Akhirnya, untuk pertama kalinya aku berhasil membawa bidadari hatiku untuk menunggangi kuda besiku ini. Sejak dari Sekolah Dasar mulai mengagumi, sampai Sekolah Menengah Atas yang terus mencari kabarnya, dan kini Allah bener-benar memberikan kesempatan untuk aku dan Silvia dekat.
“Sil, mau langsung pulang atau jalan-jalan mencari angin dulu sepulang kantor?”
“Gimana baiknya saja Mas, kalau Mas tidak lelah, mungkin semangkok bakso mas Yanto boleh.”
“Ok, siap, apapun permintaan Tuan Putri akan Aku laksanakan.”
“Duh lebaynya keluar nih Dia.”
Ocehan Silvia mulai keluar dari bibir tipisnya, Sambil mencubit pinggangku karena kesal aku perolok sejak tadi.
“Pegangan dong, nanti jatuh Sil.”
“Ih apa sih? kan mulai kan nakal.”
“Benar, awas nanti jatuh, Aku mau ngebut dikit nih bawa motornya.”
“Iya, iya, Aku pegangan nih, Aku peluk.”
Tanpa satu kata maukah jadi pacarku? Atau I Love You, akhirnya kami bisa sama-sama dekat, rasa nyaman yang sudah terjalin dari teman sejak kecil, dan berulang beberapa bulan ini untuk menjadi sahabat yang mendengarkan segala keluh kesahnya saat dia kehilangan sosok tunangan. Dan allah, dengan mudah membuat kami dekat dengan caranya yang indah.
“Sil, nanti kalau sudah menikah nih, masih mau lanjut kerja kah?”
“Menikah Van?”
“Iya, kalau ini mah, Aku tanya doang loh, masih sensi aja deh si Ibu ini ah!”
“Tergantung suaminya, kalau belum repot urus anak-anak dan suami izinkan kenapa tidak.”
“Ya sih, boleh-boleh saja kalau belum repot.”
“Belum mau cari pacar baru apa Bu?”
“Belum ke pikiran kalau pacaran lagi mah, ingin yang pasti-pasti saja, nikah, pacaran setelah nikah begitu pasti lebih asyik.”
“Boleh juga itu idenya, setuju Saya, boleh-boleh Vi.”
“Betul kan?”
“Ya, bagaimana mau tambah enggak baksonya? Esnya mau apa nih?”
“Teh manis saja.”
Mengalir bagaikan air, merasa nyaman dan dekat, mungkin ini kode keras darinya untukku. Mungkin satu atau dua bulan lagi, aku akan memberanikan diri untuk melamarnya. Tanpa pernah bilang aku suka dia, dan tanpa pernah bilang aku suka kamu sejak kita kecil dulu.
Aku terus memandang wajah ayunya, ya mungkin sudah puluhan tahun aku memandang wajah wanita yang aku kagumi ini, dan tak ada salahnya jika segera aku pinang dirinya untuk menjadi pendamping dalam hidupku. Kini yang terpikirkan adalah saat-saat kelak kami bersama, mungkin sebuah acara pernikahan yang sederhana, dan sebuah rumah mini malis cukup menarik aku berikan sebagai hadiah kisah cintaku yang sangat berharga dan penuh perjuangan ini. Bersyukur dalam harapan yang mulai pasti, dan semoga Silvia mengerti besarnya rasa cinta dan kagum yang aku miliki untuknya. Insya Allah, Silvia adalah sosok yang tepat untuk menjadi kekasih hati, pendamping hidup, calon ibu dari anak-anakku dan sebagai ibu bayangkariku.
“Van, ayo pulang, Kamu makan sambil mikir apa sih?”
“Mikir Kamu, ayo Pulang, nanti mama dan papa Kamu ribut lagi.”
“Ya jam sudah menunjukan pukul 20.30 malam, Upik Abu wajib sampai rumah.”
“Ok.”
Begitulah, hari-hariku dan dia mulai berubah drastis, semoga saja cintaku dan Silvia bukan sekedar kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan.
“Ya Allah, bukan tidak bersyukur, bukan juga banyak pintaku kepada-Mu ya Rabb, izinkan, izinkan kali ini dia mengisi hidupku jadikan dia jodoh yang Kau Ridhoi.”
Aku benar-benar memantapkan hatiku kini, kali ini yang aku pikirkan adalah berumah tangga. Ingin menjalani hidup dan menata hidup dengan lebih baik lagi. Bersama Silvia gadis yang sangat aku sayangi sejak kecil.