Selena berpikir, kehidupannya akan berjalan sama dengan apa yang dia mau.
Bertambah usia, membuatnya harus mencari-cari jati dirinya sendiri. Meraba-raba tentang apa yang dia mau, dan tentang apa yang tidak dia kehendaki, tetapi harus dia jalani.
Ketika langkahnya terhenti. Menemukan Sahara Seika tertunduk dengan keranjang di pelukan, Selena menipiskan bibir.
"Maaf, Sahara. Sudah ada yang baru. Roti-roti ini tidak perlu lagi dititipkan di sini. Roti yang baru ini lebih bagus. Anak-anak lebih suka yang ini."
Sahara gemetar di depan penjual makanan ringan itu. Kantin mereka memang cukup luas. Dikelola pihak yayasan, tetapi ada beberapa kios yang memang milik pribadi.
"Sudahlah, Sahara. Roti buatan tanganmu tidak enak. Kenapa harus repot-repot menaruhnya di kantin kalau tidak laku?"
Selena lantas memutar mata. Sahara adalah satu dari tiga anak beruntung yang mendapat beasiswa gratis dari SMA Sina. Satu-satunya murid kelas satu, yang mendapat beasiswa penuh sampai lulus nanti.
"Ups, Kamara Selena si pembunuh suasana masuk."
Selena mendengus. Menatap sinis gadis dengan rambut sebahu yang mencolok itu. "Apa lihat-lihat? Mau kucolok matamu?"
Sahara terkesiap. Dia meremas keranjangnya dan dengan tarikan pelan, Sahara menarik tangan gadis itu untuk menjauh dari kantin. Tidak ada gunanya Selena berdebat di kantin kalau dia kekurangan pasukan. Terutama pada anak-anak bebal yang memang gemar mencari huru-hara.
"Kenapa?" Selena menepis tangan itu. "Aku sedang membelamu. Kenapa malah menarik tanganku?"
Sahara menggeleng. Sulit berbicara di saat dia ingin menulis sesuatu di memo yang selalu ia bawa, tetapi ada keranjang penuh isi roti dipelukannya.
"Sahara," ucap Selena lelah. "Sesekali, tidak ada salahnya aku membentak mereka. Bukan kesalahan besar. Juga, aku tidak melakukan dosa, kan?"
Sahara kembali mendengus.
"Biar saja mendapat SP, yang datang Papa. Mama terlalu sibuk."
Sahara kembali menggeleng. Gadis itu kesulitan mengucapkan kalimat. Dan berakhir dengan jemari tangan, dan Selena langsung tersenyum lebar.
"Ara! Ara! Aku mengerti," katanya sembari terkekeh. Dan merangkul bahu Sahara sembari berjalan pergi menuju kelas.
***
"Kau punya pacar?"
Rola mengangkat alis. "Sekarang? Tidak. Mantan, ada. Kau tahu, mantanku berjejer saat SMP dulu," balas Rola dengan kikik geli.
Selena memutar mata. Dan Sahara hanya mengulum senyum melihat kedua sahabat dekatnya.
"Aku tidak tanya itu, bodoh," gerutu Selena.
Rola lantas memutar mata bosan. "Ya, lalu? Sekalian saja, aku pamer."
"Iya. Terserah," ketus Selena. Dan Rola tertawa keras.
Sahara menggeleng pada keduanya. Dia menuliskan sesuatu di memonya, memberikan catatan kecil itu untuk Rola.
Tidak boleh pamer. Kasihan, Selena. Dia kurang perhatian dari remaja laki-laki.
Rola tersentak dengan tawa. Dan wajah Selena merah padam sekarang. Dia merebut memo itu dari tangan Rola, berpura-pura kesal pada Sahara yang ikut tertawa.
"Kenapa kalian jahat sekali padaku?"
Tawa Rola semakin keras. Dan Sahara menggeleng sembari meremas tangannya di depan d**a. Membungkuk beberapa kali sebagai permintaan maaf. Dan Selena, dengan tatapan angkuh mengangguk, menepuk-nepuk bahu Sahara sebagai bentuk menerima permintaan maafnya.
