“Adele, just once in yout life, please.” Addy meminta Adele untuk menemaninya menonton pertunjukan piano yang akan diadakan di hari mereka sekolah. Ini pertama kalinya Addy memohon pada Adele untuk menamaninya, well, pertama karena ia tahu Adele juga menyukai pertunjukan itu, tapi ia tidak bisa menontonnya karena Adele—Si anak yang taat peraturan itu sangat menjunjang tinggi tata tertib. Kedua, karena Addy tidak mau bolos sendiri. Biasanya jika ia ingin bolos, dia selalu meminta Regan untuk menemaninya, tapi kini partner-nya itu tidak bisa diajak karena Regan sedang sakit.
“Aku harus belajar untuk ulangan Matematika nanti, Ad.”
Addy memutar bola matanya malas. “Gue bakalan bantu lo, asal...lo temenin gue hari ini.”
“How?”
“Ulangan itu dibagi dua kelompok, right? I’m gonna go first, and I’ll come again to pretend to be you.” Addy tersenyum senang ketika memikirkan ide yang menurutnya sangat brillian itu.
Adele tertawa kecil. “He’ll know it.”
Addy berdecak. “Nggak. Ibu saja masih sering ketukar antara kita. Apalagi dia?”
Adele memikirkan penawaran Addy sebentar. Ia tidak suka matematika, namun ia harus tetap bisa mengerjakannya untuk mendapatkan nilai bagus dari gurunya—yap, Dean Angkasa dan dia juga harus berusaha untuk setidaknya sejajar dengan Addy. “Oke.”
Addy tersenyum senang. “Really?” Adele mengangguk.
“That’s my girl.”
***
“Addy, kamu yakin?”
Addy melihat ke sekelilingnya. Mereka akan bolos dengan ikut rombongan anak-anak kelas sebelas yang akan mengikuti renang, dan kini mereka memakai hoodie masing-masing dengan memakai penutup kepalanya agar tidak diketahui oleh siapapun. Mereka sudah lebih dulu mengatakan pada anak-anak kelasnya untuk memberitahu bahwa mereka izin dari pagi. Dan jika mereka berhasil lolos sekarang, maka rencana Addy terlaksana dengan sempurna.
“Addy...”
Ini pertama kalinya Adele melakukannya, dan mungkin perempuan ini takut. Apalagi karena Adele adalah Ketua OSIS dan karena kembarannya yang laknat ini, dia akhirnya mau melakukannya.
Saat rombongan anak-anak itu bejalan ke halte untuk mencegat bus yang akan mereka tumpangi, Addy segera menarik tangan Adele dan mereka berlari ke arah yang berbeda dari anak-anak itu. Saat ada taksi yang lewat, Addy langsung mencegatnya dan mereka langsung masuk ke sana. Addy tersenyum senang, dia langsung memberitahu kemana tujuannya.
Dengan semangat, kedua anak kembar itu pergi ke aula gedung tempat pertunjukkan tersebut berada. Mereka sudah menggenggam tiketnya masing-masing, dan saat mereka masuk ke gedungnya, Addy dan Adele terkikik geli karena menyadari hanya mereka yang memakai seragam sekolah di antara para tamu yang memakai pakaian resmi. Addy berinisiatif agar mereka tetap memakai hoodie mereka agar tidak ada yang mengetahui bahwa mereka sebenarnya membolos.
“The show begins,” bisik Adele pada Addy. Kini dia sedikit bersyukur dia menerima ajakan Addy, karena nyatanya, sekarang dia sangat merasa excited.
“See?You’ll like it.”
Mereka semua terbius pada permainan pianis di hadapan mereka. “I wanna be like him,” bisik Addy. Lebih pada bergumam pada dirinya sendiri.
Adele menoleh. “Kamu bisa, Addy. Semuanya butuh waktu.”
“Lo berpikir begitu?” Pasalnya, jika Adele berpikiran positif, maka energi positif itu akan menular pada Addy dan Addy sering kali membutuhkannya.
Adele mengangguk.
“Holy shut!” bisik Addy ketika mereka mulai kembali terhipnotis oleh permainan pianis di hadapan mereka. Adele melirik, terkejut dengan u*****n Addy.
“Language, Addy.”
Addy tetap tidak mendengar, karena ia memilih untuk menyembunyikan wajahnya. “Nunduk, Adele.”
“Kenapa?”
Addy melirik ke arah sebelahnya. “Dean Sialan itu ada di sini.”
Mendegar nama gurunya membuat Adele membelalakan matanya. Ia ikut melihat ke arah yang ditunjukkan Addy dan melotot begitu mengetahui ternyata Dean duduk tidak jauh darinya. Adele langsung menunduk. “Aku pulang,” ucap Adele tergesa-gesa seraya membawa tasnya.
Addy melotot tidak terima. “What?! Adele, lo—”
Addy tidak bisa menahan Adele karena ia juga tidak mau ikut pulang dengan kembarannya. Ia berusaha menutupi wajahnya dengan hoodie sebisa mungkin dan tetap menikmati pertunjukkan di hadapannya. Sebisa mungkin ia tidak melirik ke arah Dean dan mencoba tenang.
Penonton yang juga duduk di sampingnya memandang dia heran dan datar. Addy hanya bisa tersenyum tidak berdosa. “Maaf.” Hanya itu yang ia katakan padahal dia tidak tahu apakah dia memang salah.
Setelah pertunjukannya selesai, Addy langsung pergi ke pintu keluar yang ternyata dipenuhi banyak orang. Addy mengumpat, kini ia hanya bisa berharap Dean tidak melewati pintu keluar yang sama dengannya—sialan. Baru saja Addy menoleh, ia sudah melihat Dean bangkit dari duduknya dan menuju pintu keluar yang sama dengannya. Sialan. Ini hari sialnya. Lagipula, untuk apa guru itu juga mengikutinya untuk menonton di tempat yang sama?
Karena terburu-buru, Addy tidak sengaja menyenggol orang di depannya. “Maaf,” gumamnya. Namun, sialnya lagi, seseorang menepuk bahunya dari belakang dan membuat Addy tersentak.
“Adelaide?”
“Adele?”
Addy menengguk ludahnya kasar. Sial sekali. Dia tetap menunduk, namun karena menyadari tidak ada jalan keluar untuk menghindar, akhirnya Addy mendongak.
“What?” tanyanya dengan datar dan dingin.
Dean tersenyum miring. “I know it. Itu pasti kamu, Adelaide.”
“Bapak mau apa?” Karena posisinya mereka adalah guru dan murid, makanya Addy memanggil Dean dengan sebutan ‘Bapak’ walaupun sebenarnya muka Dean masih terlalu muda untuk dipanggil begitu.
“Kamu bolos?”
“Bapak sendiri juga bolos.” Addy tidak akan mengaku pada Dean, enak saja.
Dean tertawa kecil. “Saya tidak ada kelas, sampai jam dua belas nanti.”
“Tetap saja Bapak bolos namanya.”
“Kamu mendebat saya.”
“Iya!”
Dean menghela napas. Sepanjang kariernya menjadi dosen di usia muda dan kini menyambi jadi guru, tidak pernah sekalipun ia menemukan murid sebebal Addy. Dean tersenyum kecil. “May I buy you a coffee?” dan cara termudah agar melunakkan murid bebal seperti Addy adalah dengan pendekatan secara halus.
Addy terhenyak. Ia mengeryitkan dahinya dan menggeleng kuat. “Absolutely no.”
“Kenapa?” tanya Dean heran. Masalahnya, ini hanya kopi dan Addy menanggapinya seolah Dean mengajaknya untuk menikah.
“Apa Bapak tidak tahu arti ungkapan itu sebenarnya?”
Dean menggeleng heran. “Tell me.”
Addy menghela napas. Ia harus memahami bahwa Dean lebih tua—sangat lebih tua darinya dan mungkin saja pria itu tidak mengetahui slang masa kini. “It means you wanna have a relationship with me—more like, you know....in bed.”
Dean tersentak. “Bukan itu maksud saya—saya...”
Addy berdecak. See? Dia sudah menebak Dean tidak tahu dan rasanya menyenangkan membuat guru yang sangat ia tidak sukai kini mati kutu karenanya. “Jadi, maksud Bapak apa?”
“Kopi. Hanya kopi. Kamu tahu jenis minuman bernama kopi, bukan?”
Mau tidak mau, Addy tertawa. “Apa ini cara Bapak menyogok saya agar tidak memberitahu orang lain Bapak membolos?”
Dean kembali menghela napas agar tetap tenang dan tidak tersulut emosi. “Sudah saya katakan, saya tidak membolos—”
“Whatever,” ucap Addy seraya berlalu dari sana. Seharusnya saat ini ia sudah berada di tempat lain dan bukannya terjebak di situasi menyebalkan karena ketahuan oleh guru menyebalkan itu.
“Jadi, kamu mau?” Jangan salah sangka, Dean hanya bersikap baik sebagai guru dari Addy, dan dia tidak memiliki maksud apapun—terutama melaporkan Addy yang sudah membolos. Karena mungkin hal itu akan sia-sia mengingat siapa ayah Addy dan kekuasaan yang dimiliki Ayahnya. Dean hanya bersikap baik.
***