bab 7

704 Kata
Sembilan bulan sudah aku mengenyam pendidikan militer di sini. Warna kulit yang kini berubah menjadi sawo matang, badan yang lebih tampak kekar dan sangar, bahkan aku pun mulai tak mengenali penampilanku sekarang jika sedang berdiri di depan cermin. Rambut yang biasa aku cukur dengan beragam model rambut kini hanya bisa dengan satu model cepak saja. Tanpa ada pilihan lainnya sebagai seorang aparat. Rasa rindu kepada kampung halaman, teringat akan makanan yang selalu ibu sajikan di atas meja makan. Menu-menu dan sajian yang sederhana, bahkan kian akrab di lidahku sampai hari ini. Entah kapan aku bisa pulang dan merasakan masakan ibu yang telah aku rindu itu. Gelak tawa bapak, dan adik-beradikku di rumah yang penuh kehangatan. Di sini aku harus terbiasa makan dengan jatah makanan, dengan menu dan rasa yang di bilang sangat sederhana dan tidak neko-neko. Bahkan jika sedang berlatih di arena pertempuran, jangankan makanan, air pun jarang aku kecap dan meminumnya. Kami hanya membawa perbekalan yang menipis, beberapa makanan kaleng, dan sebotol atau dua botol minuman saja untuk bertahan di kamp pelatihan tempur. Aku sangat bersyukur, aku memiliki nilai yang baik, dan bisa di bilang lebih baik dari ketiga sahabatku itu. Aku sering di tunjuk untuk menjadi kepala regu. Yang memegang kendali saat latihan di lapangan. Dan aku telah menceritakan prestasiku kepada keluarga begitu pun kepada Amel. Amel masih rajin menulis dan membalas surat untukku, mengirimkan beberapa foto terbarunya dan menceritakan kisah-kisah serunya sebagai seorang calon perawat. Di surat terakhirnya dia bercerita, kalau ada kakak tingkatnya yang mulai mengganggunya, mengejarnya dan mulai mendekati Amel untuk menjadi kekasihnya. Jujur itu sangat mengganggu hatiku, ada rasa was-was berkecamuk di dadaku. Tapi aku percaya, jika Amel jujur, dan aku pun yakin akan kesetiaan Amel kepadaku. Dan hanya beberapa bulan lagi aku akan lulus dari pelatihan militerku ini. Tak perlu tunggu lama, karena aku telah yakin dan mantap ingin mengikatnya segera, walau hanya bertunangan dahulu saja. Dua bulan kemudian. Ini adalah penilaian terakhir kami, kami seperti biasa, di bagi menjadi empat regu tempur. Dan aku menjadi team dua yang bertugas untuk menjinakkan bom dalam pelatihan ini. Seperti yang bapak komandan bilang kepada kami satu langkah saja salah maka akan ada bahaya di sana untuk kami. Risiko yang besar walau hanya dalam sebuah tes tempur semata. Dan resikonya adalah kami dapat cidera atau bahkan kehilangan nyawa kami sendiri. Jujur saja, kesehatanku hari ini bisa di bilang agak sedikit kurang baik. Tapi tidak ada alasan, aku harus ikut dalam penilaian terakhir ini. Kami mulai bersiap, dan mulai memasuki titik target lokasi penjinakan. Jika aku gagal, maka mungkin akan gagalah aku untuk menjadi seorang Brimob. Di sana ada beberapa bom yang harus mulai kami jinakkan. Selain bom, terdapat beberapa target patung atau team lain yang harus kami bidik dengan sangat baik dan cepat menggunakan peluru beberapa peluru karet yang telah kami persiapkan. Aku dengan sangat hati-hati harus berkonsentrasi menjinakkan bom yang telah aku temukan, perlahan-lahan aku gunting pematik bom itu agar berhenti. Tapi naas, saat berhasil menjinakkan tanganku terbentur, sehingga mengalami cedera dan patah. Teman-teman bergegas membantuku ke ruang pengobatan setelah kami selesai. Selesai penilaian, dengan segera aku di larikan ke ruang perawat medis di rumah sakit terdekat. Dan benar saja aku mengalami cedera yang lumayan serius dan mengalami patah tangan. Kejadian ini tepat hanya berselang 3 hari saja saat kami akan pelantikan kelulusan dari pelatihan Brimob. Rasa sakit pun aku tahan, karena dalam minggu ini aku bisa bertemu Amel dan keluargaku. Bahkan bapak, ibu dan keluarga akan hadir dalam acara kelulusanku di sini, di Watukosek, Surabaya. Genap sebelas bulan aku pendidikan di sini, rasa haru, suka cita di rasakan, sungguh bahagia, bisa melihat bapak, ibu dan adik-beradikku yang jauh-jauh sudah hadir di sini. Memeluk, mengucapkan selamat kepadaku. Walau belum sempurna karena Amel belum bisa hadir di sini. Seperti apa yang aku harapkan dan bayangkan. Dua hari setelah pelantikan kelulusanku, kami pun pulang, ke tempat aku berasal, kota Lampung, di sana kelak aku akan mendapatkan tugas dan penempatanku untuk bekerja dan bertugas. Saat terakhir, berpisah dengan teman-teman satu perjuangan, pendidikan dari seluruh kota di Indonesia. Aku peluk ke tiga sahabatku itu, Fauzi, Ridho dan Andi. Mungkin hari ini perpisahan bagi kami, dan entah kapan kami bisa berjumpa kembali. Karena jarak kami tidak dekat dan tidak mudah lagi untuk saling bertemu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN