Addy tersenyum ketika ketukan piano yang ia buat sesuai dengan apa yang ada di pikirannya. Hari sudah malam, dan Addy masih saja terintimidasi dengan alunan piano yang dibuatnya. Sebenarnya memang hari ini ia ada jadwal les piano, dan kelasnya sudah selesai satu tiga jam yang lalu.
Pintu kelas itu terbuka dan Addy membiarkannya.
"Ad, you still here?" tanya Mr. Adam, dia adalah guru pianonya sejak tiga tahun lalu.
Addy tersenyum. "Well, just having time of my life." Addy terkikik geli. Adam menggelengkan kepalanya tidak tahu harus mengatakan. Menjadi guru Addy, membuatnya tahu bahwa muridnya itu sangat mencintai musik, terutama piano, Adam pernah melihat Addy berada di tempat lesnya semalaman sebelum lomba yang akan diadakan tahun lalu.
"Saudara kamu tidak ke sini?"
Addy menoleh. "Hm? Adele?"
Adam, gurunya, mengangguk. "Bukankah dia juga kursus piano?"
Addy mengangguk membenarkan. Adele dan Addy berada di satu kursus yang sama. Piano, biola, dan renang. Tapi, Addy memilih untuk keluar dari dua kursus lain dan memilih piano. Sementara Adele, dia masih aktif di biola dan piano. Addy heran sendiri bagaimana kembarannya itu kerasan melakukannya. "She is, tapi, kegiatan sekolahnya terlalu padat."
Adam manggut-manggut. "It's yours?" Adam mendengar melodi indah dari ketukan piano Addy dan ia yakin itu bukanlah milik siapapun melainkan Addy yang membuatnya.
Addy tertawa kecil. "I don't know. Aku hanya mencoba saja."
Adam tersenyum. Ia terpukau dengan kemampuan Addy memainkan lagunya. “Well done.”
Addy hanya diam dan melanjutkan permainannya. Mereka nyaman dengan kesunyian itu. Hanya alunan piano yang mengalun indah di antara mereka. “I feel most intimidated when I’m alone,” ucap Addy. Adam menoleh padanya.
“Hm? Kenapa?”
Addy tertawa kecil. Seraya melajutkan irama pianonya, ia berkata, “Aku tidak tahu. Hanya saja, saat aku sendiri, I don’t know whether I’m right or not. Jadi, itu membuatku terintimidasi olehku sendiri.” Addy tertawa. “Aneh, right?”
Adam ikut tertawa, namun dia menggeleng. “No, maksudku, tidak begitu banyak orang yang merasakan itu.” Adam tahu dan sering mendengar perkataan orang—termasuk ibu dari Addy—yang mengatakan Addy itu tidak bisa diam, sedikit kasar, dan pecicilan. Berbanding terbalik dengan kembarannya yang kalem. Namun, saat Addy berada sendiri di ruang musik, hanya ditemani oleh piano, Adam merasa Addy menjadi orang yang berbeda.
“Apa Adele tidak menyukai piano?”
Addy menoleh. Ia memberhentikan lagunya dan berpikir sejenak. Addy menggeleng. “Tidak juga, dia hanya, banyak kegiatan. Dia adalah ketua OSIS, dia mengikuti bimbingan belajar, les di sana-sini, dan kursus yang lain. Kadang dia susah membagi waktu.”
Adam mengangguk. “Kenapa dia tidak menentukan saja apa yang sebenarnya dia mau, dan meninggalkan apa yang dia tidak mau?”
Addy tersenyum. Ia menghela napas. “Kamu tahu? Aku sudah memberitahunya berkali-kali. Well, she lives to make everyone happy. Our parents, her friends, and...me—probably.”
“Apa dia tidak lelah?” Adam tahu mungkin ini sudah kelewatan, tapi dia hanya penasaran dengan Adele, dan satu-satunya untuk bertanya langsung adalah lewat kembaran Adele sendiri.
“Aku tidak tahu. Bukan hak aku juga untuk bertanya.”
Walaupun kurang memuaskan, Adam hanya mengangguk.
***
“Addy?”
Addy sedikit terkejut ketika ia sampai di rumah jam delapan malam dan melihat bukan hanya ada keluarganya saja, melainkan ada tiga orang lain di meja makan keluarganya. Ini seperti makan malam tidak resmi—tapi yang membuat Addy terkejut adalah kehadiran Dean Angkasa di sana, mungkin dua orang paruh baya itu adalah orangtuanya. Addy tidak mengerti.
“Addy,” panggil Ibunya sekali lagi dan menyuruh Addy untuk menghampiri mereka. Addy menghela napas. Bukan karena ia malas dengan orangtuanya dan Adele yang juga berada di sana, tapi ia malas bertemu dengan Dean. Guru barunya itu membuat masalah dengannya di pertemuan pertama mereka.
Addy duduk di samping Adele, tepat di hadapan Dean—yang sedari tadi menatapnya. “What?” tanya Addy dengan nada yang tidak bersahabat pada Dean, sementara pria itu hanya tertawa kecil. Ibunya yang mendengar itu langsung melongo dan menegurnya. “Addy, behave.”
Alexandria langsung tersenyum tidak enak. “Maafkan aku, dia hanya...lelah.”
Addy langsung memberenggut tidak setuju. Addy melipat kedua tangannya di depan d**a dan menatap Dean tajam. “Tidak, dia menghukum aku di pertemuan pertama tadi!”
“Add—”
“Well, you were late.” Dean menjawabnya dengan santai.
“In sociology! Not mathematics.” Addy membalas dengan nada sangat-sangat tidak setuju. Ia kesal sekali kenapa Dean malah mencoba mendebatnya. Padahal, bisa saja Dean mengalah dan mengiyakan bahwa dia memang salah.
Dean tertawa. “Sama saja. Jam pelajaranku—”
“It’s definitely different.”
“Addy.” Saat Sean Wijaya—ayahnya, menegurnya Addy langsung diam. Dia masih memasang wajah tidak bersahabat pada Dean.
“Maaf, sepertinya dia sangat lelah.” Sean tersenyum pada kedua orangtua Dean, dan juga Dean.
Dean mengangguk. “Tidak apa, aku suka berdebat dengannya.”
Addy melotot. Apa katanya tadi? What?! “Don’ you—”
“Addy, stop.”
Addy diam. Jika sudah Ayahnya yang menegur, dia tidak berani. Adele yang ada di sampingnya hanya tersenyum kecil dan mengusap lengan Addy pelan karena dia merasakan kesal yang Addy rasakan juga.
“Sepertinya Addy gemar berdebat,” komentar Ibu Irana Yosefin, membuat Addy tersenyum canggung.
Sean menghela napas. “Shall we start?”
Ayah Dean, Aditama Yosefin mengangguk. Dia tersenyum pada Adele. “Adele, kami ingin mengenalkan kamu dengan Dean.”
Addy hanya diam, dan menatap Adele bingung. Ia tidak mengerti kenapa Adele harus dikenalkan dengan Dean yang jelas-jelas mereka sudah saling kenal karena Dean guru mereka. “Kena—”
“Kami ingin...mungkin, kalian bisa bersama nanti.”
Mulut Addy terbuka sedikit karena melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Apa? Tapi, Dean adalah guru...kami.” Addy memprotes. Masalahnya, ini kembarannya yang akan dijodohkan—katakan saja begitu.
Alexandria tersenyum pada Addy—walaupun Addy tahu Ibunya meyuruhnya untuk diam. “Addy, he’s still young.”
“Iya, Ibu, tapi dia guru kami.”
Sean tertawa. “Dean dan kalian hanya selisih tujuh tahun—itu tidak terlalu buruk, kan?”
Addy hanya bisa melongo. Sebenarnya, apa yang ada dipikiran kedua orangtuanya?
“Bagaimana, Adele?” Adele sedari tadi hanya diam dan menundukkan kepalanya, kini mendongak dan tersenyum lembut.
“Aku tidak apa-apa. We can know each other, right?” tanya Adele pada Dean.
Dean membalasnya dengan senyuman manisnya pula dan mengangguk.
“You guys are insane.” Hanya Addy yang menggumamkan isi hatinya dan Adele bisa mendengar hal itu.
Sisa makan malam itu hanya diisi oleh kedua orangtua mereka yang berbicara bisnis dan juga soal Adele dan Dean, dan menurut Addy semua itu gila.
***
“Mom, she’s still eighteen.” Addy protes pada Ibunya yang sedang membereskan meja makan bersamanya. Jika Adele tidak bisa menolak maka Addy yang akan speak up.
Alexandria menghela napas. “Kami tidak memaksanya, Addy. You better calm down.” Sean Wijaya adalah donatur terbesar di sekolah Addy dan Adele, dan Ayah Dean, adalah pemilik yayasannya—tidak heran jika mereka saling mengenal. Dan saat melihat Adele, mungkin Ayah Dean menginginkan anaknya mendapatkan pasangan seperti Adele.well, jika diperhatikan, memang sudah jelas Adele adalah tipe menantu idaman.
Addy menggeleng. “I can’t! Bagaimana jika dia tidak bahagia?”
“Jika dia tidak bahagia, Ibu akan mengetahuinya segera, Sayang.” Walaupun Addy adalah anaknya yang paling bebal dan nakal, Alexa tetap memperlakukannya dengan lembut.
“Mom—”
“Jika kamu terus protes, bagaimana jika kamu saja yang dijodohkan langsung dengan Dean?”
Addy melotot. Ia menggeleng kuat. “Iw. No, definitely not.”
***