Chapter 10

1131 Kata
Adele dan Addy bersiap untuk liburan mereka dan sedari tadi, Adele hanya mendengar gerutuan Addy yang seolah tidak ada habisnya. "Del, can I just disappear right now?" keluh Addy untuk kesekian kalinya. "No, Addy. Ibu dan Ayah pasti marah kalau kamu pergi dan tidak ikut kami. Bahkan Regan saja ikut." Adele hanya bisa tersenyum tidak enak pada kembarannya. "But the concert...Oh My God, I hate this." Alasan kenapa Addy menolak keras liburan bersama mereka adalah karena dia sudah membeli tiket konser untuk menonton acara piano di hari yang sama saat mereka liburan. Addy sudah merayu orangtuanya dari jauh-jauh hari dan mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja jika ditinggal sendiri di rumah. Orangtuanya menolak keras, mereka khawatir Addy yang ceroboh ini tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Kemudian, Addy mengatakan dia bisa menginap di rumah sepupunya—Tavie—seraya menunggu orangtuanya pulang. Tapi, lagi-lagi ditolak. Adele tertawa kecil. "Well, it's not that bad, Ad. Jeju Island is paradise." Yap, mereka berencana untuk berlibur ke Jeju Island di Korea Selatan, untuk liburan panjang ini. Mendengar namanya saja, Addy sudah tertarik. Sayangnya, ketertarikannya melenyap karena liburan mereka bertepatan saat konser yang sudah jauh-jauh hari Addy pesan, dan terlebih ada Dean. Yap, sekalipun dia sudah tidak terlalu apatis pada Dean, tetap saja dia tidak mau. Titik. "Sebenarnya siapa sih yang saranin liburan ini?!" tanyanya dengan kesal. "Bu Irana, dan Ayah langsung menyetujuinya. Katanya, keluarga kita--yang maksudnya adalah aku dan Dean—bisa semakin dekat." Addy berdecak. "Sepertinya lo sudah memiliki calon mertua yang menyukai lo." Adele hanya terdiam mendengarnya. Addy menghela napas. "Lo gimana sama Dean?" Adele mengeryitkan dahinya tidak mengerti. "Gimana apanya?" "Ada perkembangan?" tanyanya. Maksud Addy, dia tidak mau jika kembarannya diberi harapan palsu oleh pria itu. Jika benar itu terjadi, maka Addy yang pertama akan melawan perjodohan itu. Adele tertawa kecil. "I don't know, Ad. Semuanya butuh waktu, lagipula aku tidak akan menikah secepat itu." Addy langsung mengangguk semangat. "Absolutely! Lo harus masuk college first, kalau perlu lo lanjut s2, s3 sekalian. Lalu, lo harus jadi wanita karier, harus. Persetan sama orang yang selalu bilang perempuan nggak usah dapet pendidikan tinggi-tinggi. Hell no! I'm gonna stand alone on my feet and not depends to my husband." Melihat Addy yang sangat berapi-api dan semangat membuat Adele tertawa lagi. Ketukan pintu kamar Addy membuat atensi mereka teralihkan. "Iya?" serunya. "Kalian sudah siap?" Ternyata Ibu mereka yang mengetuk pintu. "Belum, Ibu. Sebentar lagi," balas Adele. "Bisa dipercepat? Keluarga Dean sudah menunggu di bandara." Addy berdecak karena lagi-lagi diingatkan bahwa dia akan menghabiskan waktu liburannya dengan gurunya yang menyebalkan itu, bukan dengan konser yang ia impikan. *** "You guys look beautiful," puji Irana pada Addy dan Adele. Well, sebenarnya Addy yakin dia hanya ingin memuji Adele, tapi karena mungkin tidak enak, maka dia juga memuji Addy. Astaga, ini mungkin hanya pemikirannya saja, tapi Addy sangat yakin dengan itu. "Terimakasih," ucap mereka. Setelah mengobrol sebentar selagi menunggu jadwal keberangkatan mereka, akhirnya mereka bersiap untuk masuk pesawat yang akan membawa ke Korea Selatan. Addy tersenyum pada pramugari yang memeriksa tiketnya dan menunjukkan letak kursinya. "Thank you," ucapnya. Addy duduk tepat di samping jendela, karena hal itu pula mood-nya sudah sedikit lebih baik dari sebelumnya. Saat merasa ada orang yang duduk di sebelahnya, Addy menoleh. Dan..... mood-nya kembali buruk. Bagaimana tidak? Dean berada di sampingnya dan tersenyum kecil tidak berdosa pada Addy. "Hai." Addy memincingkan matanya dan menatap Dean dengan tajam. Kemudian, dia melengos begitu saja, kembali menatap keadaan di luar sana dan berusaha menenangkan dirinya agar tidak emosi sendiri karena lagi-lagi harus berdekatan dengan Dean. "Apa saya salah duduk di sini?" Untungnya pria ini sangat peka dengan euphoria yang ada di antara mereka. Addy tersenyum miring, ia kembali menoleh pada Dean. “Bapak merasa gitu? Well, yes.” Dean menggelengkan kepalanya menyadari sikap muridnya yang sangat apatis. “Jangan salahkan saya, Addy.” Dean tersenyum. Ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran di belakangnya. “Jangan pedulikan saya juga. Do whatever you want,” bisiknya. Addy berdecih. Ia melihat kembarannya yang duduk beberapa kursi di hadapannya menoleh dan terkejut melihat siapa yang ada di sampingnya. Addy memberenggut kesal. Sementara Adele tertawa puas melihat penderitaan Addy. *** Saat pesawatnya mendarat, Addy terbangun dari tidurnya. Ia melirik Dean yang ternyata sudah bersiap untuk turun. Addy kemudian melihat tubuhnya sudah ditutupi selimut—yang mana kemungkinan itu adalah Dean yang memberikannya. Well, bukannya dia ke-geer-an, tapi hanya Dean yang memungkinkan untuk melakukan itu. “Thanks for the blanket,” ucap Addy dengan nada dinginnya seraya meninggalkan Dean untuk turun dari pesawat. Dean yang sedang menyiapkan barangnya terkejut ketika Addy mengatakan itu. Namun, setelah itu dia tersenyum. “Well, sama-sama.” *** Setelah sampai di area kedatangan, mereka langsung menaiki taksi menuju pusat kota dan bersiap untuk check-in hotel. “Kalian baik-baik saja?” tanya Alexa pada ketiga anaknya di kursi belakang. “I’m fine,” ucap Adele. Addy hanya mengangguk. Sementara Regan, lelaki itu kembali tertidur pulas di kursi paling belakang. Alexa tersenyum dan kembali mengobrol dengan suaminya. “How’s the flight with Dean?” tanya Adele dengan nada menggoda. Hal itu membuat Addy kesal dan memutar bola matanya malas. “Isn’t it weird?” tanya Addy. Adele menoleh dan mengeryit heran karena tidak mengerti maksud kembarannya. “Apa?” “Lo jelas-jelas sudah dijodohkan sama Dean, tapi lo malah ngegoda gue buat deket sama dia.” Addy memincingkan matanya. Sementara itu, Adele tertawa kecil. “Aku sudah bilang, Ad. I do not love me. And never, probably.” Addy menggeleng. “Tidak mungkin. Lo bakal suka sama dia, gue jamin.” Masalahnya, jika Adele tidak menyukai Dean dan tetap melanjutkan perjodohan ini, well, semuanya akan kacau balau dan kembarannya ini akan tersiksa seumur hidupnya, dan Addy tidak mau itu terjadi. “No, Addy.” Adele tersenyum. “Adam, remember?” Addy tertawa kecil. “You are a lovesick girl.” Dan mereka kembali tertawa pelan agar orangtua mereka tidak mendengar obrolan mereka. *** Setelah sampai di hotel, keluarga Dean dan mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar lalu nanti sore akan menyusuri pulau Jeju dan makan siang bersama. Addy dan Adele hanya menurut saja. Mereka berdua berada di kamar yang sama, orang tua mereka di kamar sebelahnya, sementara Regan bersama dengan Dean. Sepertinya adik mereka itu sudah sangat cocok dengan calon dari Adele tersebut. “Lo tidur?” tanya Addy pada Adele yang kini memiringkan tubuhnya dan membelakangi Addy. Addy baru saja membereskan barang-barangnya. Dia menghampiri Adele dan menggoyangkan tubuh kembarannya. “Del,” panggilnya. Yang Addy dapati hanyalah tangan Adele yang menghempaskan tangan Addy begitu saja. Addy berdecak. “Gue mau keluar bentar.” “Hm.” Addy keluar hotel dan berjalan menyusuri pinggiran laut yang luas. Udara dan angin yang kencang membuat rambutnya acak-acakan, tapi Addy menyukai itu. Tiba-tiba ia terkejut dengan seseorang yang menyampirkan jaket padanya. Addy menoleh dan terkejut ketika lagi-lagi Dean yang berada di sampingnya. “Please, apa Bapak tidak ada kerjaan lain dan hanya mengikuti saya saja?” “Yes.” Addy mencebik. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN