"Addy!"
Addy terkejut ketika dia keluar dari mobil Dean dan mendapati Ibunya berada di luar rumah dengan ponsel di genggamannya. Alexandria terlihat sangat khawatir dan segera memeluk Addy ketika putrinya sampai di hadapannya.
"Ibu? Kenapa?"
Alexandria melepaskan pelukannya dan menghela napas melihat putrinya menatapnya dengan polos. "Addy, Ayah kamu kebingungan mencari kamu kemanapun, Adelaide! Dari mana saja kamu?!" Lagi-lagi Addy terkejut ketika Ibunya tiba-tiba marah padanya. Padahal beberapa saat yang lalu Ibunya memeluknya seolah takut kehilangannya.
"Hp-ku mati, Ibu. Dan aku bareng...Dean," ujarnya seraya melirik Dean yang dari tadi menyandar di mobilnya.
Dean tersenyum dan mengangguk sopan pada Alexandria. "Maaf, tapi tadi saya menyuruh Adelaide membantu memeriksa jawaban murid-murid lain. Saya mohon maaf."
Melihat Dean yang seperti takut padanya membuat Alexandria jadi tidak enak. "Astaga, tidak apa, Dean. Hanya saja aku dan suamiku takut dia kenapa-napa."
"Aku baik-baik saja, Ibu." Addy berdecak karena Ibunya terlalu berlebihan. Dia mungkin anak yang nakal dan serampangan tapi ia juga mengerti batasan-batasan pergaulannya.
"Ayah akan marah setelah ini, Addy. Salah kamu sendiri tidak mengabari kami."
Addy menghela napas. "Ak—"
"Oh, she's here?" Adele keluar dari rumah dengan sweater tebal yang ia pakai.
Alexandria mengangguk. "Kembaran kamu sangat ceroboh. Bagaimana jika ada sesuatu dengannya?" gerutu Ibunya yang membuat Adele tertawa dan Addy menghela napas.
"Adele, kamu baik-baik saja?" tanya Dean ketika melihat Adele sedikit pucat. Ditambah lagi, dia tahu bahwa Adele tidak masuk sekolah hari ini dan mungkin itu yang membuat Addy menggantikannya di ulangan tadi, begitu perkiraannya.
Adele terdiam. Rasanya sangat canggung ditanya begitu oleh Dean yang malam ini tidak bisa ia anggap sebagai gurunya di sekolah. Dia melirik Addy, yang juga kini menatapnya.
Adele mengangguk. "Saya baik-baik saja, Pak Dean. Hanya deman."
"Jadi, itu alasan kamu..." Dean melirik Addy yang kini melotot padanya tanda ancaman agar Dean tidak mengatakan yang sebenarnya di depan Ibunya.
Dean tertawa kecil. Dia kembali menatap Adele. "Kalau begitu, cepat sembuh, Adelaine." Wow. Addy sedikir terkesan dengan kemampuan pria ini untuk mengucapkan nama asli mereka berdua tanpa keliru.
"Terimakasih, Pak Dean."
Alexa tersenyum melihat interaksi malu-malu dari keduanya. "Well, you better go to your room, Adele. Kamu masih sakit." Adele mengangguk dan berpamitan kepada Dean. Alexa mengikutinya dari belakang, namun sebelum dia memasuki rumahnya dia menatap nyalang pada Addy yang berhasil membuatnya panik malam ini. "Kamu juga, Adelaide."
Addy berdecak kesal. "Iya, Ibu," gerutunya.
Dean yang melihat itu hanya bisa tertawa dan itu membuat Addy semakin kesal. "Malam, Addy."
Addy menghela napas. Ia tidak mau membalasnya, jadi ia memilih untuk menjawab dengan mengatakan, "Bye-bye, Good Teacher," ledek Addy dengan tersenyum miring.
Dean menggelengkan kepalanya melihat tingkah murid pecicilannya ini. Well, setidaknya dengan kehadiran Addy dan sikap absurd-nya itu, malamnya tidak terlalu membosankan.
***
"Jadi kamu ketahuan?" tanya Adele ketika Addy berada di kamar kembarannya itu dan menceritakan apa yang terjadi padanya hari itu.
Addy mengangguk. "Gue selalu merasa sial kalau di dekat dia. Semua yang gue rencakan pasti hangus gara-gara Dean Asshole," gerutu Addy. Wajahnya sangat tidak bersahabat karena mengingat perlakuan pria itu yang membuatnya kesal setengah mati.
Adele tertawa. "Lalu, karena itu dia menghukummu?"
Addy mengangguk lagi. "Dan secara tidak langsung, dia yang buat gue dimarahi Ayah, am I right?" Setah Dean pulang, Ayahnya juga pulang entah dari mana karena mencari Addy dan akhirnya Addy kena semprot Ayahnya yang kesal karena Addy membuatnya panik malam-malam begini. Kata Sean, bagaimana dia tidak panik ketika dia menanayakan keberadaan putrinya dan ternyata tidak ada yang tahu.
Walaupun Ayahnya tidak membentak dan memarahinya besar-besaran, tetap saja Addy tidak terima. "Ayah menyayangi kamu, Ad."
"I know. Tapi gue tetap kesal karena Dean sialan itu yang membuat gue dimarahin Ayah."
Adele tertawa lagi. Melihat wajah kes dengan gerutuan yang terus-menerus Addy ucapkan berhasil membuat mood-nya sangat amat bagus. "Dia guru kita, Addy," tegur Adele.
Addy seolah teringat sesuatu. "Lo masih mau dijodohkan dengan dia?" tanya Addy dengan serius. Masalahnya, Addy sangat tidak menyukai Dean--sekalipun dia gurunya, jadi kemungkinan Addy tetap tidak mengukai Dean jika kelak--mungkin suatu saat--Dean menjadi pasangan Addy.
Adele tersenyum kecut. "I don't know. Aku juga tidak tertarik padanya. Kamu lihat sendiri bagaimana canggungnya aku dengan dia tadi, bukan?"
Addy mengangguk setuju. Sepertinya ia merasa Adele dan Dean adalah orang yang terlalu sama. Sama-sama canggung dan sama-sama tidak bisa membuka obrolan ataupun mencairkan suasana. "Sangat canggung. Ditambah lagi lo memang menyukai Mr. Adam."
Adele langsung tersenyum malu-malu. "Stop calling him with "Mr", kamu membuat aku seolah menyukai om-om."
Addy tertawa. "Well, umur tidak menjadi masalah."
Adele menyipitkan matanya seraya menatap Addy tajam. "Umur tidak menjadi masalah? Kalau begitu, kamu saja yang dijodohkan dengan Dean. Kalian bisa sangat cocok, aku menjamin."
Addy mengeryit tidak suka. "Iw. Lebih baik gue nggak menikah daripada jodoh sama Dean."
Adele langsung menepuk pipi Addy karena omongannya yang kelewatan. "Astaga, Ad! Jangan sembarangan!" Addy tersenyum.
"Kidding."
***
"Dean," ucap Ibunya ketika Dean baru datang ke rumahnya.
Dean tersenyum. "Mama," balasnya dengan kecupan di pipi Ibunya.
"Kamu pulang malam sekali, ada kelas malam?" tanya Irana seraya menyeruput teh hangatnya.
"Tadi ngurusin tugas dulu, Mama. Sekalian antar Addy pulang."
Irana melirik ketika mendengar nama Addy. "Addy? Adelaide?"
Dean mengangguk. Mendengar nada suara ibunya yang kurang bersahabat membuat Dean keheranan. "Ada apa, Mama?"
Irana tersenyum kecil dan menggeleng. "Tidak. Hanya...Mama tidak begitu menyukainya."
Dean terkejut mendengarnya. Dia duduk di hadapan Mamanya. "Kenapa, Ma, kalau boleh tahu?" tanyanya dengan sopan.
"Dia terlalu serampangan dan tidak sopan, Dean. Sangat beda jauh dengan kembarannya." Irana menggelengkan kepalanya. "Tapi untung saja kamu memilih Adele."
"Aku tidak memilihnya." Mendengar Ibunya menjelekkan Addy sedikit membuat dia tidak terima. Maksudnya, dia tidak terima karena Ibunya menjelekkan Addy ketika dia belum mengenal Addy dengan benar.
"Maksud Mama, setidaknya kami memilihkan Adele untuk kamu."
Dean menghela napas. "Apa kalian mengharapkan aku bersama Adele?" Padahal, saat makan malam tempo hari, orangtua mereka hanya mengatakan agar Dean dan Adele saling mengenal, dan saling mengenal belum tentu Dean harus menikahinya. Walaupun memang Dean tidak menolak karena siapa tahu dia dan Adele cocok.
"Iya. Tentu saja. Adele anak yang baik, cantik, dan juga ramah. Siapa yang tidak mau memiliki menantu seperti itu, Dean?"
"Mama berpikir kejauhan. Adele masih sekolah, dan Dean belum mau memikirkan itu."
Irana mengangguk. "I know. It's just in case, okay? Suatu saat kamu pasti akan menikah, kan? Makanya dari sekarang Mama dan Papa kamu sudah menentukan seperti apa kriteria yang cocok di mata kami."
Dean hanya bisa mengangguk. Walaupun hatinya sulit untuk menerima itu.
Entahlah. Dari awal, dia mempunyai feeling bahwa dia tidak akan berakhir dengan Adele.
***