WAJAH BARU DI BABAK KEDUA

1138 Kata
Meski telah menguasai karate, aku tak ingin langsung menunjukkan semuanya pada mereka. Aku membiarkan Sintia membuka semua pergerakannya. Di ronde pertama, yang kulakukan hanya mengelak dan mempertahankan diri, membiarkan Sintia terus mengeluarkan semua tekniknya. Ini adalah salah satu teknik yang sering aku gunakan, tapi mereka semua terus berdengug menyebalkan di bawa telingaku. "Mustahil dia menang!" "Liat Zayn, wanita itu bahkan tidak bisa menyerang Sintia." "Sintia pasti akan menang dengan mudah." "Zayn sangat tidak beruntung memiliki gadis itu di sisinya." "Jika aku jadi Zayn, sudah pasti kucampakan gadis itu. Memalukan saja!" Memang benar, orang bodoh hanya tahu cara menghina. Mereka menghina dan berpikir bahwa mereka jauh lebih baik dari yang dihina. Mereka melakukan itu untuk menutupi kebodohan yang mereka sangkal. "Apa hanya ini kemampuan yang kamu bisa?" Sintia mencibirku. Dia benar-benar merasa di atas angin. "Kenapa? Kamu takut kalah?" "Cih! Kamu masih bisa berdiri di sini dengan kedua kakimu itu, itu semua masih karena kebaikanku. Aku tak langsung mematahkan kakimu." Aku tersenyum miring. "Menjatuhkanku saja kau tak bisa. Apa kau terbiasa ngigau di malam hari?" "Ning Vina, sebaiknya tutup mulutmu itu! Berlutut dan minta maaf pada Sintia. Akhiri pertandingan konyol ini." Sial! Kenapa tadi aku tak membawa lakban untuk menutup mulut menyebalkan Zayn. Ingin rasanya aku menendangnya sekarang! Sintia melirik ke arahku, tersenyum puas. "Berlutut saja dan aku jika kamu tak akan pernah menang melawan saya." "Ning Vina ... lebih baik kita pulang." Karin ikut bersuara. "Sintia jelas bukan tandingan Ning Vina. Ning Vina tak akan menang!" "Tutup mulutmu!" "Fakta akan tetap jadi fakta, semua orang bisa melihat dengan jelas kalau kau hanya pencundang. Tak heran jika ibumu saja meninggalkanmu. Semua orang tak suka padamu!" "SIALAN!" Aku terjebak. Perkataan Sintia membuatku mengambil langkah gegabah. Itu menjadi celah bagi Sintia membuatku jatuh. Babak satu di menangkan oleh Sintia. "Ketika katak berpikir bisa memanjat pohon, dia hanya akan terjatuh!" sindir Sintia. "Saya pastikan satu babak lagi, kamu bahkan tidak akan bisa menatap semua orang dengan wajahmu itu. Kamu akan sangat malu!" Cih! "Ning, akui saja jika kamu memang tidak bisa. Lebih baik kita pulang sekarang." Karin makin membuat moodku menjadi buruk. "Sudah saya katakan, kamu tak akan bisa melawan Zayn. Kenapa kamu sangat keras kepala! Hentikan pertandingan ini, jika tidak, jangan harap kamu bisa menjadi pacar saya sekarang." Zayn menoleh padaku dengan wajah tengilnya itu. "Saya tidak mau menanggung malu jika kamu kalah. Kita putus!" sambungnya. Wow, aku tak pernah mengira kalimat negatif itu terdengar seperti kalimat paling menarik di telingaku. Jelas aku sangat ingin itu. Beruntung aku yang sekarang mendengar kalimat itu, jika aku yang dulu mendengarnya mungkin aku sudah merasa seperti duniaku hancur. Fakta yang menyebalkan. "Oke." "Ha? Oke?" Zayn dan Karin kompak menyahut. Keduanya kaget mendengar perkataanku barusan. "Jangan membuat saya makin kesal!" bentak Zayn. " Akhir-akhir ini, kamu selalu membantah apa yang saya katakan! Jika kamu terus begini, saya tak akan membiarkan kamu ngejar saya lagi!" "Ning Vina harus dengari apa yang Zayn katakan. Ingat kalau Ning putus sama Zayn, bakal susah buat dapatin Zayn lagi." Kurasa Karin sejak kecil sudah kebanyakan mengkonsumsi kecubung kering, otaknya hanya sekecil kapas. Susah mendapatkan pria dengan wajah standar dan tak punya bakat seperti Zayn? Kurasa, jika Zayn jadi produk, dia akan jadi produk paling tidak diinginkan di pasar. Kondisi kantong dan karakternya sama-sama minus. Kelebihannya hanya pinter membual dan sok ganteng. "Oke. Kita putus! Saya tidak akan memberikan kamu kesempatan untuk mengejar saya lagi!" "Kamu pasti nyesel setelah hari ini!" Cih... jangankan mengejarmu, jalan ke arahmu pun aku tak sudi. Bodohnya aku yang dulu mengejar-ngejar manusia yang tak layak sepertimu. "Ning..." Karin panik sendiri. Ia mencoba membujuk Zayn. Jelas dia panik, rencana mereka bisa gagal jika Zayn mengambil tindakan gegabah. Namun, Zayn yang sedang tersulut emosi, bahkan tak mendengar perkataan siapa pun. Dari dulu, Zayn memang selalu seangkuh itu. Zayn kali ini benar-benar pergi. Dia berada di pihak Sintia yang langsung menyambutnya dengan pelukan genit. Sampah memang cocok bergabung bersama sampah Sedangkan Karin, dia buru-buru pamit ke belakang, pasti untuk mengabarkan Karin mengenai keputusan mendadak Zayn. Aku jadi penasaran, apa Zayn akan mendengarkan perkataan Hesti? "Babak kedua, bersiaplah kalah," ujar Hesti. "Kita lihat saja nanti!" sahutku saat Sintia berbalik hendak pergi. "Meski katak tak pandai memanjat pohon, tapi katak bisa melompat tinggi ke pohon. Sedangkan monyet? Mereka hanya bisa berteriak di atas pohon, persis seperti kamu." ** Babak kedua dimulai. Teknik Sintia yang sudah kupelajari di babak pertama, kini jadi keuntunganku. Sintia memang unggul dalam tendangan jarak jauh, kakinya bergerak sangat cepat, kuat, dan presisi. Tapi, di balik kehebatannya itu, Sintia lengah akan serangan dekat. Sintia terlalu fokus pada kaki. Begitu aku mendekat dan memotong jarak, semua keunggulannya lenyap. Suara hentakan kakiku bergema di lantai dojo. Sorot mata kami saling mengunci terasa tajam, tegang, tapi juga penuh kemarahan. Kali ini, aku tak akan memberinya kesempatan kedua. Tanganku dengan cepat membanting tubuh Sintia. Sintia mengeluh kesakitan. Semua orang berdengung kaget. "Dia berhasil menjatuhkan Sintia," seru mereka. "Tak kusangka gadis itu memiliki kekuatan yang besar!" "Ini gila! Bagaimana bisa katak itu berubah menjadi beruang dalam waktu setengah jam." "Gila! Sintia si juara kalah oleh seorang gadis udik!" "Sintia memalukan." "Pemenang babak kedua... Vina!" teriakan itu membuat suara ricu makin menjadi. Beberapa masih tak terima dan sebagian lagi mulai memihak ke arahku. Karin beringsut mendekatiku, sama kagetnya "Sejak kapan Ning Vina bisa seni bela diri?" tanyanya. "Kenapa selama ini saya dan yang lain tidak tahu kemampuan Ning Vina?" "Kenapa kamu sangat ingin tahu?" tanyaku balik. "Takut tidak bisa memberi informasi lengkap untuk Hesti?" Karin tercekat. Buru-buru menggeleng cepat. "T-tidak Ning, saya tidak akan memberi tahu semua ini pada Hesti dan Fafa." Cih! Jika aku tak melihat sendiri wajah asli Karin dan apa yang Karin lakukan, mungkin aku akan percaya pada Karin. "Good girl..." ujarku pelan, berpura-pura tidak tahu. "Kemenanganmu tadi hanya keberuntungan!" Sintia dan Zayn menghampiriku yang hendak mengambil minum. Aku tersenyum. "Oh ya, keberuntungan yang membuatmu nyaris berteriak menangis? Apa jatuhnya tadi juga keberuntunganku?" Wajah Sintia seketika langsung memerah, kedua tangannya mengepal sempurna, pertanda ada kemarahan yang besar. "Lebih baik kamu sekarang persiapan. Pastikan kamu punya banyak stok air mata." "Sial!" Sintia tiba-tiba hendak menyerangku. Beruntung aku dengan sigap langsung menarik Zayn sebagai tameng. Akhirnya, tanganku yang sejak tadi gatal sekali menjambak rambut Zayn terwakilkan. "Sintia lepaskan rambut saya!" bentak Zayn. Sintia kaget baru menyadari salah sasaran. "Zayn.. maaf..." "Dasar cewek gak guna!" bentak Zayn pada Sintia. Lalu pergi. Aku tertawa melihat wajah kesal Sintia. "Jangan nangis sekarang. Takut stok air matamu habis." "DIAM!" Jika dibandingkan dengan warna merah tomat, sepertinya wajah merah Sintia lebih cocok dikatakan seperti monyet merah. "Saya tidak peduli sehebat apa skill bela dirimu! Tapi saya pastikan di babak ketiga, kamu akan KALAH!" "Oh ya?" Menghadapi Sintia membuat tengorokanku terasa kering. Aku segera meneguk segela air yang tadi kuambil. Namun, tiba-tiba Sintia tersenyum, kemarahannya tadi hilang seketika melihat gelas di tanganku kosong. "Apa pun caranya! Kamu akan kalah!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN