"Katakan mana yang sakit, Agam. Kepalamu? Di bagian mana? Aku akan mengusapnya." "Tidak ada yang sakit, Jazmin. Aku sudah minum obat, maaf ya malam tadi jadi merepotkanmu," balasnya sembari memeluk Jazmin yang berdiri di samping kursi roda yang ia duduki. Jazmin berinisiatif meletakkan sepiring irisan apel di atas paha Agam. "Aku lebih takut kehilanganmu daripada harus kerepotan," ujarnya. Di sudut ruangan yang terdapat jendela, ada sosok Aksa yang memperhatikan kegiatan keduanya. Kadangkala, ia membuang wajahnya dan memilih menatap pemandangan diluar daripada harus menontoni bagaimana sikap Jazmin yang memperlakukan Agam dengan begitu lembut. "Tenggorokanku sakit untuk menelan dan jika mengunyah akan sulit karena rasanya sakit." "Aku akan memotongnya lebih kecil lagi, sebentar, ya .

