Tetaplah di posisimu

621 Kata
"Apa kau gila?! Kau datang dari jauh, dari sekolah yang sangat terkenal di Tulip. Dan datang ke sini hanya untuk membuat masalah?!!" Vena dan Yuki Sensei terjebak dalam adu argumen. Dia memandang Vena dengan wajah geram. Tak tanggung-tanggung, nadanya pun ikut meninggi. Berbeda dengan murid lain yang pernah Yuki Sensei tangani, Vena adalah murid yang tak mau kalah debat. Gadis itu terus membalas apapun yang dikatakan Yuki Sensei. Parahnya, semua perkataan Vena ada benarnya. "Kau seorang guru! Tugasmu bukan memarahiku, tapi mencegah hal seperti itu terjadi." Tangan Vena menunjuk ke arah Roze. Temannya itu penuh memar dan rambutnya sudah tak berbentuk. Kondisi Roze benar-benar memprihatinkan. "Sebaiknya kau belajar lebih baik lagi, Sensei. Kau guru! Kau belajar psikologi kan? Kau harusnya tahu benar apa yang perlu dilakukan untuk menangani kasus ini. Bukannya menyalahkan salah satu pihak tanpa mencari tahu!" ucap Vena sebal. Amarahnya masih di atas kepala. Dia mengeluarkan apa yang ada di hati dan pikiran tanpa peduli dengan akibatnya. Nara memijat keningnya sambil mondar-mandir di depan pintu. Dalam hal ini, dia tak bisa ikut campur. Hanya guru BK yang punya hak untuk mengurusnya. "Wahh!! Kata-katamu bagus sekali. Apa kau mencoba mengajari gurumu?! Orang tuamu tidak mengajari sopan-santun, hah?!" Yuki Sensei sudah muak. Vena benar-benar keterlaluan. Rasanya surat DO saja tidak cukup untuk melampiaskan kemarahannya. "Kalaupun Rachel salah, kau tidak boleh mematahkan kedua tangannya! Lagipula Roze menjadi pelayan berdasarkan keinginannya sendiri. Kita tidak bisa menyalahkan Rachel." "Lalu bagaimana dengan Roze? Dia juga korban! Dia mengalami trauma sekarang!" Vena menghela nafas. Tatapannya melotot kesal. "Dan ya! Orang tuaku tidak mengajariku sopan-santun. Lalu kenapa? Aku belajar lebih banyak dari pengalaman, makanya aku memberi tahumu tentang hal ini. Apa yang membuat Sensei berpikir, memberi nasihat kepada orang yang lebih tua adalah bentuk ketidaksopanan?!" Yuki Sensei membuang nafas tak percaya. "Ih, kau ini—" Nara menangkap tangan Yuki yang hendak melayang memukul Vena. "Yuki Sensei, sebaiknya serahkan ini padaku!" ucap Nara. Yuki menatap Nara dengan wajah tak yakin. "Benar juga. Kau kan bibinya. Apa sejak kecil keponakanmu ini tidak diajari cara bicara yang baik?" Dia balik menyalahkan Nara. "Dia tidak punya orang tua," ungkap Nara. "Ah, sudahlah. Serahkan ini padaku." Wajah Yuki terlihat terkejut setelah mendengarnya. Dia memandang Vena dengan tatapan menyesal, namun Nara bersikeras mendorongnya keluar dari ruang BK sebelum Yuki berkata maaf. Setelah itu, Nara melihat Roze. "Hei, Nak. Keluarlah. Tidak ada yang memintamu masuk ke sini." Roze masih menangis. Dia mengusap pipinya lalu permisi keluar. Cindy menunggu di luar, dengan seringaian di bibir. "Sudah selesai mainnya?" "Apa maksudmu?" tanya Roze. Air mata palsunya terhenti. Kedua gadis itu saling menyeringai. "Tampaknya kau berhasil menarik perhatian Vena. Walau ... hei, rambut yang bagus." "Urusi urusanmu sendiri," kata Roze ketus. Dia berlalu masuk ke dalam kelas. Kembali ke Vena dan Nara di ruang guru. Sama-sama melipat tangan dengan mata yang tajam. "Kau tidak waras," kata Nara. "Kemana kau, di jam mata pelajaranmu?" Vena bertanya. Dia memang awalnya mau mencari Nara ke ruang guru. Jadi Vena menyalahkan Nara. Jika saja wanita itu datang tepat waktu, pasti peristiwa ini tak akan terjadi. "Kamu mau mencoba mengalihkan pembicaraan?" duga Nara. Berbicara dalam bahasa Tulip sehingga orang yang mendengar tidak akan mengerti. "Tidak. Ini semua berhubungan. Jika saja kau datang mengajar—" "Aku hanya guru sementara!" tegas Nara memotong. Mencoba menghentikan setiap ucapan Vena hingga gadis itu tak mampu melawan lagi. "Sementara?" Vena bertanya. Nara mengangguk. Dia mengira Vena sudah kalah bicara. "Kita akan pergi setelah—" "Meski begitu, sekarang posisimu adalah seorang guru!" Vena balik memotong. "Maka bersikaplah seperti seorang guru, kerjakan kewajibanmu sebagai guru. Sampai kata 'setelah' itu tiba." Vena menyenggol bahu Nara. Gadis itu keluar dari ruang BK dengan perasaan sebalnya. Dia melirik ke kanan dan kiri koridor, lalu berjalan menuju kelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN