Aku Melihatmu Sebagai Gadis Cantik di Dunia

507 Kata
Terik matahari membakar tubuh. Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Dan pelajaran hari ini adalah olahraga. Vena nampak tidak fokus saat bermain voli. Kepalanya sedikit pusing karena semalam tidak bisa tidur nyenyak. Biasanya walau hanya tiga jam, dia bisa bangun dalam keadaan bugar. Namun malam tadi, benar-benar seperti neraka baginya. Cindy mengorok. Roze tidur sambil sesenggukan. Sedangkan Gladies sepertinya mengalami mimpi buruk. Pokoknya, dari jam 11 Vena terjaga hingga pukul 3 pagi. Bukk!! Seseorang memberikan smash. Bola menghantam kepala Vena hingga gadis itu tersungkur ke tanah. Orang-orang, terutama kaum pria langsung mendekat ke arahnya. Vena meringis. Dia memegang hidungnya yang berdarah. "Eh, awas, awas!" teriak seseorang mencoba menerobos masuk. Namun terhalang oleh banyaknya orang yang berkumpul mengelilingi Vena. Mereka sama khawatirnya. "Vena, kamu tidak apa-apa?" "Apa hidungnya patah?" "Tidak mungkin. Dia kan pesek." "Hei, awas!!" Arata berhasil masuk. Dia langsung berjongkok di samping Vena, lalu tanpa aba-aba menggendong gadis itu ala bridal style. "Hei, minggir!" Arata kembali mendesak kerumunan agar memberi jalan. Arata pergi. Semua menatap bengong. Terutama guru olahraga dan Rachel yang menatap kesal. "Hei, siapa anak itu?" tanya guru olahraga. Dia hanya sempat melihat punggung Arata yang tidak memakai seragam olagraga dan menyimpulkan kalau itu bukan murid kelas 3C. "Bukankah itu Hideki Arata dari kelas 3A?" Gladies menduga-duga. Tapi memang benar. Dia tak mungkin salah memgenali karena Arata adalah salah satu sosok yang dia kagumi. "Si populer itu?" tanya Cindy tak percaya. "Hebat! Baru hari pertama sudah dapat pacar." "Mereka pacaran?" Rachel tiba-tiba datang di antara Gladies dan Cindy kemudian bertanya. Mereka berdua menatap perban yang membalut tangan Rachel. Keduanya sama-sama tak peduli. Tak ada yang mau menjawab. Pertama karena tidak mood, kedua karena sama-sama tidak tahu. Arata membawa Vena ke UKS. Setelah mendudukkan gadis itu di atas brankar, Arata langsung membuka semua tirai dan mencari perawat. Namun, tidak ada. UKS kosong. Koridor juga kosong. Arata panik ke sana ke mari. Sedangkan Vena melihatnya sambil kebingungan. Pandangan Vena sedikit buram. Dia belum tahu siapa orang yang tiba-tiba membawanya ke UKS. Vena hanya memperhatikan sembari menahan darah keluar dari hidung. Arata mendesah lelah. "Yasudah, biar aku saja yang mengobatimu," kata Arata sembari memindahkan kotak tisu ke brankar Vena. Arata memegang tangan yang Vena gunakan untuk menutupi hidung. Dia mengelap darah yang berceceran di sana sebelum kemudian mengelap darah yang ada di hidung Vena. Beberapa saat kemudian, pandangan Vena kembali jelas. Keningnya mengernyit saat bertatapan dengan Arata. "Mundur!" tegas Vena. Arata tersentak, namun tak lama kemudian mengikuti perintah Vena. Gadis itu mengambil beberapa lembar tisu dan meletakannya di depan lubang hidung. Vena memijat kuping hidungnya sembari kepala menunduk. Darah mengalir mengotori tisu. Saat tisunya sudah basah semua, Vena mengambil beberapa lembar lagi sebagai ganti. Arata memperhatikan gadis itu sembari tersenyum. Tangannya gemetar karena gugup. Matanya tak mau lepas dari wajah cantik Vena. "Apa yang kau lihat?" Vena bertanya setelah darah berhenti mengalir. Tangannya membereskan sampah tisu yang tadi dia gunakan dan membuangnya ke tong sampah di bawah brankar. "Aku sedang melihat gadis paling cantik di dunia," gumam Arata memuji.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN