"Aku sedang melihat gadis paling cantik di dunia," gumam Arata memuji.
Vena terdiam. Dia mengambil tisu lagi dan memilih mengalihkan perhatiannya dengan membersihkan baju yang terkena darah.
"Jika kau mau menggobal, gombali saja orang lain. Aku tidak tertarik mendengar omong kosong seperti itu," ucap Vena akhirnya. Dia membuang tisu lagi. Lalu menatap wajah Arata.
Vena ingat. Laki-laki di depannya adalah orang yang kemarin masuk ke asrama perempuan. Orang yang bilang Vena keren. Orang yang mengenalkan dirinya dengan nama Hideki Arata.
"Aku tidak mengatakan omong kosong. Kau memang cantik," kata Arata lagi. Dia duduk di kursi depan brankar Vena dan memperhatikan gadis itu.
Kali ini, Vena melihat wajah Arata dengan jelas dan lebih lama. Rambutnya coklat, agak gondrong menutupi alis. Sorot matanya tajam dengan iris berwarna coklat tua. Hidungnya mancung. Rahangnya tegas membentuk huruf 'V'. Dan dia terlihat jenius.
"Kamu sedang terpesona padaku?" pertanyaan Arata membuat Vena kembali berkedip beberapa kali. Tanpa sadar Vena mengagumi wajahnya dari dekat. Dia berdehem untuk menetralkan suasana.
"Tidak. Mataku agak bermasalah jadi ...."
"Tidak perlu sungkan," ucap Arata memotong alasan Vena. "Aku suka tatapanmu."
Vena terdiam lagi.
"Namaku Hideki Arata." Arata mengulurkan tangannya. "Perkenalan kita kemarin belum selesai," katanya.
"Aku tidak ingin mengenalmu," tolak Vena dingin.
"Grivena Athalia. Pindahan T.I.T.S.H, Tulip," kata Arata. Dia sudah tahu nama lengkap Vena dan dari mana Vena berasal. Lalu kenapa dia bertanya? Mungkin biar tidak terkesan stalker. Kehadirannya yang tiba-tiba saja membuat Vena sedikit syok dan sempat mempertanyakan keamanan asrama.
"Oh," hanya itu jawaban Vena. "Kau sudah tau rupanya."
Arata mengangguk-angguk sembari tersenyum bangga pada kemampuan stalkingnya. Arata mendesis. "Apa kamu benar-benar orang tulip?" Dia bertanya karena penasaran.
"Menurutmu?" Ternyata kemampuan Arata tidak sehebat yang Vena kira.
Arata menggeleng. "Kamu bukan orang Tulip," tebaknya. "Orang Tulip biasanya berambut pirang dan matanya abu." Arata menatap mata Vena yang berwarna hijau. Membuat gadis itu menjauhkan wajahnya karena merasa tidak nyaman. "Kau cantik," gumam Arata melanjutkan.
"Kau mencoba menggodaku?" Vena tak mengerti tatapan apa yang diberikan Arata padanya. Seperti kagum, namun juga ada hasrat di dalamnya.
"Tidak. Aku tidak menggoda dengan cara ini." Arata membalas sembari menggeleng pelan. Wajahnya didekatkan kembali dengan wajah Vena. Membuat tubuh gadis itu tegang dan matanya tak mampu berkedip. Jemari Vena memegang erat ujung brankar.
Bibir mereka hampir saling menyentuh. Vena bisa saja menyerangnya sekarang. Menendang s**********n atau menyundul kepala Arata. Namun dia penasaran, apa yang Arata inginkan dan apa yang akan dia lakukan padanya.
Bibir Arata mulai turun ke leher Vena. Mengendus-endus di sana hingga membuat Vena merinding. Vena takut untuk bergerak. Bisa saja dialah yang tak sengaja membuat mereka saling bersentuhan.
Arata menjauhkan wajahnya dengan cepat. Kembali duduk di kursi depan brankar Vena. "Nah, itu namanya menggoda," kata Arata sembari tersenyum lebar.
Lucu. Tadi bertindak seperti orang dewasa, sekarang wajahnya terlihat seperti anak kecil yang tersenyum malu-malu.
Vena terkekeh. Kemudian mentertawakan Arata. "Wanita mana yang tergoda dengan kemesuman itu? Wanita polos?" Vena bertanya-tanya sambil terus tertawa. "Ah ... ini jaman apa? Masih ada yang menggoda seperti itu?"