Chapter 7

1137 Kata
Addy benar-benar menyesal karena telah mengiyakan suruhan dari guru menyebalkannya itu karena sekarang, dia masih berada di ruang guru—tepatnya di samping Dean yang kini dengan santainya menyeruput kopi hitamnya tanpa memedulikan Addy yang kelimpungan dengan tugas yang diberikan olehnya. Masalahnya, ini sudah pukul tujuh malam dan hanya ada Addy dan Dean yang berada di sini. Addy semakin membenci Dean karena hal yang menurutnya bukanlah masalah besar, menjadi ribet karenanya. Padahal niatnya menggantikan Adele saat ulangan tadi sudah baik, bukan? Dia hanya ingin membantu. Seharusnya Dean tidak perlu menghukumnya begini. “Sudah selesai?” tanyanya. Addy hanya melirik. Selesai my ass, umpatnya dalam hati. Ini sungguh hukuman, karena Dean bukan hanya menugaskan untuk memeriksa ulangan kelasnya saja, yang dimaksud dengan ‘teman-teman kamu’ menurut Dean adalah semua teman angkatannya baik dari kelas ipa maupun ips. Sangat sial, Addy mengakui itu. Dean hanya tersenyum melihat wajah tidak bersahabat dari Addy. “I’m just asking, Addy, kenapa kamu sangat tidak menyukai saya?” “Harusnya Bapak tanyakan ke diri Bapak sendiri, apa yang membuat saya sangat tidak menyukai Bapak.” Dean mengangkat bahunya. “Tidak ada. I’m being a good teacher, Addy. Saya rasa semua murid menyukai guru barunya ini.” Addy berdecih. “Jika mereka menyukai Bapak tidak mungkin nilai mereka kebanyakan hanya berbentuk telur.” Iya, sudah beberapa siswa yang Addy cocokkan jawabannya dengan jawaban Dean sendiri, dan hasilnya kebanyakan nilainya sangat buruk. Mungkin Dean memiliki nilai plus di tampang dan senyumannya, tapi mungkin tidak dengan soal-soal buatannya. Dean melirik kertas ulangan yang sedang diperiksa Addy. “Itu hanya latihan agar mereka terbiasa dengan soal universitas.” Dean kembali meminum kopinya dengan tenang seolah perkataannya itu tidak akan menimbulkan demo besar-besaran di antar murid yang belajar dengannya. Addy sempat lupa, guru menyebalkannya ini juga seorang dosen muda dan juga memiliki perusahaan arsitek terkenal. Tidak dipungkiri mungkin kapasitas otaknya bisa melebihi normal. “You are so insane,” gumam Addy yang masih bisa didengar oleh Dean. Dean tersenyum. Murid kurang ajarnya ini seharusnya diberi hukuman olehnya, namun Dean sadar, mau seberapa banyak dan berat hukuman yang akan diberikan, Addy tetaplah Addy karena she’s just being herself. “Saya adalah good teacher, Addy, like I said before.” Addy memutar bola matanya malas. “Saya bahkan tidak percaya Bapak seorang dosen. Sepengetahuan saya, tidak ada dosen semuda Bapak. I mean, dilihat dari rata-rata umur dosen yang kebanyakan empat puluh dan lima puluh. Bapak tidak termasuk.” Dean tertawa mendengar ledekan Addy yang membuat Addy sempat terkejut dan mengira dosennya ini seriusan gila. “Addy, you can take a look,” ucap Dean seraya menggeser laptop yang ada di hadapannya pada Addy. Addy melirik sekilas dan ia bisa melihat soal-soal matematika yang dibuat untuk mahasiswa—Addy sempat melihat di mana Dean mengajar di universitas. “Oh,” komentar Addy. Dia kembali melanjutkan hukumannya dan tidak peduli dengan Dean. Dean tertawa kecil. “Beritahu saya jika sudah selesai, saya akan mengantar kamu pulang,” ucap Dean. Addy pura-pura tidak mendengar. *** “Finish!” seru Addy dengan senang dan menyerahkan tugas-tugasnya pada Dean. Dia melipat kedua tangannya di depan d**a dan tersenyum lebar pada Dean. Dean juga baru saja selesai tugasnya tepat saat Addy juga selesai. “Good job,” ucapnya. Dia membereskan semua berkas yang ada di mejanya sebelum pulang. “Ayo.” Addy terlihat berpikir sebentar. Dia tidak mau menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan Dean, apalagi pulang bersamanya, karena ia tidak mau menimbulkan lebih banyak pertanyaan lagi jika orang tuanya melihat dia dengan Dean. Maka, Addy menggeleng. “I’m gonna call my driver to pick me up,” ucap Addy dengan senyuman dipaksakan di wajahnya. Dean tidak repot-repot untuk memaksa muridnya sendiri pulang bersamanya. Bukan karena ia tidak peduli, hanya saja jika Addy sendiri tidak mau, dia juga tidak akan memaksa. “Fine.” Dean membawa tasnya dan pergi dari sana tanpa basa-basi lagi. Kini, Addy sendiri berada di ruang guru sendirian dan keadaan sudah sangat sepi. Oke, walaupun Addy anak yang nakal, dia juga tergolong anak yang penakut. Addy bangkit perlahan dan bergegas keluar dengan napas yang memburu. Untungnya, Dean belum jauh darinya dan dengan sekuat tenaga yang ia punya, Addy mengejar Dean. Sesampainya di samping pria itu yang kini memandanginya dengan tatapan heran, napas Addy benar-benar memburu. Dia kewalahan padahal Dean tidak berlari juga dan tidak cukup jauh darinya. “Ada apa?” tanya Dean heran seraya menatap ke arah belakang mereka, takut-takut jika ada seseorang yang mengejar atau bermaksud jahat pada Addy. Addy menggeleng. “Saya hanya takut sopirku menunggu lama. Karena itu, saya berlari.” Tidak mungkin Addy mengatakan pada Dean bahwa dia takut. Bisa-bisa pria ini menertawainya habis-habisan. Mereka berjalan menuju gerbang sekolah. Suasana sekolah yang sangat gelap cukup mencekam untuk Addy. Dia berjalan rapat dengan Dean hingga membuat Dean menyadari hal itu. “You’re scared.” “I’m not,” ucap Addy dengan cepat. Padahal, kini tangannya sudah meremas lengan Dean cukup kencang. Dean tersenyum. “Kamu mau saya antar sampai rumah?” Addy menoleh dan langsung menyadari apa yang dilakukannya—memegang lengan kokoh Dean—ia langsung melepaskannya dengan kasar dan berdehem untuk mengatasi kecanggungannya walaupun itu tidak berhasil. “Hm....saya sudah bilang, sopir saya akan menjemput saya.” “Jadi, kamu akan menunggu di sini?” Addy mengangguk ragu. Padahal, dia belum menelepon sopirnya—astaga, bahkan Ayahnya tidak memiliki sopir pribadi—Addy hanya membual dan kini dia menyesal. Dean mengangguk. “Bye, then.” Ketika Dean melangkah menjauhi Addy, Addy langsung berdecak kesal. “You’re not a good teacher,” serunya saat Dean sudah membuka pintu mobilnya dan bersiap untuk masuk. Dean tersentak dan menoleh pada Addy yang sekarang sudah menghampirinya dan berdiri di dekatnya. Wajahnya tidak begitu bersahabat. “Hm?” tanya Dean tidak mengerti. Addy hanya menatap gurunya tajam untuk sekian detik, lalu tanpa aba-aba dia memutari mobil Dean, lalu membuka pintunya dan duduk di kursi samping kemudi. Tindakan Addy membuat Dean tertawa. Sudah ia duga bahwa muridnya ini hanya gengsi dan tidak mau mengakui apa yang ia rasakan, maka itulah Dean pura-pura tidak peka dan akan meninggalkannya. Dean masuk ke mobilnya dan melirik Addy yang kini cemberut di sampingnya. “What happen to that face?” godanya dengan senyuman jahil. “Bapak bukan guru yang baik.” Addy menatap Dean tajam. Dia kesal bukan main dan entah kenapa memang Dean selalu membuat dia kesal. “Apa? Kenapa?” “Guru yang baik tidak akan meninggalkan muridnya sendirian di sekolah malam-malam begini. You’re such...” Addy masih memiliki akal sehat agar tidak melebihi batasannya lebih jauh lagi dengan memanggil Dean dengan kata; asshole. “...I dont wanna say it.” Dean hanya bisa tersenyum miring. “Kamu yang menolak ajakan saya, Adelaine.” Entah kenapa Addy selalu merasakan rasa...—ia tidak tahu harus dikatakan apa; senang, mungkin?—ketika Dean memanggil nama jelasnya. Astaga. Pikirannya sudah kalut. “Harusnya Bapak membujuk saya!” Dean menoleh bingung sebelum mengemudikan mobilnya keluar dari lingkungan sekolah. “Maksudku, harusnya Bapak membujuk saya sampai saya mau.” Dean lagi-lagi tertawa. “Kamu mau begitu?” “Jangan menggoda saya!” Tawa Dean sekarang adalah hal yang paling menyebalkan untuk Addy. “Saya tidak menggoda kamu, Addy.” “Dan jangan mendebat saya, Pak Dean Angkasa!” “Fine.” ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN