Chapter 4

1090 Kata
“Ini gila, Adele,” ucap Addy saat makan malam selesai dan mereka sudah berada di kamar Adele. Adele menghela napasnya. Dia duduk di samping ranjangnya. “Memangnya aku bisa menolak, Addy? Ibu dan Ayah yang menginginkannya.” Addy melipat kedua tangannya di depan d**a. “Tapi lo nggak setuju.” “Do my feelings really important?” Adele menggeleng. “No, Addy. Yang terpenting semuanya bahagia.” Addy menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan tingkah laku Adele. “Apa lo hidup untuk membuat semua orang bahagia?” Adele mengangguk yakin tanpa keraguan. “Aku bahagia jika kalian juga.” Addy tertawa kecil. “So cliche.” Adele menyandarkan kepalanya di pundak Addy. Addy menoleh sekilas. “You love someone else, don’t you?” Terkejut karena kembarannya tiba-tiba mengatakan itu, Adele menoleh pada Addy. “Darimana kamu tahu?” “We’re twins. Tentu gue tahu.” Adele hanya diam. Pura-pura tidak mendengarnya. “Adam, right?” Guru les piano mereka terbilang masih muda—maksudnya, dibandingkan dengan Dean. Adam berumur dua puluh satu tahun, dan hanya beda tiga tahun dari mereka. Sedangkan Dean, oh my god, Addy bahkan bisa menyebutnya om-om jika dia mau. Adele kembali membelalakan matanya karena tidak percaya Addy bisa menebaknya dengan mulus. “Addy!” Addy tertawa. “Pantas saja lo menghindari dia.” Addy tahu sifat Adele, jika dia menyukai seseorang tanpa tahu apakah orang yang dia suka menyukai dia balik, maka Adele akan menjauh, dan bukannya melupakan perasaannya, Adele malah semakin menyukai dia. “You know, aku sudah tahu keinginan Ayah dan Ayah Dean. Aku sudah mengenalnya sebelum dia jadi guru.” Addy mengeryitkan keningnya. “Kapan? Kenapa gue nggak tahu?” “Saat makan malam satu bulan lalu, kamu tidak ada karena ikut Regan menonton Muay Thai.” Adele tertawa, mengingat momen lucu ketika Addy diajak untuk makan malam dan malah beralasan dia ada tugas kelompok, padahal dia pergi bersama Regan—menurut Addy, pertandingan Muay Thai lebih seru dibandingkan makan malam membosankan. “Jadi, lo tetap akan mencoba perjodohan ini?” Adele kembali tertawa. “Ini bukan perjodohan, Addy.” “It is.” “Aku nggak tahu. Mugkin, tapi jika memang kami tidak cocok, aku juga tidak mau.” “You better not.” Dean adalah musuhnya dari sekarang, dan Addy sudah membuat ultimatum itu tanpa mau mengubahnya. Adele tertawa kecil. “Kenapa? Kamu sangat membencinya? Hati-hati saja, benci bisa menjadi cinta, Addy.” “Iw. No.” *** Adele tidak bisa tidur malam itu karena meningat perjodohannya—iya, dia akan mengatakan begitu—dengan Dean. Jika boleh memilih, tentu Addy ingin menolaknya, tapi, tentu saja ia tidak mau membuat kedua orangtuanya kecewa atau malu. Adele bangkit dari tidurnya dan melangkah untuk menuju kamar Addy yang ada di seberang kamarnya. Adele mengetuk pintu Addy. “Addy...” “Come in.” Ternyata benar, saudari kembarnya juga belum tidur, Adele tersenyum bersemangat masuk ke kamar saudarinya. Namun, ia cukup terkejut begitu tahu apa yang dilakukan Addy selarut ini. Addy berolahraga di kamarnya—maksudnya, melakukan yoga, mungkin, Adele tidak tahu pasti. Tapi ia cukup terkejut karena saudarinya ini sangat-sangat berbeda dari yang lain. Adele tertawa melihat kelakuan Addy. “Seriously? Kamu melakukan ini malam-malam.” Addy tidak peduli. Dia melanjutkan yoga-nya dengan tenang. “Just doing yoga, Adele. Jangan terlalu berlebihan.” Adele menggelengkan kepalanya. Ia memilih untuk membaringkan badannya di ranjang Addy. “You need fresh air.” Addy menghela napas. Dengan gerakan kepala, dia menunjukkan bahwa jendela kamarnya sudah terbuka lebar, dan Addy tersenyum. “Aku ingin tidur di sini,” ucap