Tiga bulan berselang, aku benar-benar melamar gadis impianku sejak kecil dulu. Tampak adikku Ayu, bapak dan ibu telah bersiap di ruang keluarga. Dan aku masih mempersiapkan diri. Memakai baju batik yang cukup resmi dan aku sisir rapi rambutku ini. “Bismillah” saat bercermin aku berdoa dan berucap dalam hatiku.
“Mas...”
“Iya Yu, ada apa?”
“Mas sudah siap belum? Apa ada yang mau Ayu bantu Mas?”
“Bantu dengan doa supaya acara lamaran Mas dengan Mbak Silvia berjalan lancar.”
“Aamiin... Pasti Mas Ayu doakan, Mas sudah siap belum? Kalau sudah siap mari kita jalan, Ayu takut Mas.”
“Takut apa Yu?”
“Takut calon Mas di rebut orang lagi.”
“Hahaha, meledek saja Kamu ini Yu.”
Kami pun bergegas pergi menuju rumah Silvia, sejak tadi pagi dia sudah sibuk menghubungiku, terus mengirimi pesan bertanya ini dan itu, kami sangat antusias, dan tidak terbayang, ternyata impianku sejak kecil sebentar lagi menjadi kenyataan. Dan hal yang paling berkesan itu saat aku jujur tentang perasaanku kepadanya tempo hari. Ternyata sejak dulu atau sejak Sekolah Dasar tepatnya Silvia pun sudah lama memiliki perasaan suka kepadaku. Atau apakah itu tanda jika kami ini jodoh, dan kami telah memiliki rasa sayang yang sama sejak kecil, saling memperhatikan, hanya saja sama-sama tidak berani mengatakan perasaan kami, karena kami seorang sahabat lama.
Hanya 10 menit saja perjalanan dari kediamanku ke rumah Silvia, dari jauh sudah tampak berjejer beberapa tamu undangan baik kerabat dan tetangga Silvia. Dan kedua orang tuanya menyambutku, sambutan yang sangat hangat layaknya kepada seorang anak, dan kami pun banyak bercerita tentang latar belakang keluarga kami masing-masing, khususnya para orang tua kami dan aku lebih banyak menyimak penjelasan mereka. Sampai satu kata, di mana bapak menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami kepada keluarga Silvia, yaitu untuk melamarnya.
Akhirnya calon mertuaku memanggilkan Silvia untuk menemui kami, dia menggunakan gaun sederhana berwarna merah muda, di padukan dengan kerudung merah hati, dia terlihat mungil, cantik dan ayu. Dan dia tersenyum sangat manis kepadaku. Singkat cerita inilah momen kami akan melakukan lamaran.
“Nak Silvia, kedatangan mas Irvan sekeluarga kesini hari ini adalah untuk meminangmu, apakah Kamu menerimanya Nak?”
Begitulah calon bapak mertuaku bertanya khusus kepada Silvia.
“Iya Pak, Silvia menerima lamaran dari Mas Irvan.”
“Alhamdulillah.”
Aku pun tersenyum bahagia, kemudian Silvia mengajak aku berbincang di teras rumah sambil menikmati beberapa sajian masakan.
Sedangkan orang tua kami masih berlanjut untuk berunding menentukan kapan sebaiknya hari pernikahan akan di laksanakan. Aku menggenggam tangan Silvia, dan untuk meyakinkan hatiku, akupun mengulang bertanya kembali kepadanya.
“Sil, benar sudah yakin mau membina rumah tangga dengan Mas.”
Dia tersenyum dan mengangguk.
“Sil, benar mau menikah dengan Mas? Mau jadi istri? Mau jadi ibu dari calon anak-anak Mas nanti?”
“Iya Mas Aku sudah ikhlas dan aku mau.”
“Siap jadi calon ibu bayangkarinya Mas?”
“Iya, aku siap sampai mati hidup menjadi istri Mas, jadi ibu dari anak-anak Mas dan jadi ibu bayangkari Mas.”
Aku pun mencium kedua lengan gadis impianku ini.
“Ya Mas percaya dan yakin Sil, ya sudah besok atau lusa kita persiapkan berkas-berkas kita ya, untuk pengajuan nikah kantor dan syarat-syarat nikah agama juga.”
“Iya Mas.”
Aku pun berdiri dan mendekat kepadanya, dan aku berucap lembut kepadanya.
“Sil, boleh Aku peluk dan kecup keningmu?”
“Iya, boleh.”
Inilah momen pertama aku peluk dan mencium keningnya. Bahagia sekali kami hari ini. Walaupun kami telah saling mengenal sejak lama, tapi seperti yang beberapa waktu lalu dia bilang. Kami tidak akan pacaran lama, tapi pacaran setelah menikah saja nanti.
Sekitar 3 jam kami berada di rumahnya, dan kami telah memilih waktu bulan Desember sebagai hari pernikahan kami, masih ada 6 bulan waktu yang kami miliki. Dan kemungkinan cukup waktu sambil mengajukan nikah kantor kami. Aku pun beranjak pulang dari rumah Silvia bersama bapak dan ibuku, dan terpancar rona bahagia di wajahnya, senyum yang penuh kebahagiaan. Dan semoga senyum manis itu tak akan pernah pudar, dan terus terpancar di wajah ayunya.
Seperti apa niat baikku, seperti itulah Allah dengan segala karunianya mempersatukan kami, sejak tahun 1997 duduk di bangku Sekolah Dasar mengaguminya, dan kini aku di persatukan saat tahun 2012. Cinta monyet yang menjadi nyata. Dan tak ada yang tidak mungkin, asal kita yakin dan berusaha.