“Sulit melupakan rasa bukan berarti tidak bisa. Demi hatiku yang layak untuk bahagia, meskipun bukan kamu lagi penyebabnya.” @atiikaaru AKU duduk sendirian di meja makan dan tidak sadar sudah lima belas menit membuang-buang waktu mengamati brownies cokelat yang tersaji di atas piring. “Kenapa cuma diliatin kuenya?” Aku tersentak lalu menoleh ke sosok Gibran yang berdiri menyandar sambil melipat tangan menatapku. “Gibran, kamu sudah pulang?” tanyaku dengan antusias kemudian bangkit dari kursi dan berjalan menghampirinya. Gibran mengecup keningku usai aku mencium telapak tangannya memberi salam. “Nungguin aku ya?” Gibran mengedipkan mata menggoda. Tak mengelak, aku tersenyum saat ucapan Gibran terbukti benar adanya. Tangan Gibran terangkat mengusap pipiku. Senyum cerah di bibirnya beruba

