Saya berjalan gontai menaiki tangga. Saya ingin tahu apa yang sedang dilakukan setan itu. Sekadar memastikan kalau dia benar-benar masih tidur. Tidak mendengar apalagi mengintip kejadian tadi. Terlihat dari jendela. Ia tertidur dengan posisi miring ke kiri sembari memeluk perut. Saking pulsanya ia sampai mengorok keras. Bagus lah. Berarti dia benar-benar tidak mendengar obrolan kami semua. Kecuali jika ada setan usil yang lapor padanya tentang kejadian tadi. Saya sunggu lelah. Sangat lelah. Seandainya saya masih berada dalam raga itu, saya lebih memilih tidur untuk menenangkan pikiran. Tapi apa? Saya bukan lagi manusia. Mana bisa tidur. Dan tak butuh tidur. Imbasnya saya jadi selalu memikirkan segala hal. Saya akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi balkon kesayangan saya. Biasanya m

