Chapter 6

1086 Kata
Alasan kenapa Addy menyetujui ajakan Dean untuk minum kopi dengannya adalah memastikan bahwa pria itu tidak akan memberitahu siapapun bahwa ia membolos. Ini kesekian kalinya Addy bolos sekolah, tapi ini pertama kali ia ketahuan oleh gurunya sendiri, terlebih guru menyebalkan seperti Dean. Addy bahkan sudah berinisiatif jika Dean memberitahu seseorang—apalagi ayahnya—tentang ini, dia juga akan membeberkan bahwa Dean juga membolos. “Latte?” tawar Dean yang akan mengantre untuk memesankan pesanan mereka. Addy menoleh pada daftar menu yang ada di sana. Addy menggeleng. “Green tea. I want green tea, Sir,” ucap Addy seraya tersenyum miring pada Dean. Ternyata begini rasanya menyuruh gurunya sendiri untuk memesankan minuman keinginannya. Dean mengangguk. Tanpa mengeluh atau menggerutu, dia langsung mengantre untuk memesankan minuman Addy dan juga dirinya. Sementara Addy, dia mengambil duduk di dekat jendela besar yang kemudian ia sesali keputusannya itu karena ia baru ingat, siapa saja bisa melihatnya dengan gurunya sendiri dan itu bukanlah hal yang bagus. Maka, Addy langsung beralih ke pojok yang sedikit tertutup, dan tidak lupa ia mengenakan hoodie dan penutup kepalanya. Berkali-kali ia melirik ke sekitarnya dan duduk dengan tidak tenang. Beberapa menit kemudian, pesanan yang ia mau sudah ada di hadapannya dan ketika Addy mendongak, ia melihat Dean yang juga menatapnya dengan heran. “Kenapa?” tanyanya dan duduk di hadapan Addy. Addy terdiam, dia menyadari mungkin tindakannya ini sangat konyol. Oleh karena itu, ia kembali duduk seperti biasa dan membuka penutup kepala hoodie-nya. “Tidak.” Dean hanya mengangguk dan mulai menyeruput minumannya. “Janji, jangan beritahu Ayah saya,” ucap Addy dengan tegas. Dia masih tidak tenang sebelum Dean benar-benar sepakat untuk tidak memberitahu siapapun. Dean tertawa kecil. “Kamu sangat takut sama Ayahmu, don’t you?” Addy diam saja. “Pokoknya, jangan beritahu siapapun.” Dia berdecak kesal. “Harusnya rencana bolosku lancar-lancar saja, jika Bapak tidak memergoki saya.” Dean menghela napas. “Jadi ini bukan pertama kali kamu membolos?” Addy mengangguk mantap—tanpa rasa takut bahwa Dean mungkin bisa saja melaporkan kenakalannya itu ke pihak sekolah—well, terserah, yang penting bukan Ayahnya. “You have to promise me, jangan melaporkan pada siapapun—termasuk Ayahku.” “Then, jangan beritahu siapapun juga.” Addy melotot. “See? Kamu juga membolos.” Dean tertawa kecil. Seharusnya ia marah pada murid yang tidak sopan ini, namun Dean malah tertawa melihat tingkahnya. “Tidak, Addy, saya memang tidak ada kelas hari ini—maksudku, pagi tadi. Namun, jika kamu memberitahu orang lain, that could be a problem.” Addy berdecak. Ia kembali meminum green tea-nya. “Kamu menonton acara tadi sendiri?” tanya Dean. Addy mengangguk. “Apa Bapak melihat orang lain bersamaku?” tanyanya balik dengan malas. Oke, ia memang tidak sopan dengan Dean, tapi salahkan Dean yang membuat first impression-nya buruk di hadapannya di pertemuan pertama mereka. “Benar juga, dan tidak mungkin Adele menemani kamu.” “Yap, Adele anak baik. Dia tidak mungkin membolos.” Addy sudah gila jika mengatakan Adele juga ikut dengannya tadi. “Kamu suka piano?” “Apa itu penting buat Bapak?” Dean menghela napas. Addy anak yang sinis, Dean baru menyadari hal itu. “Just asking.” “Jika Bapak berpikiran saya membolos untuk hal yang tidak berguna, then you totally wrong.” Dean menumpukkan dagunya di tangannya dan menatap Addy dalam. “Tell me, then.” “Saya bolos untuk menonton acara seperti tadi, melihat pameran galeri, dan I don’t know—mungkin juga karena saya bosan di sekolah.” Addy tidak segan memberitahu Dean karena pria itu sudah berjanji untuk tidak memberitahu siapapun. Dean tertawa kecil. “Epic,” komentarnya. “I am.” Mereka diam untuk beberapa saat sebelum Addy seolah teringat sesuatu. “Bapak serius untuk....mengenal Adele?” “Maksud kamu?” “Well, bukankah aneh jika orang lain tahu Bapak berhubungan dekat dengan murid Bapak sendiri?” Dean tersenyum. “Kami hanya....ingin mengenal satu sama lain, Addy.” “No, you’re not, Adele either. Jika kalian terpaksa, lebih baik tidak perlu.” Dean mengangguk. “Bagaimana jika kita lihat saja nanti? Semuanya belum pasti, bukan?” “Well, jika Bapak hanya ingin bermain-main dengan kembaran saya, lebih baik jangan.” Dean menatap Addy. “Of course not.” *** Esok harinya, tepat saat ulangan matematika mereka akan dimulai, Adele jatuh sakit dan tidak diizinkan untuk masuk sekolah oleh Ibu mereka. Namun, Adele malah nangis di kamar Addy karena ingin masuk sekolah dan mengerjakan ulangannya terlabih dahulu. Addy memutar bola matanya malas melihat tingkah Adele. “Kita sudah janji, kan? Gue yang gantiin lo. Nggak usah nangis, Adele.” Adele menggeleng. “Tapi aku sudah belajar untuk ulangan ini, Addy.” Addy merapikan rambutnya sebelum keluar kamarnya dan mengatakan, “Kesuksesan lo nggak ditentuin sama ulangan Matematika, Del.” Dan Addy menutup pintunya. Di sekolah, Addy tentu saja bisa mengerjakan ulangannya dengan lancar. Dan dia juga menepati janjinya untuk menggantikan Adele. “Jangan kasih tau siapa-siapa,” ancam Addy pada semua temannya. Tentu saja teman-temannya mengangguk karena, well, siapa juga yang berani untuk melawan Adelaine. Addy terlebih dahulu memakai masker berwarna hijau, memakai hoodie milik Adele, dan kacamata belajar yang tentu saja milik Adele. Ketika siswa-siswa yang kebagian ulangan kedua masuk ruangan, Addy mengikutinya dan mereka bersikap seperti biasanya. Addy mengambil tempat duduk di samping jendela dan bersikap biasa saja agar Dean--guru menyebalkannya itu, tidak curiga sama sekali. Addy berhasil melanjutkan ulangan milik kembarannya dengan sempurna dan lancar. "Adele," panggil Dean ketika semua murid sudah keluar dan Addy yang terakhir mengumpulkan. Addy berdecak pelan. Kenapa harus manggil sih? Addy berbalik dan menatap Dean. Sebisa mungkin dia mencoba untuk tidak panik. Dean menatapnya dengan lekat-lekat. Kemudian tersenyum, seperti orang gila, ucap Addy dalam hati. "Bisa bantu saya memeriksa ulangan teman-teman kamu?" Sialan. Addy ragu, tapi jika dia menolak, mungkin pria ini akan curiga padanya, maka Addy mengangguk. "Baik, Pak." Sebisa mungkin pula ia memiripkan suaranya dengan suara Adele. Dean tertawa kecil. "Okay, stop, Addy." Addy tersentak. Dia melotot dan kebingungan bagaimana pria ini bisa tahu? "Maksud, Bapak?" Dean menghela napas. Ia membereskan kertas ulangan murid-muridnya dan menatap Addy tidak percaya. "Saya tahu kamu Addy. Lepas masker kamu, please." Addy berdecak, kini dia membuka maskernya dengan kesal. "Darimana Bapak tahu?" Dean tersenyum. "Well, kalian tidak semirip itu untuk mengelabui saya, Addy. Tatapan mata kalian berbeda, percaya atau tidak walaupun saya baru bertemu kalian beberapa kali, tapi kalian sangat berbeda. Again, kamu berpakaian aneh sekarang." Benar juga. Dengan memakai hoodie, masker, dan kacamata, tidak membuat Addy menjadi lebih mirip dengan kembarannya. Addy membuka hoodie-nya di depan Dean dan itu membuat Dean terkejut. "Now, what? Bapak akan melaporkan saya?" Dean menghela napas. "Well, saya bisa jika saya mau--" "So, go ahead." Addy sudah kesal karena rencananya selalu gagal karena pria ini. Dia tidak akan peduli. "Padahal niat saya hanya ingin membantu kembaran saya," gumam Addy kesal yang masih didengar oleh Dean. Dean tersenyum. "Like i said before, bantu saya memeriksa ulangan." "Hanya itu?" "Yap, hanya itu." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN