"Ramda ...." Ibuk memanggil nama saya dengan nada yang tanggung. Terkejut namun juga seakan tak bisa berkata apa-apa. "Ramda ...." Ibuk memanggil nama saya sekali lagi. Kali ini dengan intonasi yang lebih tegas. Ibuk lalu berjalan cepat menghampiri saya di atas ranjang. Ia belum pergi dari sana ternyata. Dia bodoh atau apa. Katanya ingin melahirkan normal. Setidaknya ia harus memberdayakan diri. Tapi malah bermalas-malasan. Tapi saya bersyukur atas kebodohan setan itu. Karena ia tidak memberdayakan diri, pasti itu yang membuat proses pembukaannya menjadi lama. Ia nampak menderita dan kesakitan. Saya juga kesakitan, namun tidak berlebihan seperti dia. Mungkin karena ini pertama kali ia merasakan sakit yang begitu menyiksa itu. Kalau saya kan sudah berpengalaman. Jadi saya lebih ahli dal