Sahara tersenyum lebar.
"Aku tidak pernah terlibat dengan laki-laki mana pun," Selena bicara. Menerawang menatap pohon rindang di taman sekolah mereka. "Aku pikir, tidak akan ada laki-laki yang bisa sesempurna Papaku."
"Tuan Yuma?" Rola membeo. Dan Selena memberi reaksi dengan anggukan kepala.
"Di mataku, Papa yang terbaik. Mama bukan orang yang lemah lembut dan mudah ditaklukkan. Ada hal-hal sepele yang bisa berbuntut besar saat mereka bertengkar. Atau, saat Mama mendapat masalah dan Papa terkena imbas. Yah, aku hanya ingin punya satu yang seperti Papa di masa depan."
Rola menipiskan bibir. Sementara Sahara terdiam. "Selena, menurutku yang seperti ayahmu hanya ada satu dibanding sejuta."
Selena mendengus. "Memang. Dan aku takut, suatu saat nanti ... aku tidak mendapatkan apa yang kumau karena terlalu berekspetasi tinggi."
Rola duduk di hadapan Selena. Tepat di sebelah Sahara yang meluruskan kaki. Gadis itu menulis di memo, dan memberikannya pada Selena.
Kau pasti mendapatkannya.
Selena mencibir Sahara. "Sejauh ini, laki-laki yang mendekatiku hanya karena uang, dan reputasi agar nama mereka bagus dan dikenal umum. Aku membenci orang-orang yang memanfaatkan celah seperti itu demi kepentingan pribadi."
Sahara ikut memasang ekspresi sedih. Saat Rola terpaku, menatap mata sahabatnya dengan pandangan sulit diartikan. "Kita tidak bisa merubah laki-laki sesuai yang kita mau. Tetapi, laki-laki itu akan berubah seiring waktu kalau dia benar-benar mencintai kita."
Selena terdiam sebentar. Begitu pula Sahara. Saat Selena melirik ekspresi Sahara, dan gadis itu tampak malu-malu. Dia ikut tersenyum. Dan setelah itu, menjitak kepala Rola dengan keras.
"Bicaramu sok sekali. Ingat, kau kesulitan berpikir saat pelajaran mengarang. Hanya disuruh membuat wacana sampai empat paragraf, kepalamu terjungkal ke belakang."
Rola menggerutu. Dan Sahara lantas tersenyum. Memberi tepukan di bahu Rola yang sedang melotot memaki Selena. "Dasar pelit! Kenapa kau harus pelit padaku di saat aku memanggil namamu ratusan kali?"
Selena hanya menjulurkan lidah. "Cukup sekali saja bertanya. Kau bertanya dari satu sampai lima puluh. Mau ribut?"
Dan sebelum pertikaian itu terjadi, Sahara sudah melerai keduanya. Dengan kekehan geli, dan dengan memo yang terjatuh di atas rumput pendek taman.
Selena mendengus. Begitu pula Rola yang sebisa mungkin menahan tawa. Saat Selena meraih memo milik Sahara, dan terkesiap menemukan tulisan di sana.
Rei Nick.
Sahara yang terkejut, merebut memo itu dari Selena. Tangannya gemetar saat kembali memasukkan memo ke dalam saku seragamnya. Dan Selena kembali memasang senyum, menatap mata temannya dengan cengiran lebar.
"Kenapa harus malu-malu begitu, Sahara? Tidak apa. Tidak ada salahnya kami tahu, kan?"
Rola mulai tidak mengerti. Dan Sahara mulai salah tingkah. Saat dia menulis memo itu untuk Selena. Dan Selena membacanya dengan raut pias.
Bukan begitu, Selena. Nick menyukaimu. Aku seharusnya tahu diri.
Selena menghela napas. Memberikan memo itu pada Sahara dengan gelengan kepala. "Kenapa begitu? Suka dalam arti suka biasa. Aku tidak suka padanya."
Sahara hanya diam. Dan Rola mengintip apa yang sahabatnya tulis dengan alis terangkat. "Nick? Nick si pangeran sekolah kelas sebelah itu?"
Selena tersenyum lebar. "Sahara menyukainya!"
Rona merah itu menjalar manis. Selena tertawa lebar mendapati Sahara yang malu, dan Rola yang tidak berhenti menggoda sahabatnya sampai Rola berlari dari taman.
Rola berlari mengejar. Di saat Selena menarik napas, menatap pohon rindang yang menjadi tempat favoritnya berkumpul bersama teman-teman, dengan pandangan menerawang.
Sahara menyukai Nick.
Satu-satunya laki-laki yang merebut perhatian Selena untuk pertama kalinya. Bukan membuat dadanya berdebar, dan Selena belum paham apa arti tatapan matanya untuk Nick.
Dan Sahara juga menyukai laki-laki yang sama.
***
Angan Selena tentang masa depannya semakin jauh terlihat. Semula, dia hanya ingin memiliki pendamping sesempurna Kamara Yuma, pria yang satu-satunya Selena cintai di hidupnya. Pahlawan. Cinta pertamanya.
Mungkin, Kamara Yuma tidak jauh berbeda dengan ayah lainnya yang ada. Dia mengayomi keluarga. Mencintai mereka sepenuh hati. Sesulit apa pun hidup bersama Kamara Kiara, Selena melihat bukti cinta itu terlalu kuat. Sampai-sampai, Selena berpikir kalau tidak akan ada pria di dunia ini seperti dia. Seperti Kamara Yuma.
Membaca novel romantis pun sama. Dia mencoba membaca di rumah. Dan berakhir sia-sia karena terdengar gerutuan dan tawa dari sang ibu di taman rumah. Selena benar-benar tidak bisa berkonsentrasi sampai dia menemukan perpustakaan umum di jantung kota.
Duduk di meja nomor enam. Dengan tatapan lurus ke depan, menemukan perputakaan diisi beragam orang yang ingin mencari ketenangan dalam membaca.
Selena kembali larut dalam bukunya.
Sampai dia mendengar kursi ditarik. Dan buku-buku bertumpuk ada di depannya. Dengan halaman yang tidak sedikit, Selena mengintip siapa gerangan yang duduk di depannya.
Selain laki-laki aneh dengan kacamata dan rambut klimis mencolok. Kesan pertama yang buruk, gerutu Selena dalam hati. Menilai penampilan laki-laki yang ia taksir di usia sama dengannya.
Dan yang lebih membuatnya heran adalah buku bacaan yang menurutnya, tidak seharusnya laki-laki itu baca di usia yang masih muda.
Selena menggeleng. Memilih untuk tidak memedulikan, dia kembali larut dalam novel romantis. Novel kelima yang ia baca bulan ini.
Dan selalu berakhir dengan adegan cringe. Membuat bulunya meremang. Pikiran-pikiran naif bersama konyol turut membayangi isi kepalanya. Selena hanya mendengus. Membayangkannya benar-benar menggelikan.
Apa isi novel ini menggambarkan kejadian sebenarnya?
Selena berpikir keras. Tentang isi novel yang didominasi percintaan antar lawan jenis. Karena Kamara Kiara, ibu kandungnya seakan membatasi Selena dari dunia luar. Memproteksi putri kecilnya untuk tidak bersentuhan dengan laki-laki di luar sana. Terutama mereka, yang tidak sepadan dengannya. Dengan marga yang dia sandang.
Membuat Selena lantas berhati-hati. Kalau memang sang ibu melarang, dia akan mencari laki-laki yang serupa dengan sang ayah.
Sesekali, lirikan Selena terarah pada laki-laki aneh yang tampak tenang. Begitu khidmat membaca buku berisi masalah ekonomi, dan bisnis dengan halaman yang membuat isi kepala Selena tercecer.
Siapa peduli?
Selena mengangkat alis saat tatapan laki-laki itu mengarah padanya. Membuat alisnya bertaut, dan segera laki-laki itu menunduk. Memutus pandangan di antara mereka.
Dan Selena hanya bisa menggeleng. Membatin dengan ekspresi acuh yang melumuri wajahnya.
Dasar aneh.
***
Rei Nick bersama Sahara.
Selena menatap keduanya. Saat Sahara menoleh, kemudian melambaikan tangan, Selena hanya bisa membalas dengan getir. Melambaikan tangan pada sahabat dekatnya dengan senyum.
Sebelum Rola datang. Berurusan bersama wali kelas mereka, dan menepuk bahunya dengan ekspresi masam. "Pasangan baru," acuhnya pada Sahara.
"Iri?"
"Dengki," sahut Rola. Menatap Selena dengan tarikan napas. "Kau juga kenapa naif sekali? Nick menyukaimu. Sangat. Dan sepertinya kau juga suka padanya. Tapi, kenapa malah Sahara yang mendapatkannya?"
Selena mengangkat bahu. "Mereka terlihat serasi. Dan siapa bilang aku suka pada Nick? Aku hanya tertarik. Karena rupa, mungkin?"
Rola menahan tawa. "Fisik memang utama, bukan?"
Selena menghela napas berat. Pandangan matanya menerawang pada Sahara yang menghilang dari jarak pandangnya.
"Semula, aku berpikir kalau Nick anak baik. Entahlah, hanya berpikir konyol untuk pertama kali," ujar Selena lamat. "Tapi, setelah seminggu dia berulang kali menggoda Sahara dan terang-terangan mengatakan cinta, aku tidak yakin."
"Tidak yakin?"
"Dia bukan laki-laki yang kuharapkan," bisik Selena. "Dia seperti hanya ingin bermain-main. Dan aku mencemaskan Sahara sekarang."
Rola terpaku. "Tapi, kau yang bilang sendiri pada Sahara untuk tidak menyerah. Dan memilih mengabaikan Nick, hanya untuk Sahara. Agar Sahara mendapatkan Nick."
Selena menghela napas. "Aku menyesal."
"Karena memberikan Nick?"
"Karena membuat Sahara jatuh cinta sedalam ini pada Nick," katanya lirih. "Kau tahu, saat seseorang benar-benar jatuh cinta, dia akan lupa segalanya. Dan yang dia fokuskan hanya cinta, pusat dunianya, dan tidak lagi berpikir lain."
"Selena," Rola menepuk bahunya. "Jangan berpikir terlalu jauh. Sahara baik-baik saja, kurasa."
Selena menatap Rola dengan pandangan penuh makna. "Aku berharap demikian," ujarnya lamat. Sebelum Selena berbalik, dan Rola mengekori di belakang.
***
Semakin Selena berharap, semakin tinggi pula dia rentan sakit hati dan tidak bisa menerima takdir yang sebenarnya.
Kamara Kiara beruntung memiliki Yuma dalam hidupnya. Tapi, apakah keberuntungan itu akan sama dengannya?
Selena mendesis. Melempar novel romantis yang dia punya ke tempat sampah. Sebelum, deretan novel lainnya mendarat di tempat yang sama. Dengan gerutuan keras, Selena menatap sinis pada tumpukan novel-novel yang tercecer di sekitar tempat sampah. Bibirnya mengetat, rahangnya mengeras. Tiba-tiba dia menjadi marah.
Teringat benar bahwa di dunia ini, manusia hidup bukan berdasarkan imajinasi. Melainkan, karena takdir. Dan novel itu, bukan gambaran nyata sesungguhnya.
Selena menggigit bibir bawahnya. Merasakan dentaman tak kasat mata saat dia melihat Rola menangis di kamar mandi sekolah. Dan Selena memekik kala itu, menemukan sang sahabat duduk dengan tubuh gemetar. Bersama luka yang memenuhi lengan dan punggungnya karena perbuatan kasar sang ayah yang kerap kali memukul saat dia mabuk.
Pertama, mereka yang mengucapkan janji sehidup-semati di atas altar, tidak selamanya akan setia di sisi pasangan masing-masing. Lambat laun, rasa bosan itu akan menggumpal. Dan berubah menjadi tindakan kasar hanya untuk melampiaskan.
Selena menunduk, memeluk Rola yang terus menangis. Berkata sembari mengutuk dunia, kalau dia tidak seharusnya diperlakukan seperti ini. Dia seharusnya merasa aman di rumah. Merasa nyaman di tempat satu-satunya dia mampu berlindung.
Dan Selena berpikir, kalau tidak akan ada Kamara Yuma lain di dunia ini.
Kemudian, di hari selanjutnya. Saat Selena menemukan Sahara duduk di taman. Tanpa Rola yang menemani. Melamun menatap pohon rindang, dan Selena mendekati Sahara yang duduk dengan bunga krisan putih di tangan.
"Sahara?"
Sahara lantas menoleh. Memberikan senyum terbaik untuk sahabat dekatnya. Dengan gerakan pelan, menepuk bangku yang kosong di sisinya, Selena duduk. Bersama Sahara yang menulis sesuatu tentang bunga.
Ibuku punya toko bunga di masa lalu. Sebelum dia meninggal karena menegak racun.
Selena terdiam. Menatap Sahara yang menyunggingkan senyum setelah dia kembali menulis.
Aku membenci ayah karena dia penyebab kematian ibu. Tapi, di saat ayah pergi dan memilih untuk membiarkanku sendiri bersama bibiku, aku mengerti. Kalau laki-laki di dunia ini, pada dasarnya sama. Sama-sama egois dan mau menang sendiri.
Selena belum seleGio membaca, sampai dia menemukan memo selanjutnya.
Sampai aku bertemu, Rei Nick. Aku pikir, dunia tidak seburuk itu, Selena. Dia benar-benar orang baik. Dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak jatuh cinta padanya. Untuk tidak mencintai terlalu dalam.
Selena tercekat. Mencelos dengan perasaan perih saat dia menatap mata Sahara yang berkaca-kaca.
Aku tidak salah, kan? Kalau suatu saat nanti, aku berharap kehidupanku akan membaik bersamanya? Bersama Nick?
Selena kembali diam. Menatap bunga krisan putih yang sedang Sahara genggam. "Kenapa kau malah menggenggam bunga krisan dan bukannya mawar?"
Sahara tersenyum pada Selena.
Ibuku menyukai krisan putih. Aku pun sama. Dulu, aku memiliki bunga ini di kebun belakang rumah kami. Sebelum ayah menjual rumah itu, dan membiarkanku sendiri.
Selena menipiskan bibir. "Kau, benar-benar menyukai Nick?"
Sampai rasanya dadaku membuncah!
Mengulum senyumnya, Selena menatap Sahara dengan tatapan penuh harap. "Kau layak bahagia. Jangan sungkan bicara padaku, kalau laki-laki itu menyakitimu. Kau paham?"
Sahara hanya mengangguk. Tersenyum kemudian dan menuliskan sesuatu dengan perasaan tulus.
Aku menyayangimu, Selena. Sangat.
Selena hanya tersenyum. Berusaha menahan airmatanya dengan perasaan kalut.
***
Selena berhenti membaca novel romantis itu. Karena menurutnya, membosankan. Dan alur cerita yang berakhir bahagia, jelas bukan berarti sebenarnya. Hanya di dalam novel, dan tidak semua terjadi di dunia nyata.
Selena tidak mau berekspetasi tentang kehidupannya di masa mendatang. Karena menurutnya, Kamara Yuma hanya satu-satunya. Dan pria lain di luar sana hanya b******n yang bersembunyi dalam cangkang berlabel baik-baik.
"Apa? Kenapa kau menyakiti Sahara?"
Selena terpaku. Menemukan Rola melabrak Rei Nick di kantin dengan bentakan kasar. Gadis itu tidak segan-segan melempar Nick dengan mangkuk kuah kari dan menampar pipinya. Sampai Rola mendapat perlakuan kasar dari teman Nick yang lain.
Saat Rola tersungkur, Selena berlari mendekat. Setelah Sahara dilarikan ke UKS, Selena menyusul mencari Rola. Dan menemukan akar masalah Sahara di sini, gadis itu langsung menyemburkan api kemarahannya pada Nick.
Selena terkesiap saat Rola mendapat tamparan yang sama dari Rei Nick. Semua orang terpaku melihatnya. Nick ... berani memukul perempuan?
"Rola!"
Selena berlari. Menyeberangi anak-anak lain yang melihat keributan, dan Rola mendesis. Berusaha bangun saat telapak tangannya terinjak.
"Lepas!"
Selena berdiri. Mematung menatap penampilan Rola yang kacau. Sebelum dia mendorong semua anak kurang ajar yang mengerubungi Rola, siap menghajarnya.
"Sekali lagi, kalian bertindak anarkis! Aku akan mengeluarkan kalian dari sekolah!"
Rola mendongak. Berdiri di sebelah Selena dengan tatapan luka. "Selena, Sahara terluka karena laki-laki ini. Karena Nick memukulnya sampai Sahara tidak sadarkan diri."
Selena mencelos tak percaya. Dia merangsek maju, memberikan Nick pukulan yang sama di wajahnya. Tidak sampai di sana, Selena bahkan melempar Nick dengan mangkuk sampai membuat laki-laki itu berdarah.
"Kau pikir kau siapa menyakiti perempuan? Kau lahir dari rahim perempuan, bukan? Tidak usah berlagak kau ini segalanya, pecundang."
Nick mendesis. Merasakan pedih yang amat sangat di pipinya karena pecahan mangkuk itu berhasil menggores kulit wajahnya.
"Kenapa kau marah?" Nick balas mendesis. "Sahara itu kekasihku. Aku berhak lakukan apa pun padanya!"
Kedua mata Selena melebar. Sebelum dia kembali menghajar laki-laki itu, Rola menahan tangannya. Menahan tangan Selena.
"Perempuan bukan barang yang bisa kau gunakan seenaknya!" Selena menghardik kasar. Menyembur kata-kata kasar pada Nick saat Rola menarik dirinya semakin jauh, dan gadis itu menangis setelahnya.
"Heh, Selena! Kau pikir laki-laki itu, bagaimana? Mereka akan melecehkanmu, akan meledekmu di depan teman-temannya. Terutama, mereka yang berhasil membuatmu bertekuk lutut dan menyerah. Setelah memberikan segalanya, dan hanya menunggu waktu untuk dibuang."
Lalu, semua tawa itu menggelegar sampai berdengung di telinga Selena. Membuat tubuh Selena membeku. Di saat Rola melepas pegangan tangannya, menatap Selena yang mematung, menahan airmatanya sendiri.
"Selena?"
Rola memegang tangan Selena yang gemetar.
Kedua, Selena membenci ekspetasinya sendiri tentang masa depan bersama pria yang ia cintai. Yang akan memenangkan hati dan tubuhnya. Seperti Kamara Yuma.
Itu tidak akan pernah ada.
Tidak akan pernah.
***
Selena terbaring di atas tumpukan salju dingin yang melumuri seragamnya. Dengan tangan terkepal, bercampur dingin yang membekukan tulang, dia hanya bisa diam. Sembari terpaku merasakan airmatanya sendiri yang mengalir.
Tubuhnya terasa mati rasa. Tidak lagi mampu merasa saat Selena mendengar langkah kaki mendekat. Dan Sahara, muncul di hadapannya dengan wajah sembab sehabis menangis.
"Kau terluka," bisik Selena lemah. Menemukan Sahara terluka pada sudut bibir dan lengannya. "Kenapa?"
Sahara masih menangis. Menatap Selena dengan tangan gemetar. Saat gadis itu membawa Selena duduk, menatap lekat pada bekas luka Selena, dan pada hidung yang mengeluarkan darah sampai aliran itu membeku.
Jemari Selena tertahan menemukan Sahara menangis, sembari berlutut di depannya. Saat Selena menemukan luka itu membekas di kedua lutut Sahara.
"Siapa yang lakukan ini, Sahara?"
Sahara menggeleng. Dengan tarikan napas, dia menunduk mencoba menahan isakannya sendiri.
Saat Selena meremas tangan Sahara, menemukan telapak tangan itu terlalu pucat, Selena mengeluarkan sarung tangan yang tersembunyi di saku roknya. Memberikan pada Sahara yang membeku.
"Aku tidak tahu, kenapa mereka mencaciku, dan setelah itu memukulku dengan keras. Apa karena aku menolak pernyataan cinta salah satu laki-laki itu?" Selena tertawa sembari memasangkan sarung tangan itu pada Sahara. "Apa yang aku lakukan selama ini adalah kesalahan?"
Kepala Sahara menggeleng. Airmata tidak berhenti mengalir saat Selena seleGio memakaikan sarung tangan berwarna biru langit itu pada tangan Sahara.
"Bagaimana rasanya? Kau pasti baik-baik saja, Sahara."
Sahara menuliskan sesuatu di memonya. Sebelum dia menggeleng, dan memberi Selena gerakan tangan dengan bibir gemetar.
Aku ingin pergi.
Airmata Selena kembali mengalir. "Kau tidak boleh pergi, Sahara. Kenapa kau harus pergi?"
Sahara menunduk. Menatap perutnya sendiri sebelum Selena termangu, menatap arti mata Sahara dengan tatapan terluka.
"Ada apa denganmu, Sahara?"
Kepala Sahara menggeleng. Saat Selena meremas tangannya, dan gadis itu hanya sanggup membalas dengan dekapan, membuat Selena menangis di bahunya. Dan Sahara hanya diam, berusaha keras menahan airmatanya sendiri.
***
"Kenapa sepi sekali?"
Selena menggeleng. Setelah membayar ongkos taksi yang mereka tumpangi, Rola memutari mobil. Membuka pagar kayu itu dan terdiam.
"Selena, apa Sahara tidak ada di dalam? Kenapa berantakan sekali? Seperti rumah ini tidak lagi ditinggali?"
Selena menggeleng. Dia membawa kue ulang tahun bersama kado yang Rola pegang untuk memberi kejutan Sahara. Karena mereka memasuki liburan setelah ujian, Selena dan Rola berencana merayakan ulang tahun sahabat mereka di rumah.
Rola bergegas mengetuk pintu. Dan tidak menemukan ada suara di dalam, Rola membuka pintu itu, terkesiap menemukan pemandangan ruang tamu yang sepi. Lalu, pada perabotan yang beberapa lagi tidak ada pada tempatnya.
"Ara? Sahara?"
Selena menaruh kue itu di atas meja makan. Mencari korek api untuk membakar lilin itu, sebelum dia bersama Rola mencari pintu kamar Sahara, dan bersiap berteriak kejutan untuknya.
Rola mendorong pintu. Dan Selena berteriak dengan suara ceria. "Kejutaaan!"
Lalu, semuanya gelap. Saat Rola menyalakan lampu, dan Selena menjatuhkan kue ulang tahunnya di atas lantai. Karena melihat Sahara yang tidak lagi bernyawa dengan mata terpejam.
"Sahara!"
Rola menerjang. Berusaha menarik sahabatnya dengan tangan gemetar. Airmata Rola mengalir, di saat Selena masih membeku. Memandang Sahara yang tergantung di langit-langit kamar. Dengan kursi kayu yang tergeletak di atas lantai.
"Selena, Selena," Rola memanggil namanya. Berusaha menarik Sahara dengan kedua tangannya. "Selena, kenapa dengannya ..."
Selena melihat kelopak bunga krisan putih di atas ranjang. Memenuhi ranjang sampai kelopak itu layu, dan mati. Lalu, pada bunga krisan putih yang tergeletak di atas meja belajar, dan di atas lantai tempat Sahara membunuh dirinya sendiri.
Rola bergerak melepas tali itu dengan gunting di meja belajar. Dengan tangan gemetar, dan saat tubuh kaku Sahara jatuh, Selena membawanya ke pangkuan. Menyadari kalau Sahara telah pergi sejak berhari-hari yang lalu, membuat tubuh itu membiru dan wajahnya pucat.
Rola berlutut. Di depan Sahara yang tak lagi bernyawa. Raga gadis itu di depan mereka, tetapi nyawa Sahara telah pergi.
"Sahara ..."
Selena mengeluarkan sarung tangannya. Karena menemukan tubuh Sahara yang dingin, dan telapak tangan gadis itu memucat.
"Selena, berhenti."
Rola mendorong Selena yang ingin memakaikan sarung tangan pada Sahara. Menangis sembari menyadarkan Selena yang masih terisak dalam diam. "Berhenti, Selena!"
"Sahara kedinginan, Rola!"
Bahu Rola gemetar. Saat dia menunduk menatap Sahara yang damai dengan piyama tidurnya. Piyama tidur yang Selena belikan untuknya dan untuk Rola.
"Apa yang terjadi, Sahara?"
Selena tidak kuasa lagi. Dia berlutut, di depan Sahara dan menangis sekeras mungkin. Membuat Rola membeku, menatap hancurnya Kamara Selena untuk waktu yang lama.
***
Lima tahun kemudian ...
Selena menatap datar pada pemandangan halte yang sepi. Sesaat, matanya melirik pada jam yang melingkari pergelangan tangan. Kemudian, mendesah untuk kesekian kalinya di siang ini.
Kepalanya tertunduk. Menatap pemandangan Tokyo di siang hari yang padat. Selena berbaur bersama mobil lain yang terparkir di pinggir jalan, tanpa sama sekali mau keluar atau sekedar menampakkan diri.
Pendingin di dalam mobil menyala lebih dingin. Di saat salju turun membasahi permukaan kaca mobil. Membuat sweater yang ia kenakan rasanya tidak mampu menahan hawa dingin yang menusuk tulang.
Selena menghela napas. Saat ponselnya berdenting dan satu pesan masuk mampir di kotak pesan.
Dari Rola.
Kau di mana?
Selena memilih untuk tidak membalas. Pandangan matanya terlempar ke arah halte, yang tidak jauh dari perpustakaan Tokyo. Dan ini satu-satunya halte yang menjadi akses terdekat ke perpustakaan umum terbesar di Jepang itu.
Mengembuskan napas panjang, Selena menyilangkan kaki di dalam mobil Mercedes miliknya. Selama dia berkuliah, dia memakai mobil yang sama sebagai transportasi utama untuknya berkendara dari rumah menuju kampus.
Tidak ada musik yang diputar di dalam mobil. Benar-benar senyap dan terasa sunyi. Selena menatap datar pada pemandangan butiran salju yang turun. Dan kembali terdiam, mengenang luka yang sama di saat salju turun.
Bibirnya menipis. Saat Selena menyentuh memo kecil yang tampak kusut karena remasan tangannya, sebelum rahangnya mengeras. Dan Selena terdiam selama beberapa saat, untuk menarik napas panjang.
Namanya, Marcuss Damien. Laki-laki yang duduk di depanmu. Di meja nomor enam. Yang diam-diam memperhatikanmu. Wajah tersipunya sangat menggemaskan. Dan dia, sepertinya orang baik.
Selena menatap tulisan tangan Sahara dalam diam. Ada di antara ratusan tulisan tangan lain yang Sahara simpan di kotak kenangannya.
Menghela napas, Selena kembali menoleh. Terpaku menatap sosok laki-laki yang Sahara tulis, dengan pandangan menilai dingin.
Alis Selena bertaut. Pria itu tidak memakai kacamata. Selena mengernyit, menatap sosok Marcuss Damien yang baru saja kembali dari perpustakaan dan berdiri di sebelah tiang penyangga halte untuk menunggu bis umum.
Selena terdiam. Menurunkan kaca mobilnya untuk melihat wajah Damien tanpa terhalangi kaca mobilnya. Dengan ekspresi datar, pandangan mata itu benar-benar menilai Damien dengan bibir menipis.
Kenapa Sahara mengenalnya?
Selena mengembuskan napas. Menaikkan kaca mobilnya, lalu kembali menyimpan kertas memo itu di tempat semula. Sebelum Selena menggeleng, puas menuntaskan rasa ingin tahunya, dan dia bergerak pergi memutar kemudinya menjauh dari bibir jalan.
Sepertinya, dia juga sama saja. Sahara, tidak ada laki-laki baik di dunia ini. Kalau pun ada, Tuhan sudah mengirimkan satu untuk ibuku. Dan tidak ada lagi yang tersisa untukku.
Aku tidak akan berharap pada apa pun.
Selamat tinggal, pernikahan.