Kita Ketahuan

566 Kata
. "Ah ... ini jaman apa? Masih ada yang menggoda seperti itu?" "Teruslah tertawa. Kau manis." Ucapan Arata membuat Vena berhenti tertawa dan kembali memasang wajah datar. "Aku tidak bilang berhenti." Arata tampak kecewa. "Aku tidak harus menuruti ucapanmu," kata Vena. "Juga, sebaiknya kau menjauh dariku." "Kenapa? Kamu takut aku menggodamu seperti tadi dan kau akan mulai menyukaiku?" Vena menundukkan wajahnya hingga berhadapan dengan wajah Arata. Nafasnya dan nafas Arata menyatu. Lalu dengan gerakan cepat Vena menyambar leher Arata. Dia ke atas sedikit, menghembuskan nafasnya di dekat telinga Arata. Arata langsung mendorong Vena menjauh. Dia mencengkram lengan gadis itu agar tidak terjatuh. Vena melihat, nafas Arata tidak teratur. Dadanya naik turun dan tangannya gemetaran lagi. Cowok ini, perjaka? Vena menyimpulkan, kemudian terkekeh lagi. Dia mulai mentertawakan betapa polosnya laki-laki di hadapannya sekarang. Pantas saja, teknik menggodanya lawas sekali. Mungkin dia belajar dari papa mamanya. "Kau tidak perlu menggoda laki-laki seperti itu!" protes Arata. Dia agak kesal, namun setelah melihat senyum Vena diapun ikut tersenyum. "Kau polos sekali," ejek Vena. "Hati-hati, seseorang bisa memanfaatkanmu," pesannya. Arata terdiam sejenak untuk merenungkannya. Kemudian menggeleng. "Tidak akan. Karena aku hanya akan mencintai dua orang wanita dalam hidupku. Satu ibuku, dan kedua adalah kamu." "Kubilang jika mau menggobal, jangan padaku. Aku tidak tertarik." Vena kembali menegaskan kalimatnya. "Aku tidak menggombal. Aku tulus. Aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama." Vena terdiam untuk berpikir. Apa seseorang sedang menyatakan cinta padanya? Kenapa Vena harus memikirkannya dengan serius? Gadis itu memainkan poni Arata. Mengelusnya seperti sedang berhadapan dengan anak kecil. "Dengar ya Nak, saat kita dewasa, cinta pada pandangan pertama itu terkesan hanya hasrat semata. Kamu masih kecil, cepatlah lupakan aku dan cari cinta yang sebenarnya. Seseorang yang bisa bersamamu dalam waktu yang lama." Vena memberi nasehat. "Kamu cinta sejatiku. Aku tidak butuh hasrat untuk bisa mencintaimu sepenuh hati. " Arata bersikukuh. "Yang pasti, hatiku berdegup kencang di dekatmu. Aku jatuh cinta." Dia memegang d**a kirinya. Memasang wajah seperti orang yang sedang dimabuk cinta. Tidak peduli betapa menyakitkannya penolakan. Vena ingin tertawa lagi. Namun dia menahannya demi memberi seorang anak polos penolakan yang lembut. "Itu akan berlalu," kata Vena. "Yang harus kau lakukan hanyalah menjauh dariku." Bibir Arata cemberut. Dia melihat ke arah lain lalu mengangkat bahunya. Vena mengira dia sudah menyerah dan dia berhasil menolak tanpa membuatnya sakit hati. Tapi kemudian Arata menatapnya lagi sambil tersenyum. "Ya sudah. Aku hanya perlu berusaha lebih keras lagi agar kamu menyukaiku," kata Arata. Vena mendesis geram. "Dasar!" Dia hendak turun dari brankar. Namun lupa kalau brankar dilengkapi roda sehingga terdorong waktu dia turun. Tubuh Vena jatuh di atas kursi yang diduduki Arata. Bibir Arata menyentuh leher Vena. Gadis itu spontan mendorong kursi Atara hingga terjatuh sementara dia berdiri. Brakk!! Suara terdengar nyaring. "Aaaaaaaaa!" Teriakan menyusul setelahnya. Arata dan Vena sama-sama menengok. Di koridor, Cindy memergoki Arata dan Vena lewat jendela. "Apa yang kalian lakukan di sekolah?!" jerit Cindy. Arata langsung bangun dan memperbaiki kursi. Dia menggeleng-geleng pada Cindy, sementara Vena memandang tanpa ekspresi saking terkejutnya. Vena tak tahu, apa yang harus dia lakukan. "Kali ini jika kau tidak mau bayar uang tutup mulut 500 yen, maka berita ini akan kusebar. Aaaaaaaa." Cindy meluncur pergi begitu saja setelah mengatakannya.Dia menjerit kegirangan di sepanjang koridor. Seolah bersiap menluncurkan kabar panas ke seluruh sekolah. Atau ... kepada siapapun yang mau membayar berita ini. "Tidak, tunggu! Cindy jangan!" Arata panik hingga memegangi kepalanya. Mondar mandir di depan Vena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN