bab 10

773 Kata
Lampung 2009, Aku di pindah kerjakan ke Bandar Lampung, dan sebagai petugas keamanan aku di tugaskan untuk menjaga situasi dan kondisi Bank Danamon Indonesia. Membantu mengawal mereka jika mengirimkan dana atau jaminan ke kantor pusat. Dari satu kantor cabang ke cabang lainnya. Dan kebetulan aku di tugaskan di Bank Danamon Metro, kebetulan dekat dengan rumah bapak dan ibu. Hampir 4 tahun berlalu, dan masih nyaman untuk menyendiri. Menyendiri hati, sampai entah kapan ada cinta yang mengetuk dan mulai menghampiri. “Antrean nomor lima.” Suara Teller itu kenapa membuatku ingin memalingkan wajah dan melihatnya. "Ya Allah, ternyata itu Silvia." Wajah kecilnya masih tersirat, aku mulai mendekat dan membaca nama pengenalnya di atas meja Teller. Benar itu ternyata Silvia, teman kecilku dan orang yang pernah aku kagumi sejak kecil dulu. Hati ini mulai bergetar, dan berbunga-bunga kembali. Mungkin sudah 10 tahun lalu aku tidak melihat dan bertemu dengannya. Nanti, segera aku akan menyapanya saat senggang. Tugas di Metro, dan di Danamon memberikan sesuatu kejutan tersendiri bagiku. Akhirnya, setelah sekian tahun aku di pertemukan oleh Allah dengan Silvia. Silvia sahabat dan pujaan hatiku saat Sekolah Dasar dulu. Yang dulu hilang kini di pertemukan kembali. Jam istirahat. Aku mulai menunggu Silvia, sengaja aku berkeliling dan menjaga di dekat dia bertugas. Masih ada sedikit takut untuk memulai menyapanya. Wajahnya masih imut seperti dulu, terlihat cantik dan menawan dengan riasan yang tidak terlalu tebal, dan dia sangat tampak ayu. Aku melihatnya mulai meninggalkan ruangan kerja, terdengar langkah kakinya mulai mendekat. Aku beranikan diri untuk tersenyum, dan dia membalas senyumku. “Siang Mbak Silvia.” “Selamat siang Mas.” Dia pun bergegas berlalu meninggalkan halaman muka kantor, mungkin dia sedang terburu-buru dan lelah. Aku perhatikan ke mana dia berlalu. Dia menuju tukang jus buah yang berada di seberang kantor, dan dia masuk ke kantin sederhana yang berada di sisinya. Aku terus perhatikan, dan sekali-sekali aku memantau keamanan ATM dan area kerja Bank dari kejauhan. Silvia tampak asyik berbincang-bincang dengan ibu penjual nasi itu, ramah, wanita yang ramah. Tak lama kemudian, dia meninggalkan tempat istirahatnya. Kali ini dia yang tersenyum ke arah kami. Ke tempat di mana kami berjaga. “Mari Mas...” “Iya Mbak.” Sepertinya gadis manis itu masih belum sadar jika aku teman kecilnya dulu. Mungkin wajahku, atau penampilanku sedikit berbeda dari dulu atau sangat berbeda dan membuat dia benar-benar lupa kepada aku. Dia bergegas menaiki anak tangga, sepertinya dia mau ke lantai tiga, di sana terletak Mushola, ya mungkin saja dia mau shalat sejenak. Jam menunjukkan pukul 12.30 WIB, tampak Silvia mulai menuruni tangga, wajah yang lebih berseri, dan tampaknya dia telah memperbaharui riasannya. Aku terus memandanginya, dan tampaknya dia mulai sadar jika aku mulai memperhatikan. Baiklah, aku akan menghubungi Ando, agar berganti posisi jaga denganku kembali. Cukup untuk hari ini, aku melihatnya. Dan membuat hatiku sedikit berbunga-bunga kembali. Jam 15.30 WIB. Tak terasa, sudah sore hari dan waktunya untukku kembali ke kantor pusat Brimob Bandar Lampung. Mengawal dan mengirim uang serta jaminan ke Bank Pusat. Senjata laras panjang kami mulai di peluk di depan d**a masing-masing. Memasukkan satu persatu aset Bank ke dalam mobil penjagaan khusus. Dan kami mulai bersiap untuk pergi. Terakhir kali untuk hari ini, aku melihatnya kembali. Diam-diam aku memperhatikannya. Dia tampak sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin esok atau lusa, aku akan beranikan diri untuk mulai berbincang-bincang lebih panjang dengannya. Akan aku atur waktu, mungkin di saat dia istirahat dan akan shalat Zuhur di sela-sela istirahat siang. Pak sopir mulai menjalankan mobil, Ando duduk di belakang bersama beberapa staf Bank. Dan aku duduk di samping pak sopir. Pak sopir ini bermana pak Slamet, dia juga cukup ramah pada kami. Sepanjang jalan kami isi dengan percakapan-percakapan. Hari pertamaku bertugas, dengan cerita yang menarik hatiku. Perjalanan lancar dan cepat, hanya sekitar satu jam saja aku telah sampai ke Teluk Betung, Bandar Lampung. Di sanalah kami harus mengirimkan Aset Bank setiap hari. Dan setelah itu kami pun pulang untuk membuat laporan kerja ke Markas Brimob yang terletak dekat dari sini. “Mas Irvan, kenapa senyum-senyum pulang dari Metro?” “Ehm, mau tahu saja Loe ini Bro...” “Karena teller Bank tadi ya Mas, ada salah satu yang di perhatikan Mas nih tampaknya, sama sih Mas, tellernya masih cantik-cantik sepertinya Mas, muda-muda.” “Hus ah, pokoknya setiap hari dan tugas kita bergilir untuk jaga ya.” “Boleh Mas, asal pas saja jatah rokoknya.” “Gampang itu mah Bro.” Kami pun bergegas menghampiri si kuda besi di area parkir, dan aku kembali pulang ke arah Metro kembali. Ya sekarang aku memilih tinggal di rumah bapak dan ibu, dan hanya sekali-sekali saja beristirahat di mes milik kawan-kawan jika aku benar-benar lelah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN