Dua bulan kemudian...
Tidak ada yang berubah dari hubungan Dean dan Adele. Semuanya masih sama dan masih canggung. Namun, seolah tidak melihat bagaimana canggungnya interaksi keduanya, orangtua mereka malah mengultimatum bahwa mereka resmi dijodohkan. Tentu saja, Adele si anak baik tidak menolaknya. Dia menerima apapun keputusan orangtuanya dan Dean. Begitu pula dengan Dean, walaupun hatinya ingin menolak tapi dia juga tidak mau melawan orangtuanya.
Kini, Adele dan Dean berada di sebuah mall untuk makan siang bersama--tentu saja ini adalah ide dari orangtua mereka yang menyuruh agar mereka lebih dekat dan tidak canggung.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dean ketika menyadari sedari tadi Adele hanya menunduk dan seolah tidak mau membuka obrolan dengannya.
Ketika ditanya begitu, Adele langsung mendongak dan tersenyum tidak enak pada Dean. "I'm fine."
Dean mengangguk. "Apa kamu keberatan dengan ini?"
Adele tertawa kecil. Dia yakin Dean juga merasakan hal yang sama. "Bapak juga?" tebaknya. Mereka tertawa karena pemikiran yang sama namun tidak mau mengungkapkannya.
"Saya akan cari cara agar orangtua kita mau membatalkannya." Tentu saja dia tidak mau menghabiskan sisa hidupnya dengan perempuan yang tidak ia cintai, walaupun perempuan itu adalah Adele yang katanya Mama adalah kriteria menantu idaman, tetap saja Dean tidak mau. Dia juga tidak mau mengurung Adele dalam pernikahan yang bukan impiannya.
Adele langsung mengangguk setuju seolah itu yang ingin dia katakan sejak dulu. "Terimakasih."
"Jadi, are we enough for just student and teacher?" tanya Dean dengan senyuman manisnya.
Adele lagi-lagi tertawa kecil. "We can be friends."
Dean mengangguk setuju. "Friends."
"Aku rasa, mungkin kita bisa pulang sekarang?" tawar Adele. Makan siang yang direncanakan orangtua mereka tidak bisa merubah apapun. Satu makan siang tidak bisa merubah perasaan mereka berdua. Dan juga, hari ini adalah jadwal kursus piano Adele, dia akan bertemu Adam dan tidak mau menghindarinya lagi.
Dean mengangguk. Mereka berjalan keluar mall. Sesampainya di pelataran saat akan menuju tempat parkir, ternyata hujan deras sudah mengguyur kota. "Aku tidak bawa payung," ucapnya.
Mereka memilih untuk menunggu hujan reda di pelataran sana. Tiba-tiba mata Adele menangkap sosok gadis yang mirip dengannya. "Addy!"
Dean ikut menoleh pada gadis itu. Ternyata Addy berada di pinggir jalan tepat di depan Mall dan kini dia kehujanan. Dia seperti kebingungan. Dean menoleh kembali pada Adele. "Kenapa dia di sana?"
Adele menggeleng. Dia juga panik karena kini saudaringa kehujanan. Bajunya bahkan sangat basah kuyup.
"Sebentar." Dean menyuruh Adele menunggu sementara ia pergi menemui Addy. Adele terkejut karena itu, masalahnya Dean rela hujan-hujanan hanya untuk menghampiri Addy. Namun, dia tersenyum. Kini dia sadar bahwa rencana mereka membatalkan pejodohan ini adalah tepat.
"Adelaide!" Addy terkejut ketika seseorang memanggilnya. Dia menyipitkan matanya.
"Dean?" tanyanya kebingungan karena melihat gurunya di sini.
"Kenapa kamu di sini?" Dean sigap membuka outter yang dipakainya dan memakaikannya pada Addy padahal Addy sudah memakai hoodie.
"Saya ini..." Addy menunjukkan apa yang sedari tadi ia bawa dan Dean terkejut ketika itu adalah anak kucing.
"Tadi saya lihat dia kejebak di selokan itu dan..." Addy melihat Dean tertawa saat ia berbicara dan itu membuatnya kesal.
"Hei!" tegurnya dengan marah.
Dean mengangguk. "Maaf, tapi lucu saja melihat kamu kehujanan hanya untuk anak kucing." Dean merangkul Addy yang membuat dia terkejut. Tapi, sepertinya Dean tidak sadar. "Adele menunggu di sana. Ayo."
Addy tetap mengikuti Dean dan saar melihat Adele, dia tersenyum. "Kalian habis makan siang?" tanya Addy pada Adele. Kucing yang ada di pelukannya sudah ia lepaskan karena meronta-ronta sejak tadi.
Adele tersenyum. "Iya. Kamu ngapain di sini? Hujan-hujanan pula."
"Gue abis jalan sama temen."
Mendengar itu bukan hanya Adele yang terkejut, tapi Dean juga. Dia ikut menoleh pada Addy. "Temen?" Dan itu bukan Adele yang bertanya, tapi Dean.
Addy mengangguk. "Kenapa? Kalian kayak heran banget."
Adele tertawa kecil. "Kamu punya teman? Selain aku? How dare you, Adelaide."
Benar juga. Addy merasa bodoh karena menjawab seperti itu, pasalnya, teman satu-satunya yang dia punya hanyalah Adele, begitupun sebaliknya. "Oke, fine. Gue habis ke kafe bareng Regan. Lalu dia pergi, and here I am."
Adele tertawa. Astaga, Addy memang tidak bisa berbohong. Sementara Dean, dia hanya tersenyum kecil. "Kemana Regan?"
"Gue nggak tahu, adik lo itu malah ninggalin gue gitu aja."
"Adik kamu juga, Addy."
Addy mengangkat kedua bahunya tidak peduli. "Well, kalian akan menunggu di sini?"
Adele dan Dean mengangguk.
"Sampai hujan reda?"
Mereka mengangguk lagi. Sementara Addy berdecak. "C'mon." Addy langsung berlari ke pelataran parkir dan membuat bajunya semakin basah kuyup.
"Addy!" seru Adele yang terkejut karena tingkah laku kembarannya. Dean menggelengkan kepalanya dan menyusul muridnya itu. Dia dengan sigap merapatkan tubuhnya dengan Addy dan menempatkan tangannya di kepala Addy agar tidak terlalu kehujanan, walaupun usahanya itu terbilang sia-sia.
Addy terkejut. Namun, ia berusaha biasa saja dan saat sampai di pinggir mobil Dean, Dean langsung menyuruh Addy masuk ke kursi di samping kemudi.
Adele yang melihat itu hanya bisa tersenyum. Astaga, mereka sudah sangat cocok. Andai Adele bisa mengatakan pada Dean dan Addy bahwa mereka sangat cocok. Harusnya orang tua mereka menjodohkan Addy dengan Dean, bukan dengan Adele.
Adele segera mengikuti mereka berdua dengan sigap.
"Everybody's okay?" tanya Dean ketika mereka semua sudah ada di mobil.
Adele mengangguk. "Ayo," ucapnya. Dia duduk di kursi belakang dan memerhatikan Addy dan Dean. Astaga, Adele ingin sekali mengatakan pada kembarannya bahwa dia sangat cocok dengan Dean.
***
"Terimakasih, Pak Dean," ujar Adele ketika mereka sampai di pelataran rumah Adele dan Addy.
Dean mengangguk. "Sama-sama," balasnya dengan senyuman manisnya.
Adele turun terlebih dahulu. Kemudian, diikuti Addy. "Adelaide, tinggi," ucap Dean seraya menahan pergelangan tangan Addy.
Addy menoleh pada Dean. "Hm? Ada apa?"
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dean. Kentara sekali nada khawatir di dalam ucapannya.
Addy mengeryitkan dahinya heran. "Hm. Kenapa memangnya?"
Dean tersadar bahwa mungkin pertanyaannya bisa bermakna ganda dan mungkin Addy akan menangkap arti yang berbeda. Dean melepaskan pergelangan tangannya dan tersenyum canggung. "Tidak ada. Sampai jumpa di sekolah," ucapnya. Lalu, Dean tersadar mungkin dia kembali membuat perkataannya ambigu.
Addy tertawa kecil dan masih menatap Dean heran. "Bye, Teacher," ujarnya.
Dean tetap tidak menjalankan mobilnya hingga memastikan Addy masuk ke rumahnya.
Astaga, ada apa dengan dia?
***
"Bagaimana makan siangnya?" tanya Alexa ketika melihat Adele dan Addy pulang.
Adele tersenyum kecil. "Great."
Alexa yang mendengar hal itu tersenyum lebar. Dia yakin rencananya untuk menjodohkan Adele dan Dean adalah keputusan yang baik. Alexa sendiri tahu bahwa mungkin perjodohan bukan keputusan yang bagus, tapi melihat Adele dan Dean yang menerimanya, membuat Alexa senang dan yakin bahwa dia memilih keputusan terbaik. "Minggu depan, kalian libur tiga hari, bukan?" tanya Alexandria pada kedua anak kembarnya.
Adele dan Addy saling lirik.
"Iya, Ibu."
"Good. Kita dan keluarga Dean berencana untuk liburan bersama."
Addy melotot. "What?!"
***