bab 11

807 Kata
Dua hari berselang, seperti apa yang aku inginkan beberapa hari lalu. Aku segera menghubungi Aldo. Agar siap bergantian jaga sebentar denganku. Aku akan mencoba mendekati Silvia. “Do, jam 12.00 tepat Aku izin istirahat ya hari ini, tidak apa-apa kan?” “Boleh Mas, siap.” “Ya Aku ada urusan sebentar.” “Iya Mas, Siap aman.” Aku pun bergegas bersiap, mulai memantau dan memperhatikan gerak-gerik Silvia. Sebentar lagi dia akan istirahat. Agar tidak membuatnya curiga, kini aku yang terlebih dulu membeli makanan di tempat langganan Silvia. Benar saja, setelah 5 menit aku menunggunya, akhirnya Silviapun datang. “Ibu, biasa Bu, nasi dan cumi-cumi pedasnya.” “Iya Mbak Silvia.” Silvia duduk, tepat di depan aku duduk juga. Karena memang kursi di sini hanya ada dua saja, dua buah bangku panjang. “Istirahat Mbak Sil?” “Eh iya Mas Irvan.” “Mbak, masih kenal dengan Saya?” “Maaf Mas pangling, siapa ya Mas Irvan kan?” “Ya Allah mbak Sil saya Irvan, teman Sekolah Dasar dulu, masa lupa sih.” “Ya ampun, Irvan teman Tian, Sarinto dan Arif dulu ya. Pangling Saya Mas, benar, maaf ya Mas.” “Sudah Saya duga.” “Ya, betulkan, dulu masih kecil-kecil, kita suka kejar-kejaran, terkadang main boneka dan polisi-polisian, eh sekarang kita bertemu lagi Mas Irvan benar sudah jadi polisi benaran.” “Iya, sudah lama sekali.” “Betul, sudah lama banget.” Begitu lah, akhirnya aku bisa menemani dan berbincang saat dia makan siang, berpura-pura tidak sengaja dan kebetulan bertemu saja. Begitulah gayaku untuk bisa dekat dengannya kembali. “Sil duluan ya, Aku mau merokok dulu dan mau shalat dulu nanti.” “ Iya Mas.” “Bu, sekalian ya dengan Mbak Silvia.” “Iya Mas.” “Sil, sudah Saya bayar ya.” “Terima kasih ya Van, kenapa harus repot.” "Tidak apa-apa Sil, sekali-sekali." Aku pun beranjak, dan dia tersenyum padaku. Aku bergegas masuk ke kantor, dan lanjut menunggunya di lantai dua menuju Mushala. Sambil menikmati sebatang rokok, dan benar saja beberapa menit kemudian dia pun naik. “Van, belum shalat?” “Belum, ini lagi merokok sebentar.” “Oke.” Dia pun berlalu, dan aku mematikan batang rokokku. Dia sedang berwudu, aku tunggu sejenak sampai selesai dan aku juga mengambil air wudu. Dia mengeluarkan mukena miliknya, dan memakainya. “Mau shalat sama-sama Sil?” “Oh iya boleh.” “Ya sudah, Mas di depan ya?” “Iya.” Beginilah akhirnya, satu momen baik yang pertama aku buat. Bisa berbincang bahkan shalat bersamanya. Kebetulan saat shalat hanya ada kami berdua. Dan setelah sholat tampak mas Edi dan mas Moko beranjak bersiap akan shalat. “Ehm, Mas Irvan dan Mbak Silvia Shalat berdua lo.” “Eh Mas Moko dan Edi, itu temanku Sekolah Dasar Mas.” “Oh begitu kebetulan sekali ya Mbak Sil, pantes kok akrab.” “Ya lebih dari itu juga masih boleh.” “Apa sih Mas Edi.” Aku mendengarkan percakapan dan canda gurau mereka, sambil memakai sepatu taliku. Ya semoga saja, ini adalah waktu yang tepat untuk mendekatinya. Silvi pun beranjak, mengambil peralatan shalat dan make-up nya. Aku akan disini sejenak. “Mas benar sampean dulu teman Sekolah Dasarnya Mbak Silvia.” “Betul Mas Edi.” Mas Edi office Boy pun mendekatiku. Dan dia memulai percakapan. “Baik Mas Mbak Silvia itu, apa sampean juga suka ya?” “Hahaha, bisa saja Kamu Di.” “Ya, banyak yang diam-diam berusaha dekat dengan Mbak Silvia.” “Oh ya?” Aku jadi mulai ingin tahu dan menyelidiki, tampaknya si Edi agak sedikit banyak tahu dan gampang di cari info. “Ya Mas, perhatikan saja ada beberapa teman kantor, tapi Mbak Silvia sudah tunangan Mas.” Hatiku langsung mendadak lemas mendengarnya. Dulu saat SMA dan mulai berani mendekati dia sudah berpacaran, dan sekarang dia sudah bertunangan. Tunangan gitu loh, sudah calon, calon istri seseorang. “Oh begitu Mas, syukurlah Aku ikut senang mendengarnya.” “Ya Mas.” Mendadak tiga hariku jadi hancur, sesuatu yang baru mulai aku beranikan diri seketika hancur mendengar cerita dari Edi. Ya Allah, apa benar dan apa harus aku menelan perasaanku ini, tanpa pernah berani, dan tanpa ada kesempatan lagi. Setelah sekian lama di pertemukan kembali. Dan lagi-lagi satu pil pahit harus aku telan mentah-mentah kembali. Silvia, belum saatnya dan mungkin masih harus menunggu lama untuk mengucapkan perasaan ini. Dua minggu kemudian. Malam ini, kebetulan aku lewat depan kantor. Dan aku memutuskan untuk mampir dan melihat situasi sejenak. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.15 WIB, dan mereka tampak mulai bergegas pulang kantor. Dari kejauhan, aku melihat dia mendekati sebuah motor, ya Silvia, dia menaiki motor pria muda itu. Mungkin, pemuda inilah yang di ceritakan Edi sebagai tunangannya. Dan aku menatap mereka dari kejauhan dan hanya dapat menarik nafas dalam-dalam agar aku sabar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN