"Kamu sakit?" Arata bertanya setelah melihat wajah Vena yang begitu pucat. "Haruskah kita ke dokter?" Dari kejauhan, terdengar gemuruh orang bertepuk tangan. Satu persatu nama dipanggil dan mereka pergi tak lebih dari enam puluh detik. Vena sudah bersiap di ruangannya. Dia tak bisa berdiri tegap. Perutnya keram karena sedang haid hari pertama. Dia mulai cemas. Rasanya ingin menangis saja. "Vena. Kamu mendengarku?" Arata menggoyangkan bahu Vena. Gadis itu sangat mengkhawatirkan. Duduknya bungkuk. Riasan rambutnya sedikit berantakan. "Pergilah Arata. Ini bukan tempatmu," ucap Vena pelan. Dia sedang tak ingin bicara. Sungguh. "Kamu yakin?" Arata melihat pantulan wajah Vena di cermin. Dia ragu untuk meninggalkan Vena sendiri. Tapi gadis itu mengangguk. "Grivena Athalia. Setelah ini

