Alhamdulillah, akhirnya apa yang aku cita-citakan sejak kecil tergapai. Sebelas bulan yang penuh suka, duka dan pengalaman baru.
Setelah acara kelulusan selesai, aku dan teman satu angkatan mengadakan syukuran dan pesta perayaan kecil-kecilan di markas Brimob. Penuh rasa haru, karena kami akan terpisah, jarak, waktu serta tempat.
Lagu-lagu bahagia terasa sangat pilu di hati, ada rasa berat untuk meninggalkan tempat pelatihan dan kawan-kawan satu perjuangan. Aku peluk kawan-kawanku satu persatu lagi, begitu pun para komandan pembimbing kami. Mereka yang selama ini ada dan berbagi.
Tak banyak kenangan yang dapat kami bagikan, kami hanya berfoto bersama-sama. Mungkin foto-foto inilah yang akan aku bawa pulang, aku pajang di dinding dan menjadi sebuah kisah dan kenangan saat memandang satu-persatu sahabat dan kawanku kelak. Di sinilah di Pusdik Brimob Watukosek Surabaya, yang akan selalu aku kenang. Lereng gunung yang penuh kisah kami.
Dua hari kemudian.
Akhirnya, kami tiba di Lampung, tanpa basa-basi aku berlari ke kamar tempat yang paling aku rindukan. Merebahkan badanku, dan membuka satu-persatu pakaianku dan atributku ini.
Tampak 1 foto yang masih terpajang baik di dinding kamarku, foto Amel. Mungkin besok aku akan ke rumahnya, dan sengaja aku tidak memberikan kabar kepulanganku. Aku akan memberikan kejutan untuknya. Bahagianya hatiku, akhirnya besok bisa menemui wanita yang aku sayangi itu.
Aku raih bantal disisi tempat tidur, aku pejamkan mataku malam ini. Dan ingin rasanya besok segera hadir dan bertemu. Bertemu dengan dia, orang yang paling kukasihi, dan bukan hanya dalam mimpi-mimpi lagi seperti saat jauh.
***
“Van, bangun Van sudah jam 09.00 ini.”
“Masya Allah Bu, Aku kesiangan ya?”
“Iya, mungkin karena Kamu terlalu capek, ya sudah lekas ke sumur, Ibu sudah buatkan makanan kesukaanmu itu.”
“Iya Bu.”
Bergegas aku kucek-kucek kedua mataku, benar saja jam 09.00 tepat. Aku bergegas membersihkan tubuh, dan pergi menemui ibu yang sudah menungguku di meja makan. Suatu kebahagiaan akhirnya aku bisa berkumpul di meja makan, dan bersama keluargaku bercanda-gurau.
Aku segera pamit, seperti yang telah aku rencanakan kemarin aku bergegas ke rumah Amel. Aku merapikan pakaianku berulang kali, menata rambutku, dan aku pacu sepeda motorku dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Tidak sabar rasanya ingin bertemu dengan Amel.
Saat tiba di depan pintu, rasanya aku ingin berbalik dengan apa yang aku lihat. Sesuatu yang sangat tidak pantas dan patut di lakukan.
“Assalamualaikum.”
Amel kaget melihat aku datang, wajahnya tampak bingung, pucat dan kaku.
“Waalaikum salam.”
Kemudian dia berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat pintu di mana aku berdiri.
“Mas Irvan, kapan datang? kok tidak mengabari Aku dulu kalau Mas sudah pulang?”
“Siapa Dia Mel?”
Untuk beberapa detik tubuh Amel mematung.
“Mas, nanti bisa Amel jelaskan.”
“Ya sudah, Aku pulang Mel.”
Aku pun berbalik, tanpa melangkahkan kaki lebih masuk ke rumahnya, tak perlu kejelasan dan mendengar penjelasan apa-apa lagi. Cukup gerak-gerik mereka yang aku lihat saja tampak jelas hubungan apa yang terjalin antara Amel dan laki-laki itu. Aku melihatnya sedang asik berciuman dengan laki-laki itu.
Dengan cepat aku pacu kembali motorku, entah mau ke mana menenangkan emosi dan perasaanku ini. Teganya dia kepadaku. Setelah sekian lama aku perjuangkan. Aku pergi ke rumah sahabatku Chandra untuk menenangkan diri sejenak. Aku hidupkan sebatang rokok, dan kuhisap dalam-dalam.
Berkecamuk rasa sakit dan kecewa. Dan aku matikan teleponku untuk sementara. Setelah aku merasa tenang aku pun kembali pamit dan pergi untuk ke rumah Amel kembali.
Tanpa banyak basa-basi, saat itu juga, hari itu juga aku mengakhiri hubunganku dengan Amel. Tampak raut kesedihan di wajahnya, air mata berlinang membasahi pipi merahnya.
Tapi, cukup sudah sampai di sini saja. Berat! Ya memang berat melepaskan, tapi mungkin akan lebih berat jika aku memaafkan dan memberi kesempatan baginya yang tak pantas aku beri kesempatan itu.
Dia gagal, dia gagal untuk menjadi pendampingku. Dan dia, belum pantas untuk menjadi pendampingku, yang mungkin esok, lusa atau untuk sekian musim menungguku bertugas, untuk berapa hari atau mungkin sampai tak akan pernah kembali lagi di kala aku bertugas.
Amel cantiknya parasmu, tidak sesuai dengan kesetiaan yang aku harapkan. Dan cukup sampai disini aku memberimu kesempatan.