PERMINTAAN MAAF

1034 Kata
Hamzah kecelakaan, jatuh dari motor. Ban motor yang Hamzah gunakan, disabotase Zayn dan antek-anteknya. “Tidak perlu terlalu berterima kasih seperti itu.” Zayn tersenyum tengil, memainkan alisnya yang terlihat seperti uget-ugetnya, naik turun. Ingin rasanya aku melayangkan kepalaan tinju tepat di wajahnya. “Ning Vina sangat beruntung punya pacar sebaik Zayn,” ujar Fafa. “Iya, Zayn dan Ning Vina memang cocok sekali. Tampan dan cantik,” sambung Hesti. Tampan? Aku nyaris tertawa. Alis tebal berantakan Zayn sangat tidak enak dipandang. Belum lagi bau badannya yang sangat menyengat, perpaduan antara bau rokok dan terik matahari. Bisa bayangkan betapa menyiksanya berdekat dengan Zayn? “Kalian tak perlu terlalu memuji saya. Saya tak ingin Ning Vina jadi cemburu…” Bisakah waktu berhenti sejenak? Kepalan tanganku sudah siap menghantam wajah Zayn. “Kita gak bermaksud gitu Ning Vina…” sahut Karin cepat. “Iya, Zayn cuma cocok sama Ning Vina,” tambah Fafa. Hesti tersenyum, berdiri di sebelahku. “Zayn, terima kasih karena sudah membantu kami. Ning Vina beruntung bisa dicintai pria sepertimu.” Aku tanpa sadar mendengus. Sialnya, dengusan itu terlalu keras. Hesti, Fafa, Karin dan Zayn spontan menoleh padaku. Zayn tersenyum penuh arti padaku. Sedangkan Hesti, Fafa dan Karin nampak panik. Gila ya! Mereka malah mikir aku cemburu? “Hari makin sore. Kita harus kembali ke pondok,” ujarku cepat. Hidungku tak lagi tahan. Zayn mengajakku bertemu di pasar, dekat pondok. Markas Zayn dan antek-anteknya berkumpul. Tempat ini sangat bau lembab, dan diperburuk dengan aroma tubuh Zayn. “Sayang…” Zayn hendak menahan lenganku. Beruntung refleksku cukup baik. Tanganku bisa menghindar dari tangan dekilnya. “Tumben sayang tidak ingin berlama-lama di sini, biasanya sayang selalu tak ingat waktu saat berjumpa denganku.” Ya Allah… cobaan apa lagi ini? Aku berusaha tersenyum. “Tidak untuk hari ini. Sekarang, saya tinggal di asrama. Akan sangat sulit untuk masuk ke kamar,” elakku cepat. “Ning Vina, tak masalah jika Ning Vina masih mau di sini. Kita bertiga bisa mengatasi masalah itu.” Hesti bersuara. “Iya, Ning. Lagian tak ada aturan pondok yang bisa mengikat Ning Vina,” Fafa menambahkan. Aku menggeleng pelan. “Tak perlu. Saya ingin pulang sekarang.” “Ning Vina yakin? Besok Zayn akan ke kota, dan itu artinya Ning Vina akan lama bertemu Zayn.” Hesti menambahkan lagi. Hesti sangat berusaha keras membuatku tergila-gila dengan Zayn. “Apa yang dikatakan Hesti itu benar,” ucap Zayn, ia lalu bangkit dan menatapku. Kantung matanya sangat hitam, aku curiga Zayn punya darah campuran siluman kelelawar. “Saya tak tega jika harus membuatmu merindukan saya selama berhari-hari. Maka hari ini, saya dedikasikan waktu berharga saya untuk bersamamu.” . . “Gimana kabarmu?” tanyaku asal, yang langsung kusesali detik itu juga. Sejujurnya aku bingung harus memulai percakapan ini dari mana. Wajah datar Hamzah membuatku makin tak bisa berpikir jernih. Jelas keadaan Hamzah tidak baik-baik saja. Dia baru saja pulang dari rumah sakit, setelah dua hari rawat inap. Kecelakaan itu membuat tulang kaki Hamzah terbentur aspal di jalan. Tulangnya retak yang mengharuskan kakinya menggunakan gypsum selama masa pemulihan. Di masa lalu, Hamzah tak sampai begini. Ia hanya terjatuh di kolam ikan. Hamzah pun tak sekesal ini padaku. Apa semuanya benar-benar telah kacau? “Ada yang ingin Ning sampaikan selain pertanyaan tadi?” tanya Hamzah. Aku tergagap. Kepalaku refleks menggeleng pelan. Ini pertama kalinya aku sangat kikuk. Seorang Ning Vina yang biasanya mengintimidasi, kini merasa tak berdaya. Dengan wajah datarnya, Hamzah menggerakan telapak tangannya ke kanan lalu ke kiri. Kepalaku spontan mengikuti arah gerak itu dengan lugunya. “Apa maksudnya?” tanyaku sembari ikut mengangkat tangan mengikuti pergerakan tangan Hamzah barusan. “Minggir.” Aku tercengang. Wajahku seketika memerah karena malu. Ingin rasanya aku menghilang detik ini juga. “Saya mau lewat. Ning menghalangi jalan saya,” tambah Hamzah lagi. Sangat berhasil membuatku malu setengah mampus. “Oke, baik!” sahutku cepat. Namun, aku masih belum beranjak dari hadapannya. Kedatanganku tentunya tidak hanya untuk berbasa-basi semata. Aku ingin meminta maaf… Meski Hamzah tak akan paham maksudku, setidaknya hatiku bisa sedikit lega. “Kulo datang ke sini bermaksud itu—” Mendadak lidahku keluh. Kata maaf sulit sekali keluar dari mukutku. Di masa lalu, sepertinya aku nyaris lupa ada kata ‘maaf. Kata ini sama sekali tak pernah keluar dari mulutku. Jika aku salah, maka mereka yang harus minta maaf. “M..a—” “Ning saya lelah berdiri lama. Bisa Ning minggir sekarang?” “Kamu bukan orang penting! Tidak perlu bertingkah seolah kamu selalu sibuk!” pekikku spontan. “Apa salahnya untuk menunggu saya menyelesaikan kalimat!” Sepertinya, mulai besok lidahku harus mendapatkan latih rutin terbiasa berkata baik. Hamzah menghela napas panjang beberapa kali. Sepertinya ia sedang mencoba meredam rasa kesalnya padaku. “Baiklah. Ning ingin bilang apa? Apa belum puas Ning nyaris membuat saya lumpuh?” Aku terkesiap. Hamzah tahu jika… “Ya, saya tahu. Saya tak sebego yang Ning Vina pikirkan. Saya tahu jika motor itu tidak tiba-tiba kempes begitu saja, tapi ada orang jahil yang sengaja menusukkan paku ke ban itu,” ujar Hamzah. “Tapi, kenapa kamu bilang ke abi—” “Saya tak ingin membuat abi semakin kecewa. Abi sudah cukup bersedih dengan semua yang terjadi.” Hamzah kembali menghela napas panjang. Aku hendak menjawab, tapi Hamzah terlebih dahulu sudah memotong perkataanku. “Ning Vina pasti tidak akan paham apa yang saya katakan,” sindir Hamzah lagi. Kata itu bagai menusukku hingga membuatku tak sanggup berkata-kata. Aku terdiam. Tak bisa menyangkal. Hamzah benar. “Saya minta ma—” Dua huruf lagi, perkataanku nyaris rampung. Namun, begitu aku mengangkat kepala, lima kaki dari Hamzah, Hesti bersembunyi di balik pohon. Ikut menanti kalimat yang ingin aku katakan pada Hamzah. “Ini hukuman karena kamu sudah mengusik saya. Kamu memang pantas mendapatkan hukuman ini. Saya minta kamu memikirkan semua ini! Di masa depan, kamu harus berhati-hati!” Hamzah tak menjawab. Aku buru-buru pergi. Kerut curiga di wajah Hesti seketika hilang. Ia tersenyum puas. Buru-buru pergi, berpikir aku sama sekali tidak mengetahui persembunyiannya. “Terima kasih karena sudah membuat saya sadar!” Langkahku terhenti. Apa maksud Hamzah? Saat aku menoleh, Hamzah sudah berjalan pergi meninggalkanku. Ia tampak kerepotan dan belum terbiasa dengan tongkat di tangannya. “Maaf …” gumamku pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN