah dan ilalang. Dan cuaca yang cukup kontra diksi, terkadang dingin di saat malam, atau panas bahkan pengap saat siang hari. Inilah pendidikan yang harus aku lalui selama 11 bulan. Malam ini terbayang wajah Amel, baru saja dua malam kami tidak bertemu dan saling bersapa, rasa rindu mulai menggebu di hatiku. Teringat kenangan malam di kala aku pamit kepadanya. Amel bergelendot manja ke bahuku. Seakan tidak melepaskan dan membolehkan aku pergi darinya. “Mel malam ini Mas pamit ya, besok siang Mas berangkat.” “Ya Mas, Amel sedih Mas, pasti hari-hari Amel akan sepi nanti.” “Sabar ya Mel, Mas pergi untuk ikut pendidikan militer, Amel harus kuat dong.” “Iya Mas. Mas janji ya harus setia sama Amel dan jangan nakal di sana!” “Nakal apa sih Mel, Kamu paham kalau teman 1 barak itu laki-laki semua, libur hari minggu, itu juga akan Mas gunakan untuk telepon bapak, ibu dan Kamu Mel.” “Iya Mas, janji pokoknya dengan Amel.” "Iya Sayang, Mas janji." Begitu lah aku berpisah sama Amel malam itu, tampak Amel yang sedih melepasku untuk pendidikan ini, sedih karena harus jauh, senang karena akhirnya cita-cita kami pun mulai tergapai. Dan semenjak mengenal Amel aku ingin serius dengannya, jujur sih masih terbayang gadis kecil masa laluku Silvia, tapi...? Ya biar saja jodoh yang menentukan nanti. Dulu saat kecil hatiku sering bilang mungkin, mungkin saat dewasa, dan sudah lulus dari pendidikan militer aku ingin menemuinya, walau sekali saja. Mengatakan isi hatiku yang lama tersimpan sejak Sekolah Dasar. Tapi, semua belum di pertemukan oleh-Nya sejak dulu sampai hari ini. Entah sudah berapa tahun tidak bertemu, yang terbayang hanya wajah imut Silvia saat SMP, entah berapa hari, berapa tahun dari musim hujan, berganti musim panas atau mungkin nanti di saat salju turun di kota kami. Tapi semua itu mustahil. Sebulan kemudian. Alhamdulillah aku sudah mulai beradaptasi di lingkungan ini, aku memiliki 3 sahabat baru yang bernama Andi, Fauzi, dan Ridho. Kebetulan mereka juga teman satu kamar dalam bangsalku. Mereka anak yang baik dan juga sholeh. Kami berempat selalu kompak pergi ke masjid jika waktu shalat tiba. Dan kami juga selalu kompak berlatih fisik jikalau waktu senggang di kamar. Andi berasal dari Padang, Fauzi dari Jawa Tengah dan Ridho dari Manokwari. Mereka teman yang sangat aktif, suka bercerita berbagi kisah pengalaman masa kecil, kehidupan di daerah masing-masing dan kisah cinta mereka masing-masing. Malam ini, kebetulan malam minggu kami kompak menulis surat cinta untuk para pujaan hati kami. Dan esok hari akan kami titipkan kepada ibu pemilik katering untuk mengirimkannya ke kantor pos. “Van sudah belum, ayo ke kantin.” “Iya Zi, sebentar lagi kelar nih.” “Panjang sekali isi surat cinta Elu Van? Surat cinta atau surat tugas nih?” “Hahahaha...” “Kalian, awas ya tidak Saya bantu kalau lagi latihan nanti.” “Wah mengancam nih si Bos besar.” “Ayo sudah, tinggal di pasang prangkonya ini.” Kami pun tergesa-gesa menuju kantin, takut kalau kantinnya keburu tutup. Bisa minggu depan baru kirim ini surat yang untuk Amel. Jujur, pelatihan di sini ternyata sangat ketat, walau hari minggu kami libur tapi jika mau ke warung telepon saja harus turun gunung mencari kota terdekat, dan sialnya ternyata kami tidak boleh membawa handphone. Minggu depan mungkin aku akan kirim surat untuk bapak dan ibu, mungkin mereka khawatir atau penasaran dengan kabar aku di sini. Dalam kemyataannya, pelatihan dan ujian-ujian kami di sini pun ternyata sangatlah berat. Mungkin inilah alasannya kami sebagai calon-calon Brimob harus memiliki fisik yang baik dengan beragam persyaratannya. Minggu ini kami mulai berlatih teknik persiapan fisik dan perang. Materinya beragam mulai dari Pelajaran GAG (Gerilya Anti Gerilya), JIBOM (Penjinak Bom), PHH (Pasukan Anti Huru-Huru-Hara), Wanteror (Pasukan Anti Teror), KBR (Kimia Biologi dan Radioaktif). Dan itu semua jauh dari bayangan kami. Kami harus benar-benar serius dalam mempelajarinya, karena bukan tidak mungkin, kami bisa kecelakaan kapan saja, mungkin di saat latihan atau praktik dan kemungkinan terburuknya kami harus kehilangan nyawa sebelum lulus dari pendidikan ini. Mulai malam ini aku harus lebih serius mempelajari buku-buku tebal ini, membaca dari satu bagian kecil ke bagian-bagian intinya. Bukan hanya fisik yang di terpa, tapi juga otak yang harus terus mengingat semua materi-materinya. “Semangat Irvan, Kamu pasti bisa.” begitulah setiap waktu aku menyemangati diriku sendiri. Hari-hari hanya di isi dengan menyemangati diri sendiri saja. Bahkan untuk sekedar menyapa Amel, bertanya bagaimana hari-hari dan perjalanan kuliahnya saja kini jarang aku lakukan. Aku harap dia bisa mengerti, bukan karena lupa, bukan karena tidak sayang atau cinta lagi, tapi karena keadaan yang harus hidup di zona serius, zona milik orang lain, dan belajar jadi pribadi milik negara, milik bangsa bahkan milik mereka yang membutuhkan kami di sini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN