"Kau masih tidak puas ya?"
Suara Vena tiba-tiba terdengar. Entah kapan, Cindy menemukan Vena berdiri di sebelahnya.
"Siapa kau?" Rachel bertanya. "Oh, kau, si Vena sialan itu!"
Tangan Rachel mencengkram guntingnya dengan erat. Bersiap jika Vena kembali menyerangnya, maka dia takkan tanggung-tanggung untuk membunuh.
"Kau yang sialan. Kenapa kau mengusik Roze? Aku harap sekarang kau punya jawaban yang bagus."
Rachel terkekeh. "Kau ingin tahu?"
Semua orang terdiam. Suasana menjadi tegang.
"Aku ragu kau akan mengerti tentang peraturan di wilayahku. Roze, dan semua orang di sini, mereka adalah pelayanku sejak mereka memutuskan masuk ke dalam Hars."
Hars adalah nama geng Rachel dan Alex.
"Lalu?"
"Aku hanya menyuruhnya mengambil makananku karena tanganku patah. Aku tak salah bukan? Dia adalah pelayanku, tapi apa yang dia lakukan? Roze mengagungkan nama tunangannya, dan mencaciku dengan kata-kata kasar. Kata-kata yang tak pantas diucapkan pelayan. Dia bilang Alex akan mengusirku karena aku tak sekuat dulu. Dia akan segera menggantikanku."
"Memang kau tidak sekuat dulu kan? Aku bisa mengalahkanmu. Kau menjadi lemah karena orang-orang ini. Hars digerogoti oleh rayap dari dalam. Memang dari luar masih terlihat sama. Tapi sekali guncangan saja mampu membuatmu roboh." Cindy membeo.
"Bodo amat. Aku tak mengerti dengan Harsmu itu. Tapi di sini, kedudukan kita adalah murid. Sudah sepantasnya kita saling merangkul, bukan?" kata Vena.
"Sudah kuduga kau takkan paham. Aku hanya melakukan tugasku sebagai majikannya, Vena. Kau tidak perlu ikut campur."
Vena terdiam ketika Rachel membalikkan badannya menghadap Roze. Gunting di tangannya gemetar. Pandangan Vena beralih pada Roze.
"Lalu bagaimana, kalau aku tetap ingin ikut campur dan tidak membiarkan kau menyakitinya? Bukankah mengambil makanmu sendiri lebih hemat waktu daripada menyakitinya. Kau lapar bukan? Mau kuambilkan—"
Rachel mengangkat guntingnya dengan cepat, hendak menoreh wajah Vena. Namun lagi-lagi gerakan cepat itu tertahan.
"Aku bilang jangan ikut campur." Nafas Rachel memburu. Nadanya masih terdengar bersahabat. "Kukatakan dengan sopan kareka aku mengakui kekuatanmu."
"Maaf," ucap Vena. "Aku gatal."
Rachel mengernyit.
"Jika perihal makanan kau berbuat seperti ini, lebih baik kau kubuat cacat saja."
Kraakkk.
Rachel tak bisa memajukan tangannya lagi. Rasanya cengkraman Vena lebih kuat dari kemarin. Pergelangan tangannya retak seketika.
"Akkhhh!!" Pekikan itu membuat orang-orang menutup telinganya. Rachel berlutut, menangis sekeras mungkin. "Sakit! Sakit sekali!!"
"Tunggu dulu. Kakimu belum." Vena menakut-nakuti.
"Lepaskan! Kau sialan!"
Di antara orang-orang itu, Roze menatap ngeri seolah menunggu gilirannya. Cindy berlagak tenang, namum bibirnya meringis karena luka kemarin berkedut lagi.
"Apa yang terjadi di sini?!" Terdengar suara serak seorang wanita paruh baya. Vena tak melirik sedikitpun. Dia menikmati ekspresi kesakitan Rachel. Sampai tiba-tiba, pipinya ditampar keras.
Kim Nara.
Vena memegangi pipinya yang terasa remuk. Tamparan Nara mampu membuat sudut bibirnya berdarah.
"Baru hari kedua. Kau mau bunuh orang, hah?" tanya Kim Nara, dalam bahasa Tulip.
Telinga Vena dijewer dari belakang. Yuki sensei memutarnya dengan geram. "Anak nakal! Ternyata ini alasan TITSH memindahkanmu ke sini?!"
Vena digiring ke ruang BK. Diomeli habis-habisan sepanjang perjalanan. Orang-orang melihatnya dengan tatapan bertanya. Termasuk Hideki Arata yang kala itu baru keluar dari kelas 3 A.
Cindy masih mematung. Menatap Roze dan Rachel bergantian. "Kalian sama gilanya," ejek Cindy.
Rachel menjerit sakit. Di hadapannya ada Kim Nara. Rachel berharap Kim Nara membantunya, namun guru baru itu malah terdiam. Sama seperti Cindy, dia menatap kedua gadis gila itu bergantian.
"Kalian masih berani membangunkan singa yang tertidur?" Nara bertanya pelan. "Kuharap kalian belajar dari pengalaman. Lain kali jangan mengganggunya."
"Sensei ... sakit .... Tanganku patah! Kedua tanganku patah!"
"Kau bilang kau yang terkuat di sini kan? Kau masih punya kaki. Berjalanlah sendiri. Memiliki pelayan artinya, kau tidak cukup kuat untuk sekedar berdiri sendiri."
Nara berlalu pergi.
"Sensei! Bagaimana denganku?" kata Roze.
Rachel melotot ke arah Roze. Cindy mendecih.
"Kurasa kau benar-benar akan dikeluarkan dari Hans. Upps. Maksudku, kalian berdua."
Cindy kemudian berlalu pergi. Menyusul Vena ke ruang BK. Dia tau ini membuang waktu. Tapi mencari tahu berita hangat adalah bagian dari pekerjaannya. Mungkin ada sesuatu yang bisa dia jadikan uang.
Arata seolah menunggu Cindy di koridor.
"Mau bayar uang tutup mulut?" tanya Cindy langsung.
"Tidak. Aku tidak masalah dengan kejadian di UKS tadi," kata Arata. "Seperti yang kau dengar dari Vena. Tidak ada apapun yang terjadi. Semuanya hanya ... hanya kebetulan. Kebetulan kau ada di sana saat Vena jatuh di atasku."
"Aku tau," jawab Cindy. "Jadi apa yang kau inginkan? Kau tau kan, bayaranku itu tinggi."
"Aku akan bayar perbulan. Bekerjalah padaku."
Cindy terdiam. Tak menyangka orang sejenius Arata akan membutuhkan bantuannya.
"Kau menyukai Vena?" duga Cindy. Anehnya Arata mengangguk. "Kau jatuh cinta secepat itu? Oh. Astaga ... Aku pernah dengar orang bisa bodoh dalam waktu sekian detik hanya karena cinta. Aku melihat fakta itu sekarang."
Arata mengangguk-angguk. "Mungkin ini cinta pada pandangan pertama. Dia mirip dengan seseorang yang kutemui di tahun 2004. Jadi, apa kau bisa membantuku? Aku akan berikan semua uangku jika perlu."
Cindy terkekeh. "Kau mau aku percaya?Jangan mengada-ngada Arata. Maaf sekali, aku tidak bisa membantumu."
Cindy berlalu lagi. Tujuan utamanya adalah ruang BK. Dia melihat Roze juga pergi ke sana sambil menangis. Aktingnya dimulai lagi. Roze pasti cari perhatian.