"Kau serius tak mau bayar uang tutup mulut?" tanya Cindy. Orang yang dia ajak bicara malah berlalu begitu saja. Seolah tak mempermasalahkan.
Bel sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Seharusnya pelajaran sudah dimulai. Mereka berdua berjalan dengan terburu-buru.
"Apa yang mau kau bicarakan pada mereka?" tanya Vena di belokan menuju lantai tiga.
"Semuanya. Tentang kau dan Arata yang berciuman."
"Kami tak ciuman!" tegas Vena. "Sudah jelas bukan, aku dan Arata pun sama-sama mengelaknya. Apa yang membuat kau berpikir kalau orang-orang akan percaya kebohongan itu?"
"Tentu saja. Karena aku saksinya."
"Tidak ada yang akan mendengarkan kesaksian palsu. Kau tidak punya bukti. Lagipula, aku ini hanya murid baru. Tidak ada yang akan tertarik mendengarkan kisahku. "
"Bukan kau tapi Arata," tukas Cindy. "Kau serius tidak tahu siapa Arata? Dia siswa populer di sini. Semua orang pasti mengenalnya. Dia anak pengusaha mainan yang mendunia. Action figure, dan mainan mahal lainnya diproduksi oleh keluarga Arata. Tak hanya itu, Arata adalah peringkat satu tahunan. Dia mengikuti olimpiade setiap tahun dan berhasil membawa pulang piala. Tanpanya sekolah ini hanya nama. Apalagi setelah kasus penculikan muncul. Peringkat sekolah ini menurun. Tidak banyak yang daftar di tahun 2004 sampai 2005."
"Ohh. Begitu."
Cindy terdiam. Mengikuti Vena masuk ke kelas 3 C. Duduk mereka berjauhan. Namun Cindy menghadap ke arah Vena. "Kau tidak bisa diajak berbincang sama sekali," cibirnya.
Cindy mulai membuka buku. Mencatat uang yang dia keluarkan hari ini dan kemana mereka pergi. Hari ini habis 300 yen. Rekor irit terbarunya. Dia berharap hanya mengeluarkan 20 sen sehari. Walau mustahil.
Cindy teliti sekali dengan keuangannya. Sekali saja dia boros, mimpinya untuk membeli ruko akan amblas begitu saja. Terkubur di tanah dan mustahil dia wujudkan. Padahal umurnya baru 17 tahun, tapi dia sudah berhasil mengumpulkan satu juta yen dalam tiga tahun ini. Setelah semua perjuangan itupun, jumlah segitu tidak cukup untuk membeli ruko yang strategis dekat stasiun kereta. Impiannya itu butuh berapa lama lagi untuk tergapai? Mungkin jika Cindy lebih hemat, dia bisa membeli rumah di usia 20 tahun.
Tidak. Tujuannya bukan membeli rumah, tapi ruko.
Cindy membalikkan badannya lagi. Vena tak ada, Roze tak ada. Bahkan guru yang mengajar hari ini juga tidak ada. "Kemana mereka?" gumamnya sendiri.
Gladies seperti biasa, membaca bukunya dengan kalem. Cindy sangat membenci Gladies. Wajah pintarnya itu palsu sekali. Tak butuh lama bagi Cindy untuk merasa mual setelah melihat wajah Gladies.
Cindy berdiri. Berjalan ke luar kelas. Terdengar suara ribut dari kamar mandi. Orang-orang tampak bergerombol di depannya. Sedangkan koridor sepi. Cindy berjalan mendekat. Siapa tau ada sesuatu yang menarik di balik kerumunan itu.
Cindy menyerobot masuk dengan susah payah. Rambutnya jadi berantakan. Rok pendeknya sedikit terangkat. Namun dia tidak menyesal. Melihat sesuatu yang lebih heboh dari kejadian UKS.
Rachel sedang membuli Roze. Sudut bibir Roze berdarah. Rambutnya terpotong acak.
Sudah Cindy duga. Rachel pasti marah besar sekarang. Membully Cindy dan Vena adalah ide Roze tapi imbasnya malah tangan kanan Rachel patah. Jika tak tertahan aturan, amarah Rachel yang memuncak itu pasti sudah membunuh Roze.
"Kau masih tidak puas ya?"
Bab 5 (1)