Hanya bisa memandang dari kejauhan, tetap mengagumi dan mencintainya dalam hati. Sekali-sekali masih sering bertemu dan mengobrol bersamanya saat bertemu di kantor. Silvia kenapa terlalu cepat kamu memutuskan bertunangan dengan orang lain. Atau aku yang terlalu lambat untuk dekat denganmu. Walau hati ini hancur dan menyesali tapi tetap berharap suatu keajaiban dalam sebuah doa.
Pekerjaan di kantor mulai menumpuk, tidak hanya mengurusi keamanan Bank Danamon Metro saja, tetapi sekali-sekali aku mulai di rolling untuk menjaga keamanan daerah.
Maklum dalam bulan-bulan ini akan segera di laksanakan pemilu nasional maupun daerah. Kami sebagai petugas keamanan akan menjadi lebih sibuk, untuk menjaga keamanan. Akan banyak risiko, selalu ada huru-hara yang di lakukan oleh para pesaing partai. Saling berebut suara, dukungan, simpatisan dan wilayah, walau untuk sekedar memasang baliho dan umbul-umbul partai semata.
Di situlah kami harus selalu waspada, kendaraan barakuda, seperti wather connon, tameng dan gas air mata harus sudah kami siapkan selalu. Antisipasi dan penjagaan yang cukup ketat dalam semua aksi-aksi partai. Dan untuk sebulan ini aku di tugaskan di sana. Untuk menjaga situasi daerah yang sedang pilkada.
Sebulan kemudian.
Cukup lama, aku tidak bertugas di sini, dan akhirnya aku bisa melihat sahabat kecilku kembali. Tersirat wajah ayunya, hanya saja kenapa ada goresan-goresan kesedihan yang seakan-akan di sembunyikan olehnya. Aku pun mulai menyapa, kebetulan masih pagi dan belum ada costumer yang datang.
“Selamat pagi Silvia.”
“Pagi Irvan.”
Senyum cantiknya agak berubah, tidak seperti biasanya. Senyum yang sedikit tampak datar dan bukan dari hatinya. Aku pun melanjutkan kegiatanku, duduk dan berkeliling, sambil memeriksa alarm kantor, keamanan sekeliling kantor, mengecek tabung-tabung kebakaran yang tersedia. Bercanda gurau dengan sahabat-sahabat satu kantor sambil menikmati secangkir teh, kopi dan kudapan-kudapan pagi.
Ya seperti yang aku perhatikan, ada yang lain dalam keseharian Silvia, kenapa dia tampak sedih? menyendiri dan selalu menebarkan senyuman-senyuman yang terasa palsu dan berbeda.
“Eh Mas Irvan, lama enggak ketemu sampean Mas? Rolling tugas ke mana Mas kemarin?
“Biasa Di, lagi musim Pilkada, jaga keamanan Di rawan.”
“Iya Sih Mas betul itu.”
“Di, Mbak Silvia kenapa? Kok seperti melamun terus?”
“Ya Mas, kadang kalau siang atau sore Dia nangis Mas, Edi suka lihat.”
“Lah kenapa Di?
“Dengar-dengar Mas, putus sama tunangannya?”
“Oh ya, serius Di?”
“Iya Mas, ya jadi begitu, aneh, kadang sedih, kadang ketawa-ketawa sendiri, menangis, nyanyi-nyanyi sendiri kalau sore sudah enggak ada Costumer.”
“Oh.”
“Ya orang satu kantor ikut pada sedih dan kecewa Mas, dan hanya bisa menghibur saja.”
“Iya.”
Dengar semua ini, hatiku jadi enggak karuan, sebagai teman kecilnya jelas saja aku ikut sedih, tapi jadi seorang yang telah lama sekali memendam perasaan kepadanya jelas ini kesempatan besar bagiku untuk bisa mendekat dengannya kembali. Aku janji akan menghiburnya, dan mengisi hari-hari sedihnya. Semoga saja perlahan dia menerima kehadiranku, walau mungkin aku masuk sebagai sosok sahabat nya dahulu, yang mendengarkan sedihnya, yang menghibur luka hatinya. Aku harus berani mendekatkan diri padanya mulai hari ini. Semoga Silvia bisa menerima perhatian dariku ini.
Sore hari,
“Sil, sibuk tah?”
“Tidak terlalu sibuk hari ini Van.”
“Nih, ada jus buah untuk Kamu.”
“Terima Kasih ya Van.”
“Ya, Kamu pulang di jemput?”
“Nggak Van, Aku sekarang bawa motor sendiri.”
“Oh iya, ya kalau mau nebeng Aku juga tidak apa-apa sekali-sekali nanti ya, kan rumah Kita dekat.”
“Iya.”
Dia menjawab semua pertanyaanku, dengan datar, tapi ya, aku harus memakluminya. Semoga berjalan waktu kami bisa dekat kembali. Silvia andai kamu tahu aku sangat memperhatikan kamu. Aku pun bergegas, melanjutkan kerjaku, mengawal pihak bank mengirim dana dan jaminan mereka ke kantor pusat sore ini.
Beberapa bulan kemudian.
Aku mulai mendekati Silvia, dan penerimaan Silvia kepadaku semakin baik. Kami mulai dengan segala kegiatan dan obrolan yang santai. Mengajaknya berangkat atau pulang kantor denganku. Berdua mulai menikmati waktu kami saling mengisi apa yang di sebut kekosongan hati. Perlahan demi perlahan, aku pun mulai masuk ke dalam hatinya. Walau sampai saat ini aku belum berani untuk mengatakan aku mencintaimu, atau mungkin setelah dewasa kata-kata cinta bukan sesuatu nomor satu, yang harus di ucapkan dan di utarakan, tapi cukup saling mengerti, cukup saling memperhatikan satu dengan yang lainnya. Dan biarkan waktu yang menggoreskan kisahnya sendiri. Dan aku percaya akan semua itu.