"Le, tamunya suruh ngopi dulu sana. Ibuk masih mau masak. Jangan boleh pergi kalau belum sarapan." Bulek Inayah menggedor kamar Fikri dengan cukup brutal. Entah mengapa perasaan saya mengatakan bahwa apa yang sedang dilakukan Bulek Inayah adalah sebuah petunjuk yang bisa membantu saya menemukan di mana Herman. Fikri urung jua membuka pintu. Bulek Inayah menggedor pintu terus. Suaranya berisik seperti genderang mau perang. "Le, ayo bangun dulu. Udah terang ini. Iya Ibuk ngerti kamu capek. Tapi ya jangan mentang-mentang capek, terus mau tidur terus." Bulek Inayah menggedor pintu sekali lagi. "Bapakmu pulang nya sama kayak kamu lho. Tapi bapak udah berangkat kerja dari tadi subuh. Masa kamu kalah sama orang tua macam bapak. Kamu harusnya lebih fit dari bapak." Bulek Inayah terus menggedor

