Hari pernikahan kantor kami mulai mendekat, segala persyaratan administratif sudah semua di persiapkan oleh aku dan Silvia.
Kami akan melaksanakan sidang pernikahan dalam bulan-bulan ini. Kasihan Silvia, sosoknya yang kalem dan jarang bertemu aparat, harus membiasakan diri untuk berbaur dalam lingkunganku yang di bilang lebih ketat dan tegas.
Sedikit demi sedikit, Silvia aku perkenalkan dengan sahabat-sahabatku dan juga pada pak Komandan regu kami. Ya sudah menjadi risiko untuknya untuk menjadi seorang ibu Bayangkari kelak, sedikit demi sedikit kegiatan Bayangkari harus dia lakukan. Dan pelajari sejak kini.
Dia masih terus bekerja, dan aku masih terus mengantar dan menjemputnya kerja. Karena kami akan menikah, aku pun memberanikan diri untuk meminta pindah tugas kepada bapak Komandan. Agar aku di tugaskan di tempat yang baru, tidak satu kantor lagi dengan calon istriku itu.
“Sil, bagaimana perasaanmu hari ini tentang sidang pertama Kita?”
“Agak gugup Mas, pertanyaan lumayan banyak begitu juga untuk masukan dan wejangan-wejangan dari para Komandan.”
“Iya, Aku mengerti kok, Yuk Kita pulang Sayang.”
“Duh, sudah berani ya panggil-panggil sayang ke Aku.”
“Enggak mau di panggil Sayang?”
“Mau banget dong Mas.”
“Hari ini jadi kita mau pergi ke toko pakaian pengantin?”
“Iya Mas, boleh, sekalian datang ke salon pengantin milik sahabat Silvia ya?”
“Iya boleh, oh iya Sayang, Kamu ingin pilih pakaian adat apa?”
“Perpaduan antara pakaian adat Jawa dan Sunda Mas, nanti saat akad Aku pakai adat Sunda dan saat resepsinya pakai adat Jawa.”
“Maksudnya Kamu sendiri Vi.”
“Ah Mas, ya berdua dengan Mas, maksud Aku, kita begitu, tapi kalau Mas mengizinkan.”
“Iya boleh, mau pakai pakaian khas adat apa saja boleh, asalkan pengantin Mas tetap Kamu.”
“Ya ampun Mas, manis banget kata-katanya, gombal ih”.
"Serius."
Apa ini yang di sebut kasmaran ya, kenapa aku yang biasa tampak cool dan cuek, tapi sekarang ada sisi romantisnya saat berduaan dengan Silvia. Kami pun bergegas ke dua tempat yang kami tuju, karena waktu kami tidak sebanyak orang lain untuk mempersiapkan segala pernikahan kami, karena mau izin atau cuti banyak-banyak sebelum menikah itu rasanya sangat sayang sekali.
Diam-diam tanpa sepengetahuan Silvia aku telah mengajukan rumah Kredit Perumahan Rakyat, seperti yang telah aku idam-idamkan tempo hari. Walau harus aku cicil, dan belum seluas yang aku harapkan dan cita-cita kan, tapi setidaknya aku ingin memberikan kejutan kecil untuknya dan memberikan kejutan dalam rumah tangga kami. Walau mungkin masih sering saling mengunjungi dan bermalam di rumah kedua orang tua kami masing-masing kelak saat baru-baru menikah.
Minggu berikutnya adalah sidang kedua pernikahan kami di kantorku, semoga saja lancar acaranya. Seperti apa yang kamu harapkan. Dan sore ini, intinya Silvia telah memilih gaun pernikahan yang akan kami pakai, dia membelinya 2 pasang sesuai yang dia idamkan tadi. Dan kami telah mencobanya, aku sangat suka sekali, terutama dengan model-model kebaya dan warna yang dia pilih. Lagi-lagi, calon istriku itu lagi-lagi terlihat sangat cantik dan ayu. Dan saat memperkenalkan aku kepada sahabatnya Ita yang suka merias pengantin, dia sangat menggebu-gebu dan bahagia sekali. Tampak bahagia yang terpancar, bukan hanya sekedar pura-pura semata.
Dari kejauhan aku amati, rasa sakitnya dulu saat di tinggalkan oleh mantan tunangannya, seakan-akan telah hilang di telan bumi. Dan kini yang tersisa hanya kisah cinta kami. Kisah cinta Irvan dan Silvia.
Dia merebahkan bahunya di pundakku, hari ini kami benar2 bahagia, walaupun belum resmi 100 persen menikah dan saling memiliki, setidaknya kami sudah 25 persen merasa saling memiliki satu dengan yang lainnya. Dan sudah 25 persen perjalanan kami menuju satu kata, halal.
Seminggu kemudian.
Pak Komandan memanggilku ke ruangannya, beliau telah memikirkan keinginan aku untuk pindah tugas dan jaga. Dan Alhamdulillah, aku telah mendapat tempat untuk berpindah posisi kerja dengan temanku. Kini aku bertugas di satuan tugas Kantor Brimob Lampung Tengah, dan sudah mulai aktif pindah bekerja minggu depan. Memang lebih jauh dari rumah, perjalanan yang akan di tempuh sekitar satu jam perjalanan, tapi setidaknya aku sudah tidak satu ruangan dengan Silvia untuk proses profesional kerja kami. Apapun itu akan aku jalani dengan rasa ikhlas.