Adele. Memikirkan Dean dan pertemuan mereka tadi, membuat dia tidak bisa tidur sama sekali. Addy hanya diam dan tetap fokus pada yoganya. “Do you think I’m gonna fall in love with him?” tanya Adele seraya melihat langit-langit kamar Addy. Addy sudah melakukan peregangan terakhir dan duduk di karpet yoganya dan melihat Adele. “Pada Dean?” tanyanya. “Pak Dean,” koreksi Adele seraya terkikik geli. Addy memutar bola matanya. “No, dia bukan tipe lo.” Adele terkejut. Addy seolah mengetahui dirinya lebih baik daripada Adele sendiri. “How do you know that?” Addy menghela napas. “Lo suka sama Mr. Adam, do not lie to me. Adam dan Dean, they really different.” Adele mengangguk. “Tapi, mungkin aku nggak akan bisa sama Adam.” “Why?” “Ayah mungkin tidak akan setuju.” Adele terlihat murung. Addy mengeryitkan dahinya tidak mengerti. “What? Kenapa?” “Hanya perasaanku saja.” Addy berdecak. “Lo terlalu sering membuat orang seneng sampe lupa menyenangkan diri lo sendiri.” Addy berkata seraya membereskan karpet yoganya. “Trust me, Adele, cukup sekali lo melakukan apa yang lo mau, nggak akan membuat semua orang membenci lo.” Adele memerhatikan kembarannya dalam diam. “Kadang aku iri denganmu.” Mendengar itu, membuat Addy tertawa kecil. “Kenapa? Padahal semua orang mandang lo lebih unggul dari gue, dari semua aspek.” Walaupun sering dibanding-bandingkan, Addy dan Adele tidak merasa saling berkompetisi, karena mereka juga sadar, mereka berbeda. “Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau. I’m not.” Addu tertawa. “Lo bisa, Adele. Semua orang bisa. Caranya cuman lo yang nggak perlu jadi everyone’s pleaser. Hidup lo milik lo, bukan mereka. Kenapa lo ngebiarin orang-orang bahagia sementara lo nggak?” “Aku nggak enak, Addy.” “That’s it. Kalau lo berpikiran begitu, selamanya lo bakal ke kontrol.” Adele menghela napas. Ia tersenyum pada Addy. “Setelah lulus SMA, kamu mau kemana?” Addy duduk di samping Adele dengan minuman botol di tangannya. Dia mengeryit mendengar ucapan Adele yang terlalu aneh menurutnya. “College? Definitely college.” Adele tertawa. “Maksudku, jurusannya, dan akan di mana?” Addy terlihat berpikir sebentar. “Gue suka arsitektur, lukisan, musik. Tapi, as you know, Ayah ingin kita berbisnis. So, I don’t know, mungkin gue bakal masuk arsitektur, mungkin DKV, mungkin jadi guru seni. Life is dynamist, Adele. Nggak ada yang pasti, semuanya berubah.” Jika boleh memilih, mungkin Addy akan memilih desain arsitektur, tapi entahlah. “Dean juga jurusan arsi.” Addy memutar bola matanya malas. “So?” Adele tersenyum. Mendengar sisi lain dan bijaksana dari Addy adalah satu-satunya yang membuat Adele sadar bahwa dirinya tidak sendiri. “Jangan jauh-jauh dariku, okay?” Tangan Adele memgang lengat Addy yang membuat kembarannya itu terkejut dan melepaskan tangannya begitu saja. “Iw, Adele, what the hell?” Adele tertawa keras—dia hapal Addy tidak suka momen manis antara saudara, dan Adele sering kali menggodanya. “Tapi serius, lo tahu apa yang paling gue mau?” Adele menoleh. “Apa?” “Live in Paris.” Adele terkejut. “Itu sangat jauh, Addy. Kamu ingin pergi ke sana?” Addy mengangguk. “Tentu saja. Paris is magical.” “How about me?” Addy tersenyum miring. “Enjoy your life with Dean, maybe Adam.” Adele kesal dan langsung melempar bantal di sisinya pada Addy. Addy ikut tertawa. “Adam banyak menanyakan tentang lo.” Saat mendengar itu, Adele langsung berhenti. “What? Apa yang dia katakan?” Addy tertawa. Dia sudah tahu reaksi kembarannya akan begini. “See? Lo bener-bener suka dia.” “Addy! Tell me!” Addy hanya tertawa mendengarnya. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN