46. Kau Juga Ingin Dicium?

1884 Kata

Azzima merasakan ponsel di sakunya bergetar. Sejenak pria itu menghentikan langkah di tengah koridor kampus untuk meronggoh dan melihat siapa yang menghubunginya. Dilihatnya layar ponsel itu, ternyata papanya yang menelepon. Azzima menjawab panggilannya dan sudah hendak melanjutkan langkah, tetapi dua orang mahasiswi yang menghampiri membuat langkah pria itu tertunda. “Selamat sore, Pak,” sapa salah satu dari dua mahasiswi yang saat ini sudah berdiri di depan Azzima. “Azzima,” sahut Zein dari seberang telepon. Dua gadis itu hanya ingin memberikan sesuatu pada Azzima. Seperti biasanya, para penggemar baik dari kalangan mahasiswi maupun dosen tak jarang memberikan hadiah pada pria itu, entah untuk apa. Namun yang pasti, Azzima tidak akan pernah sempat untuk menolak. Dua gadis itu langsun

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN